Kolom
Jebakan YOLO: Saat Hidup Hanya Sekali Berujung Utang yang Menghantui
You Only Live Once atau yang lebih populer dengan singkatan YOLO telah menjadi mantra magis bagi generasi muda saat ini. Prinsip hidup yang menekankan untuk menikmati momen masa kini tanpa perlu terlalu mencemaskan hari esok ini sejatinya punya sisi positif, seperti berani mengambil risiko dan mengeksplorasi hal-hal baru. Akan tetapi, ketika filosofi YOLO ini berkelindan dengan budaya konsumerisme akut dan kemudahan teknologi finansial, sebuah jebakan baru tercipta: fenomena kecanduan paylater di kalangan mahasiswa.
Di era digital ini, mahasiswa tidak lagi sekadar berhadapan dengan tumpukan tugas kuliah, melainkan juga gempuran tren gaya hidup yang tiada habisnya, mulai dari konser musisi internasional, nongkrong di kafe estetik, hingga gawai keluaran terbaru. Semua hal tersebut dikemas sedemikian rupa di media sosial, menciptakan FOMO (Fear of Missing Out) yang akut. Di sinilah fitur paylater (beli sekarang, bayar nanti) hadir layaknya pahlawan penolong yang siap mengabulkan segala keinginan dalam sekejap mata.
Ilusi Kemudahan di Ujung Jari
Bagi seorang mahasiswa dengan uang saku pas-pasan, paylater menawarkan ilusi kekuatan finansial. Proses pengajuan yang hanya bermodalkan KTP dan swafoto, tanpa jaminan, dan langsung disetujui dalam hitungan menit, membuat fitur ini jauh lebih memikat ketimbang kartu kredit konvensional.
Dengan jargon-jargon manis seperti "Beli sekarang, bayar bulan depan" atau "Cicilan 0%", mahasiswa sering kali lupa bahwa uang yang mereka belanjakan tetaplah utang. Kemudahan ini mematikan daya kritis mereka dalam membedakan antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Konser dibeli dengan paylater, baju baru untuk konten dibeli dengan paylater, bahkan kopi susu harian pun tak luput dari sistem cicilan ini. Semua demi memuaskan hasrat YOLO dan menjaga gengsi di depan teman sebaya.
Sisi Gelap: Lingkaran Setan yang Mencekik
Sisi gelap dari kemudahan ini baru akan terasa ketika tenggat waktu tagihan tiba. Banyak mahasiswa yang belum memiliki penghasilan tetap mulai kelimpungan. Uang saku bulanan dari orang tua yang seharusnya cukup untuk biaya hidup dan kuliah, terpaksa dipotong habis-habisan untuk membayar cicilan beserta bunga dan biaya admin yang kerap kali tersembunyi (hidden fees).
Ketika uang saku tidak lagi mencukupi untuk menutup tagihan, di sinilah petaka sesungguhnya dimulai. Sebagian mahasiswa mulai terjebak dalam praktik gali lubang tutup lubang. Mereka mengaktifkan aplikasi paylater atau pinjaman online (pinjol) lain demi membayar tagihan di aplikasi pertama.
Dampak psikologisnya sangat nyata. Tekanan dari debt collector, kecemasan harian karena dikejar tenggat waktu, hingga rasa bersalah yang mendalam membuat konsentrasi belajar mahasiswa buyar. Tidak sedikit kasus di mana indeks prestasi kumulatif (IPK) mahasiswa merosot tajam, hubungan dengan orang tua merenggang karena penagihan utang sampai ke rumah, bahkan ada yang terpaksa putus kuliah akibat terlilit utang hingga puluhan juta rupiah.
Menghancurkan Masa Depan Sejak Dini
Dampak yang paling mengerikan dari kecanduan paylater di usia muda sebenarnya bukan sekadar dompet yang kering, melainkan rusaknya rekam jejak finansial mereka di masa depan. Setiap aktivitas pinjaman digital yang legal tercatat dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK (dahulu dikenal sebagai BI Checking).
Banyak mahasiswa yang abai atau tidak tahu bahwa riwayat gagal bayar (default) pada aplikasi paylater akan membuat skor kredit mereka buruk. Akibatnya, ketika mereka lulus, bekerja, dan ingin mengajukan kredit yang krusial di masa depan—seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), atau modal usaha—pengajuan mereka akan langsung ditolak oleh perbankan. Gaya hidup YOLO yang dinikmati selama beberapa bulan di masa kuliah, taruhannya adalah kesulitan finansial selama bertahun-tahun setelah lulus.
Memutus Rantai Candu Paylater
Menyalahkan teknologi sepenuhnya tentu tidak bijak. Paylater pada dasarnya hanyalah sebuah alat finansial. Yang menjadi masalah adalah rendahnya literasi keuangan di kalangan mahasiswa yang berpadu dengan kontrol diri yang lemah.
Untuk memutus rantai jebakan ini, diperlukan langkah konkret:
- Edukasi Literasi Keuangan: Kampus harus mulai aktif memberikan edukasi mengenai manajemen keuangan personal dan bahaya laten pinjaman digital.
- Hapus Aplikasi: Jika dirasa kontrol diri masih lemah, menghapus aplikasi yang menyediakan fitur paylater adalah langkah preventif terbaik.
- Ubah Pola Pikir YOLO: Hidup memang hanya sekali, justru karena hanya sekali, masa depan tidak boleh digadaikan demi kesenangan sesaat.
Teknologi harusnya mempermudah hidup, bukan menjajah masa depan. Menikmati masa muda adalah hal yang sah-sah saja, akan tetapi pastikan kebahagiaan hari ini tidak dibayar dengan air mata di hari esok. Jangan sampai jargon You Only Live Once berubah makna menjadi You Only Limit Options karena masa depanmu telah tergadai oleh tumpukan utang paylater.