Kolom
Krisis Introspeksi Pejabat: Mengapa Pemerintah Sulit Mengakui Kesalahan?
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mempersilakan masyarakat mencari negara lain jika merasa masa depan Indonesia suram ramai dibahas di media sosial.
Dalam pidatonya di puncak peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 Tahun 2026, Prabowo meminta masyarakat yang masih ragu terhadap masa depan Indonesia untuk tetap mendukung upaya pemerintah membangun bangsa.
"Yang ragu-ragu silakan duduk di rumah aja. Yang merasa Indonesia suram, silakan kalau mau cari negara lain. Silakan, tidak ada yang melarang," kata Prabowo, dikutip Selasa (14/7/2026).
Pernyataan tersebut kemudian memunculkan perdebatan karena sebagian masyarakat melihatnya sebagai bentuk respons yang kurang tepat terhadap kritik publik.
Alih-alih mencari tahu alasan di balik munculnya kekecewaan rakyat, kalimat tersebut dianggap mencerminkan sikap defensif yang kerap muncul ketika pejabat berhadapan dengan kritik.
Lantas, mengapa introspeksi menjadi hal yang begitu sulit dilakukan oleh para pemegang kekuasaan?
Kritik Bukan Berarti Tidak Cinta Negara
Menurut saya, salah satu hal yang sering disalahpahami oleh pejabat adalah anggapan bahwa kritik terhadap pemerintah berarti kritik terhadap negara. Padahal, keduanya merupakan hal yang berbeda.
Seseorang bisa tetap mencintai Indonesia sekaligus merasa kecewa terhadap kebijakan pemerintah. Bahkan, kritik sering kali muncul justru karena masyarakat masih peduli dan berharap negaranya menjadi lebih baik.
Jika seseorang benar-benar tidak peduli, mereka mungkin tidak akan repot menyampaikan kritik. Mereka tidak akan mempertanyakan kebijakan, tidak akan mengawasi kinerja pemerintah, dan tidak akan memperdebatkan arah masa depan bangsa.
Begitu juga dengan fenomena warga yang mengungkapkan keinginan mencari kehidupan di negara lain. Banyak yang sebenarnya masih ingin tinggal dan membangun kehidupan di tanah kelahirannya, tetapi merasa kecewa karena berbagai masalah yang menggunung belum menemukan jalan keluar.
Ada yang khawatir dengan sulitnya mencari pekerjaan, meningkatnya biaya hidup, ketimpangan ekonomi, hingga kebijakan pemerintah yang dianggap belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat.
Pemerintah Perlu Belajar Mendengar Kritik
Masalah terbesar dalam komunikasi antara pemerintah dan masyarakat muncul ketika kritik tidak lagi dianggap sebagai masukan, melainkan ancaman.
Ketika ada keluhan, respons yang muncul terkadang lebih banyak berupa pembelaan daripada upaya memahami penyebabnya.
Padahal, seorang pemimpin tidak hanya diuji ketika mendapat dukungan, tetapi juga ketika menghadapi kritik. Kemampuan untuk menerima masukan, mengakui kekurangan, dan memperbaiki kesalahan merupakan bagian penting dari kepemimpinan.
Sayangnya, introspeksi sering menjadi hal yang sulit dilakukan oleh sebagian pejabat. Ada kecenderungan untuk mencari alasan di luar diri sendiri ketika muncul kritik. Rakyat dianggap kurang bersyukur, kurang memahami kondisi, atau bahkan dianggap hanya suka mencaci.
Padahal pemerintah memiliki posisi yang berbeda dengan masyarakat biasa. Mereka memiliki kewenangan, sumber daya, dan tanggung jawab yang lebih besar untuk menyelesaikan persoalan publik.
Oleh karena itu, wajar jika masyarakat memiliki ekspektasi dan memberikan kritik ketika merasa ada sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Ketika seorang pejabat menanggapi kritik dengan tantangan atau sikap defensif, yang muncul bukan penyelesaian masalah, melainkan semakin lebarnya jarak antara pemerintah dan rakyat.
Jabatan Publik Membutuhkan Kerendahan Hati
Menjadi pejabat publik berarti menerima tanggung jawab untuk melayani masyarakat. Kekuasaan bukan alasan untuk merasa selalu benar, melainkan amanah yang menuntut kemampuan untuk terus mengevaluasi diri.
Pemimpin yang kuat bukanlah pemimpin yang tidak pernah dikritik. Justru, pemimpin yang kuat adalah mereka yang mampu menghadapi kritik tanpa kehilangan kendali.
Mereka memahami bahwa tidak semua kritik adalah serangan, dan tidak semua perbedaan pendapat harus dianggap sebagai bentuk permusuhan.
Rakyat juga tidak menuntut pemerintah menjadi sempurna. Kesalahan dalam pemerintahan bisa saja terjadi karena mengelola negara bukan perkara mudah.
Namun, yang diharapkan masyarakat adalah adanya sikap terbuka untuk memperbaiki diri ketika ada kebijakan atau keputusan yang dianggap bermasalah.
Sebab, negara bukan hanya milik mereka yang sedang duduk di kursi kekuasaan. Negara juga milik rakyat yang bekerja, membayar pajak, mengikuti aturan, dan ikut menjaga kehidupan bangsa.