Kolom
Spanyol Sudah di Final, Siapa Kini Favorit Juara Piala Dunia 2026?
Semifinal pertama Piala Dunia 2026 telah menghasilkan satu kepastian. Spanyol menjadi tim pertama yang memastikan diri melaju ke partai final setelah mengalahkan Prancis dengan skor 2-0. Hasil ini sekaligus mengubah peta persaingan menuju gelar juara dunia.
Sebelum pertandingan berlangsung, terus terang saya menempatkan Prancis sebagai kandidat terkuat untuk menjadi juara. Namun, setelah melihat bagaimana Spanyol bermain, prediksi tersebut perlu direvisi. Kini, menurut saya, Spanyol justru menjadi tim yang paling berpeluang mengangkat trofi.
Pertandingan melawan Prancis sebenarnya memperlihatkan bahwa Kylian Mbappé sudah berusaha melakukan segala yang ia bisa sebagai pemimpin tim. Bahkan dalam beberapa momen, ia terlihat bukan hanya bermain sebagai penyerang, tetapi juga mengambil peran layaknya pelatih di lapangan.
Salah satu contohnya terjadi saat tendangan penalti Spanyol yang berbuah gol pembuka. Mbappé tampak memberi isyarat kepada penjaga gawang mengenai arah tendangan lawan. Kiper memang bergerak ke sisi yang ditunjukkan Mbappé. Namun, yang mungkin kurang diperhatikan adalah Mbappé sebenarnya tidak hanya menunjuk ke kiri, melainkan sedikit ke kiri atas. Ternyata bola memang meluncur ke arah tersebut sehingga gagal dibendung oleh sang penjaga gawang.
Sepanjang pertandingan Mbappé juga beberapa kali terlihat memberikan instruksi taktis langsung kepada rekan-rekannya. Akan tetapi, sepak bola tetaplah permainan kolektif. Instruksi sebaik apa pun tidak akan berarti apabila tidak dapat dijalankan secara serempak dan presisi oleh seluruh anggota tim.
Di situlah letak perbedaan kedua tim. Spanyol tampil sebagai sebuah kesatuan yang sangat padu. Organisasi permainan mereka berjalan hampir tanpa cela, baik ketika menyerang maupun bertahan. Sebaliknya, Prancis beberapa kali kehilangan koordinasi sehingga tidak mampu mengimbangi ritme permainan lawan.
Skor 2-0 menjadi pengingat bahwa sepak bola tidak dimenangkan oleh satu kepala, melainkan oleh sebelas pemain yang mampu berpikir dan bergerak sebagai satu tim.
Kini perhatian beralih kepada semifinal kedua antara Inggris dan Argentina. Pertandingan ini menurut saya jauh lebih sulit diprediksi karena kedua tim memiliki kualitas yang relatif seimbang.
Inggris tampil sangat disiplin sepanjang turnamen. Organisasi pertahanan mereka rapi, transisi berjalan baik, dan mereka memiliki banyak pemain yang mampu menentukan pertandingan pada momen-momen krusial. Di sisi lain, Argentina datang dengan modal sebagai juara bertahan. Mental juara yang dibangun sejak menjuarai Copa América dan Piala Dunia sebelumnya membuat tim asuhan Lionel Scaloni selalu berbahaya dalam pertandingan sistem gugur.
Terus terang, saya memang memiliki sedikit kecenderungan kepada tim-tim Amerika Latin, termasuk Argentina. Namun, saya bukan pendukung yang fanatik. Jika Argentina kalah, saya tetap menikmati pertandingan hingga final. Yang berubah hanyalah saya biasanya tidak ikut menyaksikan seremoni juara apabila tim yang saya dukung gagal menjadi kampiun.
Apabila Inggris berhasil mengalahkan Argentina, menurut saya Spanyol akan menjadi favorit utama di partai final. Permainan mereka saat ini terlihat paling matang dibandingkan tiga semifinalis lainnya.
Sebaliknya, jika Argentina yang berhasil menyingkirkan Inggris, saya justru melihat peluang Albiceleste menjadi juara kembali terbuka cukup besar. Pengalaman, mental juara, serta kemampuan mereka memainkan pertandingan besar bisa menjadi modal penting menghadapi Spanyol.
Selain itu, terdapat faktor psikologis dan taktis yang menarik. Banyak pemain inti Spanyol berasal dari Barcelona atau tumbuh dalam filosofi permainan yang sama. Di sana ada Joan García, Pau Cubarsí, Eric García, Gavi, Pedri, Dani Olmo, Ferran Torres, hingga Lamine Yamal. Ditambah lagi Rodri yang selama ini menjadi motor permainan Manchester City dalam sistem Pep Guardiola yang masih banyak dipengaruhi filosofi Barcelona.
Lionel Messi tentu sangat memahami karakter permainan semacam itu. Sebaliknya, sebagian besar pemain Spanyol juga tumbuh dengan menjadikan Messi sebagai salah satu figur terbesar dalam sejarah Barcelona. Faktor-faktor semacam ini bisa memberi warna tersendiri apabila kedua tim benar-benar bertemu di partai final.
Lebih dari itu, kemenangan Argentina juga akan membuka peluang lahirnya sejarah baru. Sejak berakhirnya era Piala Jules Rimet, belum ada satu pun negara yang mampu mempertahankan gelar juara Piala Dunia. Argentina memang pernah mencapai final berturut-turut pada 1986 dan 1990, sementara Brasil melakukannya pada 1994, 1998, dan 2002. Namun, tidak ada yang berhasil mempertahankan status sebagai juara dunia.
Karena itulah, semifinal kedua menjadi sangat menentukan. Jika Inggris menang, saya menjagokan Spanyol untuk menjadi juara. Namun, apabila Argentina yang lolos ke final, saya justru melihat peluang mereka mempertahankan gelar lebih besar daripada sebelumnya.
Apa pun hasilnya nanti, satu hal yang saya harapkan tetap sama. Semoga dua pertandingan terakhir Piala Dunia 2026 berlangsung terbuka, menghadirkan banyak gol, dan memberikan penutup yang layak bagi sebuah turnamen sepak bola terbesar di dunia. Pada akhirnya, sepak bola selalu menjadi kisah tentang kerja sama, keberanian, dan kemampuan sebuah tim mengubah sejarah di atas lapangan.