Kolom

Bukan Terapis Keluarga: Ketika Guru Juga Diminta Memperbaiki Luka di Rumah

Bukan Terapis Keluarga: Ketika Guru Juga Diminta Memperbaiki Luka di Rumah
Ilustrasi Guru (Unsplash/Fajar Herlambang)

Ketika seorang anak mulai menunjukkan perubahan perilaku di sekolah seperti mudah marah, sulit berkonsentrasi, tidak disiplin, atau bahkan melakukan perundungan. Guru sering menjadi pihak pertama yang menerima keluhan sekaligus tuntutan.

Tidak sedikit orang tua datang dengan harapan agar guru dapat memperbaiki sikap anak selama berada di sekolah. Bahkan dalam beberapa kasus, guru diminta ikut menyelesaikan permasalahan siswa di rumah

Permintaan seperti itu lahir dari niat baik. Orang tua berharap guru dapat membantu anak melewati hari yang berat. Namun, persoalan muncul ketika bantuan tersebut berubah menjadi pelimpahan tanggung jawab. Guru akhirnya diharapkan menyelesaikan persoalan yang akar masalahnya justru berada di rumah.

Sekolah memang merupakan tempat pendidikan. Akan tetapi, pendidikan tidak dimulai dari ruang kelas. Pendidikan pertama seorang anak berlangsung di rumah, melalui cara orang tua berbicara, menyelesaikan konflik, mengendalikan emosi, serta memperlakukan anggota keluarga. Sebelum mengenal guru, anak telah lebih dulu mengenal ayah dan ibunya. Sebelum belajar membaca buku, anak telah belajar membaca perilaku orang tuanya.

Banyak penelitian dalam bidang psikologi perkembangan menunjukkan bahwa lingkungan keluarga memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter anak. Cara orang tua berkomunikasi, memberikan perhatian, menetapkan batasan, hingga menyelesaikan konflik menjadi contoh yang setiap hari diserap oleh anak. Karena itu, ketika muncul masalah perilaku di sekolah, tidak selalu adil apabila seluruh tanggung jawab diarahkan kepada guru.

Guru memiliki peran penting dalam mendidik, membimbing, dan menciptakan lingkungan belajar yang sehat. Namun, waktu kebersamaan guru dengan seorang anak sangat terbatas dibandingkan waktu yang dihabiskan anak bersama keluarganya. Dalam sehari, sebagian besar pembentukan kebiasaan, nilai, dan pola pikir tetap terjadi di rumah.

Ironisnya, ada kecenderungan sebagian orang tua menjadikan sekolah sebagai tempat "menitipkan" seluruh proses pendidikan. Ketika anak sulit diatur, guru diminta membentuk disiplin. Ketika anak tidak sopan, guru diminta memperbaiki adabnya. Ketika anak mengalami ledakan emosi akibat konflik keluarga, guru diminta menjadi penengah. Semua harapan itu seolah menempatkan guru sebagai penyelesai segala persoalan, padahal guru juga memiliki puluhan bahkan ratusan siswa lain yang membutuhkan perhatian yang sama.

Hal yang lebih memprihatinkan adalah ketika orang tua langsung menyalahkan guru setiap kali anak mengalami masalah akademik atau perilaku. Padahal, sebelum menyimpulkan bahwa sekolah gagal mendidik, ada baiknya setiap keluarga terlebih dahulu bertanya: bagaimana suasana di rumah? Apakah anak merasa didengar? Apakah ia tumbuh dalam lingkungan yang penuh penghargaan atau justru penuh bentakan? Apakah orang tua lebih sering menjadi teladan atau sekadar pemberi perintah?

Tentu, tidak semua persoalan anak berasal dari keluarga. Lingkungan pergaulan, media sosial, tekanan akademik, hingga kondisi psikologis juga dapat memengaruhi perkembangan mereka. Demikian pula tidak semua orang tua bersikap seperti yang digambarkan di atas. Banyak keluarga yang telah bekerja sama dengan sekolah secara positif dan menjadi mitra terbaik bagi guru. Karena itu, yang dibutuhkan bukanlah saling menyalahkan, melainkan pembagian peran yang jelas.

Sekolah dan keluarga seharusnya menjadi dua pilar yang saling menguatkan. Guru bertugas mengembangkan kemampuan akademik, karakter, dan keterampilan sosial anak di lingkungan sekolah. Orang tua bertanggung jawab membangun fondasi moral, rasa aman, kasih sayang, dan kebiasaan sehari-hari di rumah. Ketika salah satu pilar melemah, pilar yang lain akan bekerja jauh lebih berat.

Tidak ada guru yang mampu menggantikan peran ayah dan ibu. Sebagus apa pun sekolah, anak tetap akan pulang ke rumah yang sama setiap hari. Jika rumah menjadi tempat yang penuh perhatian, komunikasi, dan keteladanan, tugas guru akan jauh lebih ringan. Namun, jika rumah justru menjadi sumber luka yang terus dibawa anak ke sekolah, maka guru hanya akan menjadi penolong sementara, bukan penyelesai utama.

Pendidikan terbaik lahir bukan ketika orang tua dan guru saling melempar tanggung jawab, melainkan ketika keduanya menyadari bahwa membesarkan seorang anak adalah amanah yang harus dijalankan bersama, dengan porsi tanggung jawab yang tidak dapat dipertukarkan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda