Kolom
Wonderwall, Oasis, dan Mimpi Inggris Menjuarai Piala Dunia 2026
Because maybe
You're gonna be the one that saves me
And after all
You're my wonderwall.
Saya merinding mendengar para suporter Inggris menyanyikan lagu itu bersama-sama setelah timnas mereka mengalahkan Norwegia 2-1 di perempat final Piala Dunia 2026.
Di tengah hiruk-pikuk stadion, lagu itu terdengar begitu akrab. Rasanya seperti kembali ke akhir dekade 1990-an, ketika Oasis masih menjadi salah satu band terbesar di dunia dan Wonderwall hampir selalu diputar di mana-mana. Ada lagu yang hanya enak didengar, tetapi ada pula lagu yang mampu membawa kita kembali ke suatu masa. Bagi saya, Wonderwall termasuk jenis yang kedua.
Sebenarnya saya sudah akrab dengan lagu ini sejak 1996. Wonderwall merupakan salah satu lagu dalam album What's the Story (Morning Glory)? Album itu berisi banyak lagu yang bagus, tetapi Wonderwall selalu punya tempat yang berbeda di hati saya.
Saat itu video klipnya hampir selalu diputar di berbagai stasiun televisi musik, terutama MTV. Saya bahkan punya kaset albumnya. Hampir semua lagunya enak didengar, tetapi Wonderwall terasa paling menenangkan bagi jiwa anak muda yang sedang gemar memberontak seperti saya waktu itu.
Lagu ini dinyanyikan Liam Gallagher dengan suara khasnya yang serak dan berkarakter. Yang menulisnya adalah Noel Gallagher, kakak Liam, yang juga memainkan gitar akustik pada lagu tersebut.
Judul Wonderwall sendiri sering dikaitkan dengan Wonderwall Music, album solo George Harrison, mantan personel The Beatles. Memang bukan rahasia lagi bahwa Noel dan Liam Gallagher adalah penggemar berat The Beatles. Pengaruh band legendaris itu terasa cukup kuat dalam musik Oasis. Mungkin karena itu pula lagu-lagu Oasis terdengar sederhana, tetapi mampu bertahan melintasi generasi.
Banyak orang memaknai Wonderwall sebagai lagu tentang seseorang yang menjadi tempat bersandar, sosok yang mampu menyelamatkan kita dari pergulatan dengan diri sendiri. Mungkin karena itulah liriknya terasa begitu dekat dengan banyak pendengarnya. Hampir setiap orang tampaknya pernah memiliki "wonderwall"-nya masing-masing, entah itu seorang sahabat, pasangan, keluarga, atau bahkan sebuah lagu yang selalu diputar ketika hidup terasa terlalu berat.
Saya jadi teringat Jude Bellingham dan Harry Kane. Dalam beberapa pertandingan fase gugur, keduanya berkali-kali menjadi penyelamat Inggris. Tidak heran jika penggalan lirik "You're gonna be the one that saves me" terasa begitu pas ketika dinyanyikan para suporter.
Lirik Wonderwall sendiri sederhana dan mudah diingat. Barangkali itulah salah satu alasan mengapa lagu ini kemudian menjadi semacam unofficial anthem bagi para pendukung tim nasional Inggris. Lagu ini tidak terdengar seperti mars olahraga, tetapi justru karena kesederhanaannya ribuan orang dapat menyanyikannya bersama-sama tanpa terasa dipaksa.
Bagi saya pribadi, lagu ini memang pernah menjadi penyelamat, meskipun dalam arti yang berbeda.
Saat remaja, setiap kali pulang ke rumah atau ke kamar kos dengan hati penuh kekesalan, saya sering memutar Wonderwall. Setelah seharian dipenuhi rasa tidak puas atau emosi yang sulit dijelaskan, lagu itu pelan-pelan membuat kepala terasa lebih ringan. Masalahnya memang tidak hilang, tetapi setidaknya saya bisa berdamai dengan diri sendiri. Barangkali di situlah letak kekuatan sebuah lagu. Ia memang tidak mengubah kenyataan, tetapi kadang mampu mengubah cara kita memandang kenyataan itu.
Pengalaman lain yang membuat saya semakin menyukai lagu ini terjadi ketika tinggal di Inggris pada 2017-2018. Saya merasakan sendiri keramahan dan kebaikan banyak orang di sana kepada kami yang datang dari Indonesia. Pengalaman itu meninggalkan kesan yang sulit saya lupakan. Karena pernah merasakan hidup di sana, saya sedikit banyak memahami mengapa sepak bola begitu berarti bagi masyarakat Inggris. Bagi mereka, sepak bola bukan sekadar pertandingan selama sembilan puluh menit, melainkan bagian dari identitas dan kebanggaan nasional.
Saya juga masih ingat bahwa setiap kali tim nasional Inggris meraih kemenangan penting, masyarakat merayakannya dengan cara mereka sendiri. Ketika tinggal di sana, saya sempat menyaksikan kegembiraan itu setelah Inggris memenangi salah satu pertandingan kualifikasi menuju Piala Dunia. Mungkin skalanya tidak sebesar jika mereka menjadi juara dunia, tetapi euforianya sudah terasa. Dari pengalaman itulah saya bisa membayangkan betapa luar biasanya suasana di Inggris jika Harry Kane, Jude Bellingham, dan kawan-kawan benar-benar berhasil mengangkat trofi Piala Dunia.
Karena itulah, saya akan ikut senang jika suatu hari Inggris kembali menjuarai Piala Dunia. Sudah sangat lama mereka menunggu momen itu. Rasanya menyenangkan membayangkan trofi Piala Dunia akhirnya kembali ke tanah Inggris, seolah-olah ungkapan football is coming home benar-benar menjadi kenyataan.
Kalau nanti Inggris berhasil menjadi juara Piala Dunia 2026, saya berharap Wonderwall kembali bergema di stadion. Lagu yang dulu menemani masa muda saya itu akan memiliki makna baru: bukan lagi sekadar lagu Oasis, melainkan juga lagu yang mengiringi berakhirnya penantian panjang sepak bola Inggris.
Semoga.