Kolom

Wajah Pendidikan Karakter: Ketika Pemimpin Gagal Menjadi Contoh

Wajah Pendidikan Karakter: Ketika Pemimpin Gagal Menjadi Contoh
Ilustrasi podium (magnific)

Pendidikan karakter sering dibicarakan sebagai salah satu kunci untuk membentuk generasi yang lebih baik. Anak-anak diajarkan untuk berbicara sopan, menghormati orang lain, mengendalikan emosi, serta memahami bahwa tidak semua hal pantas diucapkan di ruang publik.

Pendidikan karakter tidak hanya dibentuk di ruang kelas. Anak-anak juga belajar dari apa yang mereka lihat, dengar, dan saksikan dari orang dewasa di sekitarnya, termasuk para pemimpin negara.

Masalahnya, apa yang terjadi ketika pemimpin yang seharusnya menjadi teladan justru kerap berbicara tanpa menyaring ucapannya?

Di sinilah wajah pendidikan karakter terlihat begitu ironis. Anak-anak dituntut untuk belajar sopan santun, sementara orang dewasa yang memiliki pengaruh besar justru tidak selalu memberi contoh yang sama.

Ucapan Pemimpin dan Beban Keteladanan

Saya tergelitik untuk membahas topik ini usai melihat Presiden Prabowo Subianto menggunakan kata “bajingan” dalam pidatonya pada acara puncak peringatan Hari Koperasi ke-79 di Jakarta, Minggu (12/7/2026).

Setelah mengucapkan kata tersebut, Prabowo bahkan sempat bertanya kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti apakah seorang presiden boleh mengucapkan kata “bajingan”.

"Presiden boleh ngomong bajingan enggak? Boleh? Aku enggak tanya kalian, aku tanya Menteri Pendidikan," kata Prabowo, dikutip Kamis (16/7/2026), diikuti Abdul Mu'ti yang melempar senyum usai tersorot kamera.

Prabowo kemudian menjelaskan bahwa kata tersebut bukan kata kasar, melainkan bagian dari bahasa Betawi.

Masalahnya bukan semata-mata pada kata “bajingan” atau apakah kata tersebut dapat dikategorikan sebagai kata kasar. Masalahnya adalah ketika seorang pemimpin berbicara tanpa filter, lalu orang tua dan guru harus menjadi pihak yang menjelaskan kepada anak-anak bahwa tidak semua perilaku pemimpin layak untuk ditiru.

Anak-anak Tidak Memahami Konteks, Mereka Meniru

Anak-anak adalah peniru ulung. Mereka seperti spons yang menyerap apa yang mereka lihat dan dengar setiap hari. Mereka belum selalu mampu memahami konteks, situasi, atau alasan mengapa seseorang boleh melakukan sesuatu sementara orang lain tidak.

Ketika seorang anak mendengar orang dewasa di rumah berkata kasar, orang tua mungkin akan langsung menegur. Ketika seorang anak mengucapkan kata yang tidak pantas di sekolah, guru akan mengingatkan.

Namun, bagaimana ketika anak kemudian melihat presiden mengucapkan kata kasar di atas panggung dan disambut oleh tawa dan sorakan?

Bagaimana jika mereka bertanya, “Presiden saja boleh ngomong begitu, kenapa aku tidak boleh?

Pertanyaan semacam itu bukan sesuatu yang mustahil. Anak-anak tidak melihat politik dengan cara yang sama seperti orang dewasa.

Mereka mungkin tidak memahami bahwa seorang presiden sedang berbicara dalam konteks tertentu, sedang berusaha mencairkan suasana, atau menggunakan istilah yang dianggap bagian dari budaya tertentu.

Yang mereka lihat adalah figur yang sangat besar dan sangat berpengaruh mengucapkan sebuah kata, lalu tidak mendapatkan konsekuensi langsung karena hal tersebut.

Pendidikan Karakter Tidak Bisa Hanya Dibebankan kepada Orang Tua dan Guru

Selama ini, ketika anak dianggap kurang sopan atau memiliki perilaku buruk, orang tua dan guru sering menjadi pihak pertama yang disalahkan. Anak dianggap kurang dididik di rumah. Sekolah dianggap gagal membentuk karakter.

Padahal, selain di rumah dan di kelas, anak-anak juga belajar dari lingkungan sosial dan figur publik yang mereka lihat.

Mereka belajar dari tokoh yang muncul di televisi, internet, dan media sosial. Terlebih lagi, mereka belajar dari pemimpin negara.

Tentu saja, tidak realistis jika mengharapkan seorang presiden menjadi manusia yang tidak pernah salah. Pemimpin juga manusia. Mereka bisa terpeleset dalam berbicara, salah memilih kata, atau membuat keputusan yang kemudian dikritik publik.

Namun, ada perbedaan antara melakukan kesalahan sesekali dan menjadikan gaya bicara tanpa filter sebagai bagian dari citra kepemimpinan.

Seorang presiden tidak harus selalu berbicara dengan bahasa yang kaku. Ia boleh bercanda. Ia boleh menggunakan bahasa yang lebih santai. Ia juga tidak harus terdengar seperti sedang membaca buku teks setiap kali berpidato. Namun, spontanitas tidak bisa terus-menerus dijadikan alasan untuk membenarkan ucapan yang tidak pantas.

Apalagi jika setiap kritik kemudian dibalas dengan penjelasan bahwa itu hanya candaan, bagian dari gaya bicara, atau sekadar bentuk ekspresi.

Bagi pemimpin, satu kata dapat menjadi contoh yang ditiru jutaan orang. Terlebih anak-anak, yang belum memiliki kemampuan untuk memilah mana yang pantas dan mana yang tidak.

Pendidikan karakter seharusnya tidak hanya menjadi materi dalam kurikulum atau slogan dalam pidato pejabat, namun seharusnya terlihat dalam perilaku orang dewasa, terutama mereka yang memiliki kekuasaan dan pengaruh besar.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda