Kolom
Glorifikasi Budaya Kerja Lembur: Mengapa Tenggo Masih Dipandang Negatif?
Glorifikasi budaya kerja lembur masih menjadi fenomena yang sulit dipisahkan dari dunia kerja di Indonesia. Di banyak kantor, karyawan yang sering pulang malam kerap dipandang lebih loyal dibanding mereka yang menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu.
Belum lama ini, anggapan tersebut kembali menjadi perbincangan di media sosial setelah seorang karyawan mengaku mendapat surat peringatan karena selalu pulang tenggo. Di kolom komentar, ternyata banyak orang mengaku pernah mengalami hal serupa.
Menurut saya, diskursus ini menarik karena memperlihatkan bagaimana budaya kerja kita masih sering mengukur loyalitas dari sesuatu yang terlihat, bukan dari hasil yang nyata.
Ketika Jam Pulang Menjadi Tolok Ukur Loyalitas
Dalam banyak lingkungan kerja, loyalitas tidak hanya diukur dari kualitas pekerjaan, tetapi juga dari seberapa lama seseorang bertahan di kantor.
Karyawan yang pulang tepat waktu kerap dicap kurang memiliki inisiatif, sementara mereka yang masih duduk di depan komputer hingga malam dianggap lebih berkomitmen terhadap perusahaan.
Padahal, jika tanggung jawab telah dituntaskan sesuai jam kerja, pulang tepat waktu merupakan hal yang wajar. Bertahan lebih lama di kantor belum tentu memberikan nilai tambah bagi pekerjaan.
Masalahnya, penilaian terhadap karyawan masih sering didasarkan pada hal-hal yang kasatmata. Lamanya seseorang berada di kantor lebih mudah dijadikan ukuran dibanding kualitas maupun efektivitas pekerjaannya.
Kondisi ini mendorong munculnya budaya untuk sekadar terlihat sibuk demi membangun citra sebagai karyawan yang berdedikasi.
Lembur Tidak Selalu Berarti Produktif
Kerja lembur memang diperlukan apabila ada situasi tertentu yang mendesak, misalnya tenggat waktu yang ketat, proyek besar, atau kondisi darurat yang harus diselesaikan saat itu juga.
Namun, jika lembur terjadi hampir setiap hari dan justru dianggap sebagai standar karyawan yang baik, menurut saya ada sesuatu yang perlu dipertanyakan.
Lembur yang terus-menerus bisa menjadi tanda bahwa ada masalah yang lebih besar. Mungkin beban kerja memang terlalu banyak, jumlah karyawan tidak memadai, target yang diberikan tidak realistis, atau sistem kerja di dalam perusahaan belum efisien.
Sebaliknya, ada juga karyawan yang mampu mengatur waktunya dengan baik. Mereka fokus saat jam kerja, meminimalkan distraksi, menyusun prioritas, lalu menyelesaikan tugas tepat waktu.
Anehnya, justru orang-orang seperti ini yang kadang dianggap kurang berdedikasi hanya karena mereka enggan bekerja lembur.
Padahal, jika target tercapai, kualitas pekerjaan baik, dan tanggung jawab dipenuhi, seharusnya pulang tepat waktu bukanlah sesuatu yang perlu dipersoalkan.
Mengubah Cara Pandang tentang Loyalitas
Dunia kerja telah banyak berubah. Fleksibilitas kerja semakin berkembang, teknologi membantu pekerjaan menjadi lebih cepat, dan banyak perusahaan mulai menerapkan penilaian berbasis hasil. Namun, di sisi lain, budaya yang menganggap lembur sebagai simbol loyalitas tampaknya masih sulit ditinggalkan.
Menurut saya, pola pikir ini justru berpotensi merugikan semua pihak. Karyawan yang terus-menerus merasa harus lembur demi terlihat berdedikasi berisiko mengalami kelelahan, kehilangan waktu bersama keluarga, bahkan mengalami burnout.
Sementara itu, perusahaan juga bisa terjebak dalam budaya kerja yang tidak efisien karena lebih menghargai lamanya bekerja daripada efektivitas bekerja.
Pulang tepat waktu bukan berarti tidak mencintai pekerjaan. Tenggo bukanlah lawan dari profesionalisme. Justru kemampuan menyelesaikan pekerjaan sesuai target dalam jam kerja yang telah disepakati merupakan salah satu bentuk profesionalisme itu sendiri.
Work-life balance bukan berarti enggan bekerja keras. Justru keseimbangan itulah yang membuat seseorang bisa tetap produktif dalam jangka panjang.