Kolom
Dilema Pekerja Digital Masa Kini: Saat Jam Kerja Tak Lagi Punya Batas
"Kok di rumah aja, nggak kerja?"
Familiar dengan kalimat itu, Sobat Yoursay?
Jujur, sebagai freelancer, saya pun beberapa kali dengar kalimat begitu. Bahkan ada yang mengucap lebih parah, "Kerja apa di rumah? Jadi pembantu ibumu?" Nyebelin banget nggak sih, Sobat Yoursay? Saat itu, saya cuma ketawa. Meski dalam hati sempat berpikir, ternyata masih ada juga orang—di kalangan anak muda—yang menganggap kerja selalu identik dengan pergi ke kantor atau mengajar di lembaga pendidikan. Padahal sekarang konsep Work from Anywhere (WFA) sudah sangat umum. Pernah juga suatu ketika, saat saya lagi fokus nulis pakai HP atau lagi serius mengerjakan laporan, tiba-tiba dipanggil diminta bantuin pekerjaan rumah, akhirnya pekerjaan yang sebenarnya bisa lebih cepat selesai pun harus tertunda.
Freelancer dari luar memang terlihat santai. Kerja bisa di mana aja, nggak ada tuntutan berangkat pagi-pulang petang, nggak perlu pakai seragam kantor, dan bisa kerja kapan aja sambil rebahan. Dulu saya pikir jadi pekerja lepas itu enak karena semua yang udah saya sebut di atas. Tapi setelah merasakannya, ternyata realitas tidak seindah yang saya bayangkan. Dan masih ada yang menganggap pekerja lepas bukan benar-benar pekerja.
Pengalaman-pengalaman tersebut membuat saya sadar bahwa ternyata tantangan yang cukup berat bagi pekerja remote adalah soal bagaimana membuat orang lain memahami bahwa kita sedang bekerja. Karena meskipun dari luar tampak seperti “orang gabut”, sebenarnya mereka memiliki jam kerja yang lebih panjang dari pekerja kantoran. Orang yang bekerja di kantor, umumnya memiliki jam kerja, misalnya, pukul 8 pagi sampai 5 sore.
Namun, lain halnya dengan pekerja remote. Di malam hari, terkadang mereka masih harus berkutat di depan layar demi menyelesaikan deadline, tidak ada libur di akhir pekan. Saat teman-temannya liburan, mereka tetap bekerja. Mungkin hal seperti ini cukup relate juga dengan beberapa penulis Yoursay, ya. Kadang ide tiba-tiba muncul jam 11 malam pas udah siap-siap tidur. Mau ditinggal tidur, khawatir ide malah kabur. Akhirnya beranjak lagi, minimal buat mencatat ide itu biar nggak hilang dan bisa dieksekusi esok hari.
Semua itu terjadi karena freelancer sifatnya fleksibel. Kalau nggak ada jam masuk, otomatis nggak ada jam pulang. Kalau sekarang santai, berarti malam nanti harus mengejar deadline yang ada. Karena itu, batas antara waktu bekerja dan waktu beristirahat sering kali menjadi kabur. Akhirnya, tidak sedikit dari mereka yang memilih menetapkan jadwal kerjanya sendiri.
Perubahan pola kerja inilah yang membuat cara kita memandang pekerjaan juga ikut berubah. Di zaman sekarang ini, banyak anak muda yang mencari penghasilan dengan bekerja secara remote. Sampai-sampai muncul sebuah ungkapan yang menurut saya cukup menarik: salah kelebihan generasi muda saat ini adalah bisa cari uang, tapi kelihatan nganggur. Jika dulu orang kerja harus pergi ke kantor, sekarang tempat tidur pun bisa jadi ruang kerja. Pekerjaan yang dilakoni juga sangat beragam. Mulai dari affiliate, creator, penulis, illustrator, editor, live streamer, admin, dan lain sebagainya.
Namun, di balik fleksibilitas yang mereka miliki, tetap ada harga yang harus dibayar. Tidak sedikit freelancer yang sulit untuk benar-benar punya waktu libur serta sulit memisahkan antara bekerja dan beristirahat. Ketika semua waktu terasa bisa dipakai untuk bekerja akhirnya muncul burnout dan perasaan bersalah saat rebahan sebentar saja.
Di titik ini, mungkin satu kesimpulan yang bisa kita tarik adalah fleksibilitas memang memberikan seseorang kebebasan dalam bekerja. Akan tetapi, kebebasan juga menuntut kita untuk mampu membuat batas sendiri. Karena jika batas itu mulai hilang, fleksibilitas yang awalnya terasa memberi kebebasan malah bablas dan berubah jadi tuntutan untuk selalu produktif, seolah setiap waktu yang kita miliki adalah jam kerja.