Kolom
Korupsi Pakan KBS: Saat Keserakahan Manusia Merampas Hak Satwa
Kasus dugaan korupsi anggaran di Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya (PD TS KBS) membuat saya kembali berpikir tentang betapa luasnya dampak korupsi.
Ketika membicarakan korupsi, perhatian kita biasanya tertuju pada kerugian negara, uang publik yang diselewengkan, atau terhambatnya pembangunan.
Namun, dalam kasus ini, dugaan korupsi tidak hanya berdampak pada keuangan perusahaan. Satwa-satwa di Kebun Binatang Surabaya juga disebut ikut terdampak akibat pengelolaan anggaran yang bermasalah.
Mantan Direktur Utama PD TS KBS, Choirul Anwar, telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Timur dalam kasus dugaan korupsi pada periode 2016 hingga 2024.
Dari total kerugian sekitar Rp10,2 miliar, sekitar Rp7,4 miliar disebut digunakan untuk kepentingan pribadi. Salah satu modus yang didalami adalah dugaan penggelembungan anggaran pakan satwa.
Di titik ini, kasus tersebut terasa semakin menyedihkan. Sebab, yang diduga dirampas bukan hanya uang negara, melainkan juga hak makhluk hidup yang sepenuhnya bergantung pada manusia.
Ketika Anggaran Pakan Menjadi Kepentingan Pribadi
Saya sering merasa bahwa korupsi adalah kejahatan yang dampaknya cenderung abstrak. Kita mendengar angka miliaran, bahkan triliunan rupiah, tetapi sering kali sulit membayangkan siapa yang sebenarnya dirugikan.
Namun, dalam kasus dugaan korupsi anggaran pakan di KBS, dampaknya terasa sangat nyata. Ada satwa yang membutuhkan makanan, perawatan, dan lingkungan yang layak.
Kejati Jatim menyebut dugaan korupsi tersebut tidak hanya menyebabkan kerugian keuangan, tetapi juga berdampak pada kondisi Kebun Binatang Surabaya.
Fasilitas disebut tidak terawat dengan baik, lingkungan menjadi kotor dan rusak, sementara kondisi sejumlah satwa juga terdampak.
Satwa Tidak Bisa Melawan Keserakahan Manusia
Hal lain yang membuat kasus ini terasa begitu ironis adalah posisi satwa sebagai korban. Mereka tidak bisa bicara, apalagi mengajukan laporan dan menuntut keadilan.
Satwa-satwa di kebun binatang berada dalam posisi yang sangat bergantung. Mereka tidak memiliki pilihan untuk mengubah keadaan. Jika perawatan tidak dilakukan dengan baik, mereka hanya bisa menanggung dampaknya.
Di media sosial, banyak orang menyoroti ironi tersebut. Ada yang mengatakan bahwa manusia seolah tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya, sampai-sampai hak binatang pun diambil.
Saya memahami mengapa banyak orang merasa marah dengan kasus ini. Kita mungkin sering menggunakan istilah “tidak berperikemanusiaan” untuk menggambarkan tindakan yang kejam
Namun, dalam kasus seperti ini, apakah manusia yang mengambil makanan dan hak hidup makhluk lain demi kepentingan pribadi masih bisa disebut memiliki kepedulian terhadap kehidupan?
Satwa Sudah Kehilangan Habitat, Mengapa Haknya Masih Dirampas?
Satwa-satwa yang berada di kebun binatang pada dasarnya sudah kehilangan kebebasan untuk hidup di habitat alaminya.
Tentu, keberadaan kebun binatang bisa memiliki tujuan konservasi, edukasi, dan perlindungan satwa. Namun, semua tujuan itu hanya bermakna jika satwa benar-benar mendapatkan perawatan yang layak.
Ketika manusia mengambil satwa dari habitatnya, manusia memiliki tanggung jawab untuk menggantikan hal-hal yang tidak lagi bisa mereka dapatkan secara alami.
Oleh karena itu, jika anggaran pakan dan perawatan benar-benar disalahgunakan, ada pengkhianatan terhadap tanggung jawab terhadap para satwa.
Satwa telah kehilangan kebebasan karena berada di bawah pengelolaan manusia, tetapi mereka juga berpotensi kehilangan hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak karena keserakahan manusia.
Manusia sering merasa memiliki akal untuk memahami mana yang benar dan salah. Namun, kalau makanan satwa saja bisa diduga dikorupsi demi kepentingan pribadi, sebenarnya siapa yang sebenarnya kehilangan akal sehat?