Kolom
Derita Selisih Stock Opname Toko, saat Karyawan Jadi Samsak Omelan Bos
Derita karyawan toko atau ritel itu nggak sekadar laju inflasi menggila atau gaji stagnan yang segitu-gitu saja. Melainkan drama ritel yang nggak pernah padam, sebagaimana minus kasir, hingga selisih stock opname barang yang bikin stres.
Melansir Dokars.id, selisih stock opname adalah situasi di mana jumlah barang fisik di gudang maupun toko berbeda dengan jumlah di sistem. Hal ini umumnya terjadi karena adanya kelalaian input data, eror sistem, penyusutan barang karena rusak, hingga aksi pencurian.
Namun kalau pelakunya adalah kerabat bos, bagaimana karyawan menjelaskan situasi tersebut?
Berangkat dari Situasi Personal
Saya sendiri telah bekerja di suatu toko yang dimiliki satu keluarga. Semula situasi masih kondusif, pun selisih stock opname masih bisa dicari dan stok kembali normal. Baik pada jumlah barang fisik toko, maupun sistem. Ketika toko cabang dibuka dan satu kerabat bos ikut mengelola toko, selisih kerap terjadi ketika audit dan cek stok.
Tadinya, saya berprasangka bahwa ada kelalaian pencatatan saat cek stok, ataupun kesalahan input barang mengingat bos juga turun tangan. Namun, lama-lama keraguan saya terjawab.
Satu kerabat bos yang mengelola toko cabang rupanya ikut mengambil beberapa barang. Memang tipe barang kecil seperti: baut, mur, skun aki, ban dalam, hingga oli. Tapi lama-lama cek stok dan audit kian berat karena selisih stock opname begitu besar.
Dia sendiri mengaku pada saya, tetapi tidak pada owner. Hal ini tentu mempengaruhi operasional toko, ketika barang fisik habis tapi stok di sistem masih berjibun.
Selisih Stock Opname Kian Menurunkan Reputasi Toko
Kalau selisih stock opname karena barang rusak semisal sabun cair yang bocor, tentu bisa dimengerti sebagai penyusutan barang. Atau selisih menjadi surplus hingga minus karena kelalaian pencatatan, masih bisa dicari walau njelimet. Nah, kalau barang murni nggak ada?
Proses audit dan cek stok menjadi tantangan tersendiri. Mau mengadu pun mustahil kalau pelakunya adalah orang dekat bos. Pun proses operasional toko jadi tersendat, dan pembeli jadi kecewa yang mana ini langsung mempengaruhi reputasi toko.
Stok barang yang semestinya ada dan bisa dijual, harus kita sampaikan kosong. Kadang pembeli jadi marah-marah karena beberapa barang yang diinginkan kosong, kadang juga karyawan diomeli bos lantaran tidak langsung melapor barang apa saja yang harusnya diorder ke distributor.
Nah, terkadang juga nggak sengaja dengar omongan orang berkaitan dengan toko yang sering kosong karena kesalahan ini.
Vibes Lingkungan Kerja Jadi Tak Nyaman
Saya sendiri kerap stres dan uring-uringan saat harus menghadapi situasi seperti ini. Sudahlah kita harus fokus saat kerja, menjaga mood saat melayani pembeli, sampai membagi energi untuk cek stok maupun beres-beres toko. Alhasil, saya kerap bermusuhan dengan kerabat bos tersebut.
Dia sebenarnya tahu kala saya mengibarkan bendera perang terkait selisih stock opname toko. Namun, responnya cukup santai, bahkan terkesan acuh tak acuh. Kalaulah kebagian tugas cek stok fisik, dia langsung mencatat stok barang lewat sistem langsung, sehingga hasilnya bias.
Lingkungan kerja jadi semrawut, ketika kejujuran yang saya usahakan ditepis kebohongan rekan lain. Jadilah stress dan sakit hati yang harus saya tekan kala melayani pembeli.
Pendapatan Toko Menurun
Saya memang tidak menghandle akuntansi toko, karena tugas itu dipegang langsung oleh bos. Namun, saya tahu bahwa transaksi berkurang karena sepinya pembeli.
Kalau berkaca pada situasi global dan inflasi yang meroket, saya paham bahwa daya beli sedang lesu. Tetapi begitu dihantam masalah internal toko, alarm kian pecah saja. Barang yang seharusnya masih bisa menghasilkan cuan, atau paling tidak masih bisa memutar ekonomi, lenyap begitu saja.
Bukan satu atau dua, tetapi beberapa. Ditambah dengan kepercayaan pembeli yang jadi turun karena sering kecewa, jadilah transaksi barang berkurang. Omset toko jadi lesu, dan tentunya bikin karyawan ketar-ketir.
Tetaplah Jujur Demi Kebaikan Bersama
Kalau boleh jujur, rasanya lelah menghadapi situasi begini. Mau resign, tapi masih butuh duit untuk hidup. Mau mengadu ke bos, tentu mustahil. Jadinya, saya bekerja seperti biasa selama gaji lancar.
Soal cek stok, akhirnya saya mengalah. Saya hanya melakukan cek stok fisik barang toko, sebelum menyerahkan laporannya ke kerabat bos tersebut. Alhasil, tentu saja hasil cek stok saya berubah drastis sebelum final diserahkan pada bos.
Kalau boleh berpesan, tolonglah untuk jujur bahkan terhadap barang kecil seperti baut. Tolong juga jangan hobi mengambil barang begitu saja. Sebisa mungkin masukkan transaksi penjualan, dan dibayar sehingga stock opname tetap aman.
So, apakah kawan-kawan sekalian memiliki pengalaman serupa di dunia retail? Atau mungkin memiliki tips untuk menghadapi rekan kerja modelan begitu?