Kolom

Menertawakan Diri Sendiri: Katarsis Emosi ala Warganet Melihat Konten Kemewahan Absurd Indra Perdana

Menertawakan Diri Sendiri: Katarsis Emosi ala Warganet Melihat Konten Kemewahan Absurd Indra Perdana
Potret Indra Perdana saat menikmati hidangan di hotel mewah [Instagram/@indraperdana.pn]

“Biar makin disangka sales hotel, hari ini mau lunch yang simpel dan sederhana aja, tapi dari Movenpick Hotel Jakarta City Centre hahaha. Menu brunch hari ini simpel aja, ada lobster, sate, peking duck, chicken hainan, wagyu, dan ada lamb juga. Untuk ini semua harganya murah aja, cuma Rp788.000 plus-plus. Kalau kalian, suka lunch buffet kayak gua gini? Hahaha.”

Saat melihat video-video viral yang diunggah oleh Indra Perdana pada akun Instagram miliknya (@indraperdana.pn), kita mungkin akan merasakan suatu hal yang berbeda.

Konten ini seolah-olah terasa memikat perhatian publik melalui hasil video kuliner yang unik dan kontradiktif. Ia membuka video dengan narasi ‘sederhana’, tetapi dari segi harga, lokasi, hingga makanan yang disajikan di atas meja justru tidak mencerminkan sebuah kesederhanaan yang nyata.

Meskipun video ini terlihat menyindir bagi sebagian besar penonton, konten ini sebaliknya dinilai warganet sebagai komedi belaka.

Dengan intonasi narasi yang datar, wajah tanpa ekspresi berlebihan, dan pembawaan yang meniru gaya vloger saat membagikan rutinitas harian, ia berhasil membuat pernyataan satire ini terdengar menjadi hal yang biasa dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, aksi yang ‘ndeso’ dan absurd ini juga menuai gelak tawa warganet.

Self-Deprecation: Saat Humor Jadi Benteng Pertahanan Diri

Lantas, mengapa masyarakat kita menoleransi konten yang secara terang-terangan menyoroti perbedaan standar hidup sederhana dan mewah?

Jawabannya tentu terletak pada fenomena psikologis yang dikenal sebagai ‘self-deprecation’, yaitu kebiasaan merendahkan diri sendiri yang kebanyakan dilontarkan melalui lelucon atau komentar. Komedi ini berdampak baik asalkan tidak dijadikan persoalan yang serius dan membebani hidup. 

Tertawa saat melihat kondisi ekonomi yang carut-marut ini—bukan berarti kita sakit jiwa—melainkan juga bak bentuk pertahanan diri.

Ketika seseorang dihadapkan pada realita hidup yang berat, seperti tingginya harga kebutuhan pokok, gaji UMR yang pas-pasan, serta ketidakpastian ekonomi, alhasil mereka memiliki dua pilihan respons emosional dalam menjalani hidup: menjadi seseorang yang mudah marah ataukah mengubah rasa frustrasi menjadi bahan tertawaan. 

Masyarakat kita memiliki daya tahan psikologi dan kesabaran yang sangat tinggi meski hanya melalui humor sederhana. Mereka lebih memilih tertawa bersama di kolom komentar.

Penonton secara tidak langsung seketika menurunkan rasa emosi dan cemas yang dialami. Inilah bentuk penyesuaian diri yang sebenarnya kita lakukan melalui katarsis emosi. 

Absurditas vs Humblebragging: Mengapa Warganet Tak Marah?

Humblebragging adalah perilaku menyombongkan diri yang dikemas berkedok merendahkan hati dengan cara seolah-olah mempunyai keluhan.

Contohnya, saat melihat konten kreator yang bergaya hidup mewah, secara tidak langsung kita sedang disuguhi aksi pamer terselubung (humblebragging).

Banyak di antara tokoh publik yang memamerkan barang-barang mewah dengan menebar keprihatinan, kelelahan, hingga bersikap rendah hati.

Sebagai contoh, “Pusing banget hari ini, terpaksa beli baju mahal ini karena baju lama kancingnya lepas.” Perkataan seperti ini mungkin lebih dibenci oleh warganet karena terkesan manipulatif dan tidak jujur.

Berbeda halnya dengan konten Indra yang bekerja sebaliknya, ia justru membesar-besarkan kemewahan sampai ke titik absurditas sehingga semua orang menyadari bahwa apa yang dilakukan hanya sebatas lelucon murni. 

Ketika seorang kreator sengaja berniat untuk menyombongkan diri dan merendahkan orang lain tanpa adanya humor yang diselipkan, publik cenderung berkomentar negatif dan menghujat.

Namun saat Indra sengaja melakukan tindakan absurdnya, warganet seperti telah memahami secara implisit bahwa konten tersebut adalah sebuah komedi. Alhasil, kejujuran yang diungkapkan ini menciptakan empati komedi dan menghapus pemicu kemarahan publik. 

Tertawa Bersama di Tengah Himpitan Ekonomi

Memesan makanan dengan harga Rp200.000 itu mungkin bagi kita kemahalan, terlebih lagi makanan yang tersaji di depan Indra adalah cireng, ayam, tahu, pisang goreng, dan lain sebagainya.

Saya yakin warganet pun bisa membeli makanan itu, hanya saja dengan harga yang sewajarnya dan tempat makan di rumah atau kos sederhana.

Bayangkan, harga cireng yang biasa kita beli di antara rentang harga Rp5.000–Rp10.000, Indra justru membelinya dengan harga ratusan ribu rupiah dan mengatakan harga tersebut murah bagi dirinya. 

Perkataan satire itu membuat kita ikut tertawa karena merasa bahwa sindiran tersebut begitu relatable sekaligus menampar realitas ekonomi kita tanpa terkesan menggurui.

Kemampuan kita untuk duduk di kamar kos yang sederhana, memegang gawai dengan sisa kuota yang pas-pasan, lalu tertawa lepas bersama jutaan saudara sebangsa setanah air di kolom komentar adalah bukti nyata kekayaan jiwa masyarakat kita.

Uangnya mungkin belum ada, tetapi kemampuan untuk tetap bahagia dan menjaga kesehatan mental akan tetap terjaga.

Pada akhirnya, di tengah gempuran harga bahan pokok yang terus merangkak naik dan tuntutan hidup yang tak kunjung melunak, masyarakat membutuhkan ruang untuk bernapas.

Konten satire ala Indra Perdana ini tidak hadir untuk memperlebar jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, melainkan menjadi cermin ironis yang mengajak kita tertawa bersama di atas ketidakberdayaan yang sama.

Sebab ketika kita tak mampu mengubah keadaan ekonomi dalam sekejap, memilih untuk tertawa atas absurdnya realitas adalah jalan ninja terbaik untuk menjaga kewarasan kita.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda