Kolom

Merdeka dari Standar Cantik: Perlawanan Perempuan terhadap Beauty Pressure

Merdeka dari Standar Cantik: Perlawanan Perempuan terhadap Beauty Pressure
ilustrasi perempuan muda (Pexels/cottonbro studio)

Beauty pressure membuat perempuan Gen Z terus berhadapan dengan standar cantik yang berubah-ubah. Kini, mereka mulai mendefinisikan kecantikan berdasarkan kenyamanan dan pilihan sendiri.

Disadari atau tidak, menjadi perempuan di era digital terasa seperti mendapat satu pekerjaan tambahan: harus terlihat cantik. Bukan hanya cantik menurut diri sendiri, tapi juga sesuai dengan standar yang terus berubah.

Hari ini kulit glowing menjadi tren, besok bentuk alis tertentu dianggap ideal, kemudian muncul standar baru yang kembali menuntut perempuan harus siap segera beradaptasi. Lalu, sampai kapan penampilan harus menjadi ukuran utama untuk merasa cukup?

Perlawanan terhadap beauty pressure bukan berarti perempuan berhenti merawat diri. Justru, semakin banyak yang mulai membedakan antara merawat diri karena ingin dan mengubah diri karena merasa tidak cukup baik.

Standar Cantik yang Terus Berubah

Salah satu hal paling melelahkan dari standar kecantikan adalah acuannya yang tidak pernah benar-benar selesai. Tren kecantikan terus berganti dan media sosial membuat perubahan tersebut berlangsung semakin cepat.

Perempuan merasa perlu mengikuti berbagai tren agar tidak dianggap tertinggal. Akibatnya, penampilan yang seharusnya menjadi bagian dari ekspresi diri justru berubah menjadi sumber tekanan.

Gen Z pun mulai menyadari kalau tidak mungkin terus mengejar standar yang selalu bergerak. Apa yang dianggap ideal hari ini belum tentu relevan beberapa tahun kemudian.

Media Sosial dan Tekanan untuk Terlihat Sempurna

Media sosial memang memberikan ruang bagi perempuan untuk berekspresi. Namun, platform digital juga membuat standar kecantikan terasa semakin dekat sekaligus melelahkan.

Foto yang sudah melalui berbagai proses penyuntingan, konten transformasi, serta tren kecantikan yang viral bisa menciptakan gambaran jika standar penampilan tertentu adalah sesuatu yang harus dicapai.

Masalahnya, kehidupan nyata tidak selalu terlihat seperti unggahan media sosial. Ketika standar digital dijadikan patokan kehidupan sehari-hari, perempuan bisa terus merasa kurang meski sebenarnya tidak ada yang salah dengan dirinya.

Beauty Pressure Mulai Dilawan dengan Body Neutrality

Perlawanan terhadap beauty pressure muncul lewat cara pandang body neutrality. Jika body positivity mendorong untuk mencintai tubuhnya, body neutrality lebih menekankan bahwa tubuh tidak harus selalu disukai untuk tetap dihargai.

Cara pandang ini terasa lebih realistis. Ada hari ketika seseorang merasa percaya diri, tapi ada juga hari ketika ia biasa saja dengan penampilannya. Kedua kondisi ini tidak menjadi masalah sebab tubuh tidak harus selalu menjadi sumber kebanggaan.

Merawat Diri Bukan Berarti Harus Mengubah Diri

Skincare, makeup, fesyen, olahraga, atau perawatan tubuh tetap bisa menjadi bagian menyenangkan dari kehidupan perempuan. Hanya saja, alasan di baliknya perlu dipertanyakan. Apakah dilakukan karena yaman atau takut dianggap tidak cantik?

Perbedaan tersebut penting. Saat perawatan diri dilakukan karena pilihan pribadi, aktivitas tersebut bisa menjadi bentuk self-care. Namun, jika dilakukan karena tekanan untuk memenuhi standar tertentu, rutinitas yang sama justru terasa melelahkan.

Perempuan berhak berdandan ketika ingin dan tampil sederhana ketika tidak ingin. Keduanya sama-sama valid. Sebab apa pun perubahan pada diri harus didasarkan pada kenyamanan sendiri lebih dulu.

Tidak Semua Tren Kecantikan Harus Diikuti

Gen Z hidup dalam budaya tren yang bergerak cepat. Setiap minggu ada produk baru, gaya makeup baru, hingga standar penampilan baru yang ramai diperbincangkan. Namun, mengikuti semuanya tentu bukan kewajiban.

Memilih tidak mengikuti tren juga merupakan bentuk kebebasan. Perempuan bisa menentukan sendiri apa yang sesuai dengan kenyamanan, kebutuhan, dan kepribadiannya. Di titik ini, kecantikan menjadi bagian dari kebebasan berekspresi.

Merdeka dari Beauty Pressure Berarti Memilih untuk Diri Sendiri

Melawan beauty pressure bukan berarti menolak kecantikan atau berhenti merawat diri. Perlawanan tersebut justru berbicara tentang hak untuk menentukan bagaimana seseorang ingin memperlakukan dirinya sendiri.

Perempuan Gen Z tidak harus memilih antara tampil cantik atau tampil apa adanya. Mereka bisa melakukan keduanya sesuai keinginan. Sebab, kemerdekaan dalam hal penampilan harus atas pilihan sendiri tanpa terus dihantui rasa tidak cukup.

Di tengah algoritma yang setiap hari menawarkan definisi baru tentang perempuan ideal, mungkin bentuk perlawanan paling sederhana adalah berhenti bertanya, "Apakah aku sudah cukup cantik?" dan mulai bertanya, "Apakah aku nyaman menjadi diriku sendiri?"

Karena pada akhirnya, wajah, tubuh, dan penampilan bukanlah “proyek” yang harus terus diperbaiki agar layak dihargai. Perempuan juga berhak merasa cukup, bahkan tanpa harus memenuhi standar siapa pun.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda