Kolom

Kontradiksi Simbolik: Merayakan Kemerdekaan dengan Cara yang Masih Feodal

Kontradiksi Simbolik: Merayakan Kemerdekaan dengan Cara yang Masih Feodal
Ilustrasi Upacara Bendera (Unsplash/@mufidpwt)

Setiap 17 Agustus, kita merayakan kemerdekaan dengan upacara. Bendera dikibarkan, lagu kebangsaan dinyanyikan, teks Proklamasi dibacakan, dan pidato tentang perjuangan para pahlawan disampaikan dengan penuh khidmat. Semuanya tampak sakral.

Tetapi ada satu pemandangan yang sering luput dipertanyakan. Siapa yang berdiri di bawah terik Matahari dan siapa yang duduk nyaman di bawah tenda?

Peserta upacara berdiri berbaris, berpanas-panasan, menahan haus dan keringat. Sementara itu, sebagian pejabat duduk rapi di tempat teduh, lengkap dengan kursi, meja, air mineral, serta hidangan. Pemandangan semacam ini mungkin dianggap biasa karena sudah dilakukan berulang kali. Justru karena terlalu biasa, kita berhenti bertanya apakah ia memang pantas.

Di sinilah persoalannya.

Upacara kemerdekaan seharusnya menjadi salah satu ruang paling simbolis untuk mengingat bahwa Indonesia lahir dari gagasan tentang persamaan sebagai bangsa. Proklamasi menandai berakhirnya kolonialisme dan lahirnya sebuah negara yang menempatkan rakyat sebagai bagian penting dari kehidupan bernegara.

Namun, jika dalam perayaan kemerdekaan saja kita masih mempertontonkan pembedaan perlakuan berdasarkan jabatan, bukankah ada sesuatu yang ironis?

Pejabat mendapatkan tempat teduh, sementara rakyat dan peserta upacara berdiri di bawah matahari. Pejabat mendapatkan kursi dan konsumsi, sementara peserta diminta berdiri dengan disiplin selama acara berlangsung. Jabatan akhirnya tidak hanya memberikan kewenangan administratif, tetapi juga diterjemahkan menjadi hak atas kenyamanan yang tidak dinikmati orang lain.

Tentu, pejabat memiliki fungsi protokoler. Tidak semua perbedaan posisi dalam sebuah upacara otomatis dapat disebut feodal. Ada kebutuhan tata tempat, protokol, keamanan, dan penghormatan terhadap pejabat negara. Masalahnya muncul ketika protokol berubah menjadi pertunjukan kelas sosial. Mereka yang berkuasa memperoleh kenyamanan, sedangkan mereka yang berada di bawahnya diminta menunjukkan kepatuhan.

Di situlah feodalisme menjadi menarik untuk dibicarakan.

Feodalisme bukan hanya soal bangsawan, gelar, atau hubungan antara tuan tanah dan rakyat jelata. Dalam konteks sosial yang lebih luas, mentalitas feodal dapat muncul ketika seseorang diperlakukan lebih istimewa semata-mata karena status atau jabatannya. Ketika orang biasa harus menunggu, sementara pejabat didahulukan. Ketika rakyat diminta disiplin, sementara pejabat merasa aturan dapat dinegosiasikan. Ketika jabatan dianggap identik dengan keistimewaan.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika masyarakat menerima semua itu sebagai sesuatu yang wajar.

Kita mungkin sudah tidak dijajah oleh bangsa asing. Tetapi sisa mentalitas kolonial dan feodal bisa tetap hidup dalam perilaku sosial kita sendiri. Ia muncul dalam cara kita memperlakukan orang yang memiliki jabatan, cara kita takut kepada atasan, cara kita menganggap pejabat harus selalu dihormati secara berlebihan, bahkan cara kita merasa bahwa fasilitas istimewa merupakan sesuatu yang otomatis pantas diterima oleh orang berkuasa.

Kemerdekaan ternyata tidak berhenti pada pengusiran penjajah.

Kemerdekaan juga menuntut perubahan cara berpikir.

Sebab apa gunanya kita setiap tahun mengulang kalimat tentang perjuangan merebut kemerdekaan jika pada saat yang sama kita masih memelihara kebiasaan yang membuat sebagian orang merasa lebih tinggi daripada yang lain?

Barangkali sudah waktunya upacara 17 Agustus tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga kesempatan untuk mengevaluasi cara kita memandang kekuasaan.

Tidak ada salahnya pejabat mendapatkan tempat yang layak. Tetapi kenyamanan itu tidak seharusnya dibangun dengan memperlakukan peserta lain seperti kelas yang lebih rendah. Jika cuaca panas, negara bisa menyediakan tenda yang memadai bagi seluruh peserta. Jika peserta membutuhkan air minum, sediakan untuk mereka. Jika berdiri terlalu lama berisiko bagi kesehatan, desain upacaranya bisa dibuat lebih manusiawi.

Sebab penghormatan kepada pejabat tidak harus diwujudkan dengan ketidaknyamanan bagi rakyat.

Kemerdekaan semestinya membuat kita semakin alergi terhadap praktik-praktik yang membeda-bedakan manusia berdasarkan kedudukan.

Jangan sampai setiap 17 Agustus kita mengibarkan Merah Putih sambil mengingat bagaimana bangsa ini melawan penjajahan, tetapi pada saat yang sama mempertontonkan bentuk kecil dari mentalitas yang sama. Sebagian orang duduk nyaman karena merasa kedudukannya lebih tinggi, sementara yang lain berdiri kepanasan karena dianggap memang seharusnya begitu.

Mungkin penjajah memang sudah pergi. Tetapi pekerjaan membebaskan diri dari mentalitas feodal ternyata belum selesai.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda