Kolom
Kenapa Harus Melihat Orang Lain Menderita Dulu untuk Belajar Bersyukur?
Kalau sedang merasa hidup kita berat, lihatlah orang yang hidupnya lebih susah. Kalau sedang ingin mengeluh karena tidak punya sesuatu, ingatlah masih banyak orang yang bahkan tidak memilikinya. Kalau merasa tidak bahagia, coba bandingkan diri dengan mereka yang keadaannya jauh lebih buruk. Masalahnya, sejak kapan penderitaan orang lain harus menjadi alat ukur untuk menentukan apakah penderitaan kita layak dirasakan?
Ketika melihat kesuksesan dan kebahagiaan orang lain, kita kerap disuguhi narasi penenang untuk tidak membandingkan hidup. Tapi kenapa saat keadaan terbalik, kita justru disuruh melihat mereka yang keadaannya lebih buruk? Bahkan sering disampaikan dengan niat baik agar seseorang tidak larut dalam keluhan.
Namun, jika terus-menerus digunakan, nasihat tersebut bisa mengajarkan sesuatu yang keliru: bahwa kita baru boleh merasa bersyukur setelah menemukan orang yang keadaannya lebih buruk daripada kita. Padahal, bersyukur dan berempati seharusnya tidak membutuhkan korban pembanding.
Empati bukan kemampuan untuk berkata, “Untung hidupku tidak separah dia.” Empati adalah kemampuan memahami bahwa penderitaan orang lain tetap berarti meskipun hidup kita sendiri sedang baik-baik saja. Kita tidak perlu kehilangan rumah agar bisa memahami bahwa kehilangan rumah adalah sesuatu yang menyakitkan. Kita tidak perlu mengalami kelaparan untuk mengerti bahwa kelaparan adalah penderitaan. Kita juga tidak perlu memiliki kehidupan yang lebih buruk untuk mengakui bahwa kesulitan orang lain memang nyata. Sayangnya, banyak orang tumbuh dengan pemahaman yang berbeda.
Sejak kecil, rasa syukur kadang diajarkan melalui perbandingan. “Lihat, temanmu lebih susah.” “Banyak orang yang ingin berada di posisi kamu.” “Kamu masih beruntung.” Akhirnya, anak belajar bahwa rasa tidak nyaman harus segera dikalahkan oleh kondisi orang lain.
Ketika dewasa, pola itu bisa berubah menjadi kebiasaan membatalkan perasaan orang lain. Seseorang bercerita sedang kelelahan, dijawab, “Aku juga capek, malah lebih capek.” Seseorang mengeluhkan masalah keuangan, dibalas, “Masih mending kamu punya pekerjaan.” Seseorang sedang berduka, malah diberi daftar orang lain yang mengalami kehilangan lebih besar.
Bukannya mendapatkan ruang untuk dipahami, orang tersebut justru dipaksa mengikuti kompetisi penderitaan. Padahal, penderitaan bukan perlombaan. Orang yang kehilangan pekerjaan tidak harus menunggu sampai menjadi tunawisma untuk dianggap punya masalah. Orang yang sedang kesepian tidak harus mengalami depresi berat agar perasaannya dianggap valid. Dan seseorang yang sedang menghadapi persoalan kecil menurut standar kita tetap berhak merasa lelah tanpa harus membuktikan bahwa masalahnya adalah yang paling berat di dunia.
Begitu pula dengan rasa syukur. Bersyukur seharusnya muncul karena kita menyadari nilai dari apa yang kita miliki, bukan karena kita menemukan orang lain yang memiliki lebih sedikit. Lebih berbahaya lagi jika cara berpikir tersebut membuat kita kehilangan dorongan untuk memperbaiki keadaan.
Kalau setiap persoalan selalu dijawab dengan masih banyak yang lebih susah, kita bisa berhenti mempertanyakan mengapa kesulitan itu terjadi. Kemiskinan dianggap nasib. Ketidakadilan dianggap sesuatu yang harus disyukuri. Fasilitas buruk diterima karena di tempat lain lebih parah.
Padahal, rasa syukur tidak seharusnya membunuh kritik. Kita bisa bersyukur sekaligus mengakui bahwa ada sesuatu yang salah. Kita bisa merasa beruntung sekaligus peduli kepada orang yang tidak seberuntung kita. Kita bahkan bisa bahagia dengan kehidupan sendiri sambil tetap memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi orang lain. Mungkin sejak awal yang perlu diajarkan bukan sekadar bagaimana bersyukur, tetapi bagaimana memahami manusia lain tanpa harus mencari seseorang yang lebih menderita terlebih dahulu.