Kolom
Absurditas Formalitas WFO: Saat Kerja Digital Wajib Dikerjakan di Kantor
Beberapa hari lalu, seorang teman saya bercerita dengan nada yang penuh kekesalan. Hari-harinya kini diwarnai rasa frustrasi karena manajemen tempatnya bekerja mendadak memberlakukan kebijakan wajib hadir secara fisik (Work From Office atau WFO) penuh lima hari seminggu.
Padahal, seluruh tugas pokok sehari-harinya seratus persen berbasis digital, mulai dari mengolah data, mengurus administrasi sistem, hingga mengedit dokumen pekerjaan. Seluruh alat kerjanya berada di dalam laptop dan tersimpan rapi di server awan (cloud).
Secara teknis, pekerjaan itu bisa ia selesaikan dengan sangat baik dari meja kamarnya. Namun, anehnya, perusahaan tetap mewajibkannya duduk di tempat kerja hanya untuk memindahkan jarinya di atas papan ketik yang sama. Kebijakan ini baginya, dan bagi saya yang mendengarnya—bukan lagi bentuk profesionalisme, melainkan sebuah formalitas kaku yang menguras energi dan kantong secara sia-sia.
Sikap keberatan teman saya ini sama sekali bukan cerminan anak muda yang malas atau enggan bekerja keras. Riset tahunan Stanford Institute for Economic Policy Research (SIEPR) yang meneliti dampak kerja jarak jauh (remote work) mengungkapkan bahwa efisiensi kerja sebenarnya tidak mengalami penurunan signifikan saat pekerja diberi fleksibilitas.
Dan justru sebaliknya, skema kerja hibrida (hybrid) mampu menghemat biaya operasional pekerja hingga ribuan dolar per tahun sekaligus menekan tingkat kejenuhan (burnout). Temuan ilmiah ini sangat sejalan dengan kalkulasi rasional yang terus diputar oleh teman saya setiap kali ia terpaksa melakukan perjalanan ke tempat kerja hanya untuk menyelesaikan pekerjaan yang sepenuhnya berbasis layar kaca.
Substansi masalah paling riil dari kewajiban WFO untuk jenis pekerjaan yang bisa dikerjakan dari rumah ini adalah ketimpangan finansial yang terasa tidak masuk akal. Ketika diwajibkan bekerja langsung dari lokasi, teman saya menyaksikan tabungannya bocor dengan cepat oleh pengeluaran operasional harian yang seharusnya bisa dihindari.
Biaya bensin, tarif parkir kendaraan, hingga pengeluaran untuk makan siang di area perkantoran yang mahal terus menggerogoti gaji bulanan. Pengeluaran terselubung (hidden cost) demi sekadar "menunjukkan presensi fisik" ini bisa menyerap hingga 20 sampai 30 persen dari total pendapatan bersihnya. Secara tak langsung, WFO wajib untuk pekerjaan yang sebetulnya remote-friendly ini terasa seperti pemotongan gaji secara halus.
Selain kerugian finansial, ada harga mahal lain yang harus dibayar, yaitu pemborosan waktu tempuh (commuting time). Tinggal di kawasan yang lumayan jauh dari lokasi kerja membuat teman saya harus menghabiskan waktu dua hingga tiga jam setiap hari hanya untuk menembus kemacetan jalan raya.
Waktu yang terbuang sia-sia di atas kendaraan ini merampas work-life balance dan menurunkan stamina mentalnya. Padahal, jika tugas-tugas berbasis layar itu dikerjakan secara fleksibel dari rumah (WFH), waktu dua jam yang habis di jalanan itu bisa ia ciptakan menjadi jam kerja yang jauh lebih fokus (deep work), tenang, dan minim distraksi bising lingkungan sekitar.
Hal yang paling membuat gemas adalah absennya substansi dari kehadiran fisik itu sendiri. Mengolah file digital di aplikasi laptop memberikan hasil kerja yang sama persis, baik itu diketik dari meja kamar maupun dari kursi di tempat kerja. Ketika ia dipaksa hadir offline hanya untuk memandangi layar laptop seharian, sementara koordinasi dengan rekan kerja pun tetap dilakukan via aplikasi chat atau email—kewajiban hadir fisik kehilangan makna rasionalnya. Kehadiran fisik akhirnya terjebak menjadi sekadar formalitas visual demi memberikan kesan bahwa karyawannya "benar-benar bekerja".
Fenomena ini menjelaskan mengapa banyak pekerja muda Generasi Z yang tanpa ragu memilih resign atau menolak penawaran kerja dari perusahaan yang kaku terhadap fleksibilitas. Kami bukan menolak berkontribusi, kami hanya menuntut agar efisiensi kerja dan kemajuan teknologi dimanfaatkan secara bijak.
Bagi saya dan teman saya, kompromi terbaik untuk menjembatani persoalan ini adalah penerapan model kerja hibrida (hybrid work) yang berbasis hasil nyata (output-based), bukan berbasis durasi duduk di kursi tempat kerja. Perusahaan perlu mendefinisikan ulang kapan kehadiran offline benar-benar dibutuhkan, misalnya saat rapat evaluasi besar atau sesi perencanaan strategis.
Namun untuk tugas-tugas digital murni yang bisa diselesaikan dari rumah, berikanlah pekerja kepercayaan dan fleksibilitas. Menghargai waktu dan pengeluaran harian karyawan adalah bentuk kepemimpinan modern. Pada akhirnya, kualitas seorang pekerja tidak diukur dari berapa jam badannya berada di tempat kerja, melainkan dari ketepatan, kerapian, dan nilai dari hasil kerja nyata yang ia berikan.