Kolom
Mengaku Pencinta K-Pop, tapi Gagap saat Berhadapan dengan Kebudayaan Sendiri
Sore itu, di dalam kamar yang temaram, jemari saya begitu lincah menggeser layar ponsel, menghafal setiap gerakan dance practice lagu terbaru dari grup idola Korea favorit. Saya merasa terkoneksi, relevan, dan menjadi bagian dari komunitas global yang besar.
Namun, beberapa hari kemudian, saat saya diundang menghadiri acara festival seni daerah di kota saya, perasaan hangat itu tiba-tiba hilang. Berdiri di antara alunan bunyi gamelan dan tarian tradisional yang begitu anggun, saya justru mendapati diri saya sendiri termenung bingung. Ada rasa asing yang mengganjal.
Saya menghafal belasan lirik lagu asing di luar kepala, tetapi gagap saat harus menyebutkan makna dari tarian yang sedang diputar di depan mata. Keresahan ini membawa saya menyelami naskah ilmiah dalam Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat , yang menjelaskan betapa perubahan nilai budaya lokal di kalangan pemuda hari ini kian nyata akibat gempuran arus globalisasi yang masif.
Secara jujur, pernahkah Anda mengalami momen seperti itu? Momen ketika kita sadar bahwa kita jauh lebih familiar dengan produk budaya asing dibandingkan dengan identitas tanah lahir sendiri?
Jika kita memperluas sudut pandang, fenomena ini jelas bukan sekadar persoalan saya seorang. Ini adalah potret kolektif dari lanskap sosial remaja dan anak muda Indonesia hari ini. Buka aplikasi media sosial mana pun, maka kita akan dengan mudah menemukan tren yang didominasi oleh estetika Barat atau tren K-Pop, mulai dari gaya berpakaian, istilah bahasa gaul, gaya hidup, hingga selera musik.
Budaya pop luar datang dengan kemasan yang sangat rapi, visual yang memanjakan mata, serta strategi pemasaran digital yang sangat adaptif. Sebaliknya, kebudayaan lokal sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang kuno, kaku, membosankan, dan hanya relevan untuk orang tua atau upacara adat formal semata.
Kehadiran budaya asing tentu bukan sebuah dosa sosial yang harus diharamkan. Memikirkannya secara ekstrem dengan melarang anak muda menyukai K-Pop atau musik Barat jelas merupakan langkah yang tidak rasional.
Masalah utamanya bukan pada masuknya budaya luar, melainkan pada porsi ketimpangan serta keterasingan yang terjadi pada budaya kita sendiri. Data dari Survei Warisan Budaya Indonesia serta penelitian Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai partisipasi budaya sering menunjukkan penurunan keterlibatan aktif generasi muda dalam kegiatan seni tradisional dari tahun ke tahun.
Riset menunjukkan bahwa kendala terbesar pelestarian budaya lokal terletak pada minimnya ruang ekspresi yang relevan dengan media digital hari ini, sehingga seni tradisional gagal memikat minat generasi Z dan Alpha secara alami.
Secara personal, saya memandang fenomena ini bukan sebagai bentuk kelangkaan rasa nasionalisme, melainkan masalah kemasan dan aksesibilitas. Kita tidak bisa menyalahkan anak muda yang lebih memilih menonton konser budaya pop jika pertunjukan seni lokal di sekitarnya jarang dipromosikan, dilaksanakan dengan tata panggung seadanya, atau tidak dipadukan dengan teknologi masa kini.
Komunitas budaya pop luar berhasil membangun ekosistem yang membuat penggemarnya merasa berhubungan dan dihargai. Pertanyaannya, sudahkah ekosistem kebudayaan lokal kita memberikan ruang yang sama inklusifnya bagi anak muda?
Menjaga kebudayaan lokal agar tetap lestari di tengah gempuran budaya pop global memerlukan perubahan paradigma. Kita tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama yang terkesan menggurui untuk menanamkan rasa cinta budaya. Elemen-elemen tradisional perlu dikemas ulang tanpa menghilangkan nilai luhur dan esensinya. Bayangkan jika tarian daerah dipadukan dengan aransemen musik modern yang segar, atau cerita rakyat diangkat menjadi komik digital dan gim interaktif. Ketika budaya lokal hadir dalam format yang akrab dengan keseharian anak muda, batas keterasingan itu perlahan akan runtuh.
Menyukai K-Pop atau musik Barat tidak lantas membuat kita kehilangan identitas sebagai bangsa Indonesia. Kuncinya ada pada keseimbangan. Kita bisa tetap tersenyum riang di tengah riuhnya konser musik pop dunia, tanpa harus melupakan kehangatan dan keindahan bunyi gamelan di rumah sendiri. Jadi, kapan terakhir kali Anda menyapa dan menikmati seni kebudayaan daerah Anda sendiri? Mungkin, hari ini adalah saat yang paling tepat untuk mulai meliriknya kembali.