Kolom
Buang-Buang Waktu dan Biaya? Sisi Gelap Pendidikan Formal di Mata Gen Z
Dulu, ijazah perguruan tinggi dipandang sebagai tiket emas menuju masa depan yang mapan. Orang tua kita membesarkan kita dengan doktrin yang cukup sederhana: belajar yang giat, masuk universitas favorit, dapatkan gelar sarjana, dan dunia kerja akan menyambut dengan tangan terbuka. Akan tetapi bagi Generasi Z, narasi klasik tersebut kini perlahan kehilangan pesonanya. Ada pergeseran paradigma yang cukup masif di mana gelar kuliah formal tidak lagi dipandang sebagai jaminan utama menuju kesuksesan finansial maupun karier.
Sebagai generasi yang lahir dan tumbuh di tengah pesatnya era digital, Gen Z menyaksikan realitas pahit yang dialami oleh para pendahulunya. Banyak lulusan sarjana yang terjerat beban finansial tinggi, sementara lapangan pekerjaan yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah lulusan tiap tahunnya. Fenomena underemployment—di mana seseorang bekerja di luar bidangnya atau di bawah kapasitas pendidikannya—menjadi pemandangan sehari-hari. Logika sederhana pun muncul: untuk apa menginvestasikan waktu empat tahun dan dana yang tidak sedikit, jika pada akhirnya hasil yang didapatkan tidak sepadan dengan ekspektasi?
Krisis kepercayaan ini makin tereskalasi dengan hadirnya disrupsi teknologi. Internet telah mendemokratisasi informasi dan keterampilan secara radikal. Hari ini, seseorang bisa mempelajari pemrograman, desain grafis, pemasaran digital, hingga analisis data melalui platform daring seperti Coursera, Udemy, atau bahkan tutorial gratis di YouTube. Fleksibilitas dan sifat pembelajaran terapan ini jauh lebih memikat dibanding kurikulum akademis yang kerap dinilai kaku, terlalu teoritis, dan lambat beradaptasi dengan kebutuhan industri yang bergerak secepat kilat.
Di sisi lain, industri modern—terutama di sektor teknologi dan kreatif—mulai menggeser fokus mereka. Banyak perusahaan global skala besar hingga startup tidak lagi mencantumkan kualifikasi gelar sarjana sebagai syarat mutlak dalam lowongan pekerjaan. Portofolio kerja yang solid, pengalaman nyata, serta kemampuan memecahkan masalah (problem-solving) yang adaptif kini dinilai jauh lebih berharga daripada lembaran kertas berstempel universitas. Gen Z menyadari perubahan ini dengan sangat cepat; bagi mereka, bukti pengerjaan proyek nyata (proof of work) jauh lebih berbicara dibandingkan deretan nilai akademis di atas kertas.
Namun, tidak adil jika kita serta-merta menilai pergeseran ini sebagai tanda penurunan minat belajar Gen Z. Justru sebaliknya, generasi ini bersikap pragmatis dan rasional. Mereka bukan menolak pendidikan, melainkan mempertanyakan value for money dan relevansi dari institusi formal itu sendiri. Ketika biaya kuliah melonjak tinggi tetapi kurikulum yang diajarkan sudah kedaluwarsa saat mahasiswa lulus, wajar jika muncul keraguan besar terhadap nilai dari gelar tersebut.
Isu finansial juga menjadi faktor krusial. Banyak anak muda Gen Z yang enggan membebani diri mereka atau orang tua dengan biaya pendidikan yang membengkak, terutama ketika kondisi ekonomi global sedang penuh ketidakpastian. Mereka melihat peluang lain yang lebih menjanjikan secara finansial dalam jangka pendek hingga menengah, seperti membangun bisnis sendiri, menjadi pekerja lepas (freelancer), atau berkarier di industri kreator konten—bidang-bidang yang acap kali tidak memerlukan formalitas akademis, melainkan kreativitas dan konsistensi tinggi.
Meskipun demikian, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa pendidikan formal tetap memiliki peran vital yang tidak mudah digantikan sepenuhnya. Untuk bidang-bidang spesifik seperti kedokteran, hukum, teknik, dan riset ilmiah dasar, pendidikan terstruktur dan akreditasi ketat adalah hal yang mutlak demi standar keilmuan dan keselamatan publik. Selain itu, kampus sebenarnya menyajikan ekosistem sosial yang kaya: tempat membangun jaringan (networking), melatih kepemimpinan, serta mengasah pemikiran kritis melalui ruang-ruang diskusi akademis.
Sayangnya, fungsi ideal perguruan tinggi tersebut sering kali tertutup oleh orientasi yang terlalu administratif dan mekanis. Banyak universitas yang terkesan hanya menjadi pabrik pencetak ijazah ketimbang pusat inovasi dan pengembangan karakter. Inilah akar masalah yang menyulut krisis kepercayaan Gen Z. Mereka merindukan pendidikan yang substantif, fleksibel, dan langsung berdampak pada kehidupan nyata, bukan sekadar pemenuhan formalitas demi meraih status sosial.
Fenomena ini seharusnya menjadi teguran keras dan sinyal peringatan bagi para pengambil kebijakan di dunia pendidikan tinggi. Institusi akademis tidak bisa lagi berlindung di balik reputasi masa lalu. Perguruan tinggi harus berani melakukan reformasi mendasar pada sistem dan kurikulum mereka—dengan lebih banyak mengintegrasikan pengalaman praktis, kemitraan industri, serta pelatihan pemikiran kritis dan fleksibilitas mental yang tidak dapat digantikan oleh kecerdasan buatan (AI).
Pada akhirnya, krisis kepercayaan Gen Z terhadap gelar kuliah formal bukanlah sebuah bentuk kecerobohan atau keputusasaan, melainkan sebuah koreksi atas sistem yang sudah terlalu lama tidak relevan dengan tuntutan zaman. Gen Z sedang meredefinisi ulang arti belajar dan sukses. Masa depan tidak lagi milik mereka yang sekadar mengantongi ijazah, melainkan milik siapapun yang terus relevan, adaptif, dan mampu membuktikan kapasitas diri di tengah dunia yang terus berubah.