Kolom

Sering Sayang Hapus Screenshot dan Chat Lama? Kenali Bahaya Digital Hoarding bagi Mentalmu

Sering Sayang Hapus Screenshot dan Chat Lama? Kenali Bahaya Digital Hoarding bagi Mentalmu
Ilustrasi Digital Hoarding (pexels/Lisa Fotios)

Pernahkah kamu membuka aplikasi peramban (browser) di ponsel pintar atau laptopmu, lalu mendapati ikon tab sudah tidak lagi menampilkan angka melainkan simbol titik tiga atau emotikon tersenyum karena jumlahnya sudah melampaui ratusan?

Semalam, seorang kawan lama memperlihatkan layar ponselnya kepada saya sambil tertawa kecil, meski sorot matanya tak bisa menyembunyikan rasa lelah. Ponselnya terus-menerus memberikan notifikasi peringatan bahwa memori penyimpanan internalnya sudah hampir penuh 99 persen. Ketika saya bantu memeriksa penyebabnya, ternyata ada lebih dari 15.000 foto di galeri, termasuk ribuan tangkapan layar (screenshot) resep makanan, kutipan motivasi, dan artikel yang tak pernah dibaca ulang.

Di saat yang sama, aplikasi perambannya menampung 180 tab aktif, sementara aplikasi pesan instannya memajang ribuan obrolan yang sengaja dibiarkan unread. "Saya takut kalau dibuang atau ditutup, nanti sewaktu-waktu butuh malah hilang, Bro," ungkapnya membela diri.

Perilaku menumpuk data secara masif yang dialami teman saya ini merupakan representasi nyata dari fenomena psikologis di era peradaban internet yang dikenal sebagai Digital Hoarding.

Digital hoarding atau penimbunan digital merujuk pada kebiasaan seseorang mengumpulkan dan menolak untuk menghapus berkas digital, mulai dari foto, dokumen, surel, riwayat obrolan, hingga tab browser yang dibiarkan terbuka berbulan-bulan. Berbeda dengan penimbunan fisik (physical hoarding) yang barangnya terlihat menumpuk di dalam kamar, penimbunan digital terjadi secara tenang di balik layar kaca. Meskipun tidak memakan ruang fisik di rumah, penumpukan data ini secara perlahan menguras kapasitas memori gawai sekaligus energi mental pemiliknya.

Dinamika psikologis serta dampak dari fenomena ini dibahas secara mendalam dalam studi ilmiah bertajuk "Digital hoarding behaviours: Underlying motivations and potential negative consequences". Penelitian tersebut menguraikan bahwa dorongan utama di balik digital hoarding berakar pada motif antisipasi kebutuhan masa depan (just-in-case mentality), ketakutan akan kehilangan informasi berharga (FOMO), serta keterikatan emosional terhadap kenangan digital. Studi ini menegaskan bahwa penimbunan berkas digital yang tak terkendali membawa konsekuensi negatif nyata: meningkatkan stres psikologis, memicu kelelahan kognitif (cognitive overload), merusak produktivitas, hingga menimbulkan kecemasan saat harus memilah atau menghapus data.

Menariknya, isu digital hoarding ini menghadirkan perbandingan pola pikir yang unik apabila ditinjau dari kacamata lintas generasi.

Bagi generasi orang tua yang tumbuh di era analog, arsip dan dokumen fisik dijaga dengan prinsip ketat karena keterbatasan tempat. Mereka biasa memilah berkas penting dan langsung membuang kertas yang tidak terpakai agar rumah tetap rapi. Ketika dihadapkan pada kebiasaan anak muda yang menimbun ribuan foto ganda atau membiarkan ratusan tab terbuka, orang tua sering kali menganggapnya sebagai kebiasaan aneh, tidak efisien, dan bentuk ketidakpedulian terhadap kerapian.

Sebaliknya, Gen Z dan generasi muda tumbuh dalam ekosistem digital yang menawarkan kapasitas penyimpanan awan (cloud storage) yang seolah tanpa batas. Arus informasi yang bergerak teramat cepat membuat generasi muda dihantui rasa cemas bahwa mereka akan tertinggal tren, kehilangan referensi penting, atau melupakan momen berharga jika menghapus suatu berkas. Membiarkan tab browser tetap terbuka atau menyimpan ribuan screenshot difungsikan sebagai "otak cadangan" atau jaring pengaman emosional di tengah ketidakpastian dunia digital.

Di sinilah letak objektivitas yang perlu kita renungi secara jernih bersama.

Keinginan untuk mengarsipkan momen indah dan menyimpan referensi belajar adalah tindakan yang wajar serta berguna. Namun, menumpuk puluhan ribu berkas acak tanpa pernah menata atau membaca ulang sebenarnya hanyalah ilusi kontrol. Memori digital yang penuh sesak tidak pernah benar-benar membuat kita makin pintar atau aman; ia justru menjadi beban mental laten yang terus-menerus menagih perhatian kita setiap kali melihat angka notifikasi merah yang menumpuk di layar.

Menata ruang digital (digital decluttering) secara berkala, seperti memberanikan diri menutup tab yang sudah berusia bulanan atau menghapus foto ganda—adalah latihan penting untuk melatih pikiran melepaskan hal-hal yang tidak lagi relevan.

Jadi, ketika kamu menggenggam ponselmu hari ini dan melihat deretan tab atau ribuan foto yang menumpuk di galeri, cobalah bertanya pada diri sendiri, apakah semua berkas itu benar-benar memberi manfaat untuk hidupmu saat ini, atau sekadar artefak kecemasan yang lupa kamu bersihkan?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda