Kolom

Peringatan Dini Tsunami Flores Keluar Dua Menit, Apakah Cukup?

Peringatan Dini Tsunami Flores Keluar Dua Menit, Apakah Cukup?
Proses evakuasi oleh tim SAR pascagempa di Flores, Sabtu (15/8/2026). (ANTARA/ho-Kantor Sar Maumere)

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pada pukul 04.58.23 WIB dengan kedalaman 15 kilometer. Gempa tersebut kemudian memicu peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah pesisir Nusa Tenggara Timur.

BMKG menerbitkan Peringatan Dini Tsunami pertama pada pukul 05.00.39 WIB, sekitar 2 menit 16 detik setelah gempa terjadi. Dalam pemodelannya, BMKG memperkirakan tsunami dapat tiba di sejumlah wilayah dalam waktu yang relatif singkat. Manggarai Utara dan Ngada Utara, misalnya, diperkirakan mengalami kedatangan gelombang pada pukul 05.02.23 WIB, sekitar empat menit setelah gempa terjadi.

Selisih waktu tersebut menunjukkan bahwa kecepatan penerbitan peringatan menjadi faktor penting dalam menghadapi tsunami. Namun, waktu penerbitan peringatan tidak sama dengan waktu yang tersedia bagi masyarakat untuk melakukan evakuasi. Setelah peringatan dikeluarkan, informasi masih harus diterima, dipahami, diteruskan, dan diikuti dengan tindakan menuju lokasi yang aman.

Peringatan Dini Tidak Berhenti di BMKG

Sistem peringatan dini tsunami pada dasarnya merupakan rangkaian proses yang melibatkan lebih dari sekadar deteksi gempa. Informasi mengenai potensi tsunami harus diteruskan melalui berbagai saluran komunikasi hingga mencapai masyarakat yang berada di wilayah terdampak. Kecepatan pada setiap tahapan tersebut dapat menentukan apakah peringatan yang dikeluarkan benar-benar dapat digunakan untuk melakukan evakuasi.

Hal tersebut menjadi perhatian dalam penelitian Harkunti Pertiwi Rahayu dkk, mengenai sistem peringatan tsunami di kota-kota pesisir Indonesia.

Penelitian yang diterbitkan pada 2020 tersebut mengidentifikasi persoalan “last mile”, yaitu kesenjangan antara informasi peringatan yang dihasilkan lembaga resmi dan penerimaan informasi tersebut oleh masyarakat yang berada dalam risiko.

Studi itu juga menekankan pentingnya saluran komunikasi formal dan informal serta keterlibatan komunitas lokal dalam penyebaran peringatan. Penelitian tentang sistem peringatan tsunami di Indonesia.

Persoalan waktu menjadi semakin penting di kawasan Flores karena wilayah tersebut memiliki sumber potensi tsunami yang relatif dekat dengan pesisir. 

Penelitian Mardi Wibowo dan sejumlah peneliti mengenai potensi tsunami akibat Flores Back-Arc Thrust di Labuan Bajo yang diterbitkan dalam Indonesian Journal of Geography menunjukkan bahwa dalam skenario tertentu, gelombang tsunami dapat mencapai pesisir kurang dari 2,5 menit setelah gempa.

Pemodelan tersebut juga memperkirakan tinggi tsunami sekitar 3 meter dan dapat mencapai 8 hingga 9 meter pada skenario tertentu. Penelitian Flores Back-Arc Thrust di Labuan Bajo.

Studi tersebut bukan pemodelan khusus terhadap gempa Flores pada 15 Agustus 2026. Namun, temuan tersebut memberikan gambaran mengenai karakter ancaman tsunami di wilayah yang berdekatan dengan Flores Back-Arc Thrust. Dalam kondisi seperti itu, waktu antara terjadinya gempa, keluarnya peringatan, dan tibanya gelombang dapat menjadi sangat terbatas.

Waktu Peringatan dan Waktu Evakuasi Berbeda

Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam npj Natural Hazards pada Juni 2026 juga menunjukkan pentingnya memperhitungkan kemampuan masyarakat melakukan evakuasi. Ni Nyoman Era Jumantini dkk, memodelkan evakuasi tsunami di Panggarangan, Banten, dengan mempertimbangkan waktu kedatangan tsunami, kondisi geografis, jaringan evakuasi, serta perilaku masyarakat.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ketika waktu kedatangan tsunami terbatas, faktor seperti kondisi medan, jaringan evakuasi, dan keterlambatan pengambilan keputusan masyarakat dapat memengaruhi keberhasilan evakuasi. Dengan demikian, waktu peringatan perlu dilihat bersama dengan waktu yang dibutuhkan masyarakat untuk mencapai tempat aman. Penelitian evakuasi tsunami di Panggarangan, Banten.

Dalam konteks gempa Flores, peringatan yang dikeluarkan sekitar dua menit setelah gempa menunjukkan bahwa sistem deteksi dan peringatan harus bekerja dalam waktu sangat singkat. Namun, efektivitasnya tidak dapat diukur hanya berdasarkan selisih antara waktu gempa dan waktu keluarnya peringatan.

Kecepatan penyebaran informasi, kesiapan masyarakat, ketersediaan jalur evakuasi, hingga waktu tempuh menuju tempat aman turut menentukan apakah peringatan tersebut dapat menyelamatkan masyarakat.

Dengan demikian, dua menit bukanlah batas waktu evakuasi, melainkan salah satu bagian dari keseluruhan rantai peringatan dini. Semakin dekat suatu wilayah dengan sumber tsunami, semakin penting masyarakat memahami langkah evakuasi sebelum bencana terjadi, sehingga peringatan yang datang dalam hitungan menit dapat segera diikuti dengan tindakan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda