Kolom
Merdeka dari People Pleasing: Mengapa Gen Z Harus Mulai Belajar Berkata 'Tidak'
Ada satu kata sederhana yang ternyata tidak selalu mudah diucapkan: “tidak”. Momentum kemerdekaan kali ini mungkin bisa menjadi titik balik bagi Gen Z untuk belajar berhenti menjadi people pleaser dan berani menetapkan batas diri.
Diakui atau tidak, menolak permintaan orang lain terkadang bisa terasa lebih sulit. Takut dianggap tidak peduli, khawatir mengecewakan orang lain, atau cemas hubungan berubah membuat kita memilih berkata “iya” meski sebenarnya tidak ingin.
Sekilas perilaku people pleasing terlihat seperti sikap baik dan pengertian. Namun, jika terus dilakukan, keinginan untuk membuat semua orang senang bisa membuat kita lupa mempertimbangkan kebutuhan sendiri.
Mungkin sudah waktunya kita bertanya pada diri sendiri: apakah kita benar-benar sudah merdeka dan bebas dalam hidup jika masih merasa tidak enak hati setiap kali ingin berkata “tidak”? Sebab, berkata "iya" juga belum tentu kita benar-benar setuju.
Ketika “Iya” Tidak Selalu Berarti Ikhlas
Ada perbedaan antara membantu karena memang ingin dengan takut dianggap buruk jika menolak. Masalahnya, people pleasing sering membuat batas tersebut menjadi kabur.
Kita menerima ajakan meski sedang ingin beristirahat. Mengambil tugas tambahan meski jadwal sudah penuh. Selalu menjadi tempat curhat orang lain meski diri sendiri sedang membutuhkan ruang.
Pada akhirnya, kita mungkin terlihat baik di mata orang lain, tapi diam-diam merasa lelah mental. Menurut saya, menjadi orang baik tidak harus berarti selalu tersedia untuk semua orang.
Gen Z dan Tekanan untuk Selalu “Baik”
Di era media sosial, tekanan untuk terlihat "baik" juga semakin kompleks. Kita hidup dalam lingkungan di mana semua hal mudah dinilai. Menolak dianggap jutek, menetapkan batas disebut egois, dan tidak ikut dalam suatu kegiatan dianggap tidak solid.
Akibatnya, kita belajar membaca ekspektasi orang lain sebelum mendengarkan kebutuhan sendiri. Padahal, setiap orang berhak memiliki batas sesuai standar masing-masing, bukan lagi standar sosial yang dinormalisasi.
Tidak semua permintaan harus dipenuhi. Tidak semua ajakan harus diterima. Dan tidak semua orang harus menyukai kita. Kesadaran seperti ini penting bagi Gen Z yang sedang membangun identitas dan menentukan arah hidupnya.
Belajar Mengatakan “Tidak” Bukan Berarti Egois
Banyak orang takut berkata “tidak” karena menganggap penolakan sama dengan egoisme. Padahal, keduanya tidak selalu sama. Belajar menolak orang lain bukan berarti kita egois, kok.
Menjaga waktu, energi, dan kemampuan diri juga bukan berarti tidak peduli. Justru, batas yang sehat membantu kita memahami mana tanggung jawab yang memang bisa dijalankan dan mana yang sebaiknya ditolak.
Kita tetap bisa berkata “tidak” dengan sopan. Daripada langsung menyetujui ajakan, kita bisa meminta waktu untuk mempertimbangkannya. Sederhana, tapi memang tidak selalu mudah dipraktikkan.
Kemerdekaan dan Berani Menetapkan Batas
Ketika berbicara tentang kemerdekaan, kita sering membayangkannya dalam konteks kebebasan bangsa. Namun, kemerdekaan juga memiliki sisi personal dengan merdeka memiliki ruang untuk menentukan apa yang sesuai dengan diri kita. Bagi Gen Z, salah satu bentuknya dengan berani menetapkan batas tanpa terus dihantui rasa bersalah.
Kita tidak harus selalu menjadi teman yang paling siap membantu. Tidak harus selalu menjadi anak yang memenuhi semua ekspektasi. Bahkan kita tidak harus menjadi rekan kerja yang selalu mengatakan iya dalam semua situasi. Kita boleh punya prioritas sendiri, dan itu bukan kesalahan apalagi "dosa" sosial.
“Tidak” Itu Bentuk Self-Respect
Pada akhirnya, belajar mengatakan “tidak” bukan tentang menjadi tidak peduli. Sebaliknya, itu bisa menjadi bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Kita belajar bahwa diri sendiri juga layak dipertimbangkan dalam setiap keputusan.
Mungkin sekarang ini sudah waktunya kita memaknai kemerdekaan dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Merdeka berarti bebas menentukan batas, memilih prioritas, dan berkata “tidak” jika sesuatu tidak sesuai dengan kemampuan atau kebutuhan kita.
Ingat, kita tidak dilahirkan untuk membuat semua orang senang. Dan mungkin, salah satu bentuk keberanian terbesar Gen Z hari ini adalah berani belajar mengatakan “tidak” tanpa merasa harus meminta maaf karena telah memilih diri sendiri.