Kolom

Jangan Ukur Keberhasilan Politik dari Banyaknya Rapat dan Sorotan Kamera

Jangan Ukur Keberhasilan Politik dari Banyaknya Rapat dan Sorotan Kamera
Ilustrasi Pemerintah Indonesia (Unsplash/@marcooriolesi)

Dalam politik, kesibukan sering kali disalahartikan sebagai keberhasilan. Kalender yang penuh rapat, agenda perjalanan dinas yang padat, kunjungan ke berbagai daerah, serta frekuensi tampil di depan kamera mudah menciptakan kesan bahwa seorang pejabat sedang bekerja keras. Padahal, negara tidak berjalan berdasarkan seberapa penuh kalender seorang pejabat, melainkan berdasarkan seberapa nyata kebijakan yang dihasilkan dan dirasakan masyarakat.

Kita perlu berhenti mengukur keberhasilan politik dari aktivitas administratif semata.

Rapat memang penting. Perjalanan dinas juga bisa diperlukan. Publikasi melalui media pun memiliki fungsi untuk menjelaskan kebijakan kepada masyarakat. Namun semuanya hanyalah alat, bukan ukuran akhir keberhasilan. Rapat yang berlangsung berjam-jam tidak otomatis menghasilkan keputusan yang baik. Perjalanan dinas ke banyak daerah tidak otomatis membuat persoalan daerah terselesaikan. Begitu pula kemunculan berkali-kali di depan kamera tidak serta-merta menunjukkan bahwa seorang pejabat memahami persoalan publik.

Ukuran sesungguhnya jauh lebih sederhana: apa yang berubah setelah semua aktivitas itu dilakukan?

Apakah pelayanan publik menjadi lebih cepat? Apakah biaya masyarakat berkurang? Apakah sekolah menjadi lebih layak? Apakah fasilitas kesehatan semakin mudah dijangkau? Apakah lapangan pekerjaan bertambah? Apakah korupsi dan pemborosan anggaran berkurang? Apakah kebijakan yang dibuat mampu menyelesaikan persoalan, bukan sekadar menghasilkan dokumen baru?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini seharusnya menjadi standar evaluasi politik.

Masalahnya, politik modern sangat mudah terjebak pada politik penampilan. Kamera menyukai aktivitas yang mudah divisualisasikan: pejabat memimpin rapat, meninjau proyek, berdialog dengan masyarakat, memegang mikrofon, atau berkunjung ke berbagai daerah. Aktivitas tersebut kemudian dikemas menjadi narasi kinerja.

Padahal, pekerjaan pemerintahan yang paling penting sering kali justru tidak spektakuler. Memperbaiki sistem pengadaan, menyederhanakan birokrasi, membangun basis data yang akurat, memperbaiki distribusi anggaran, mengawasi program, memastikan obat tersedia di fasilitas kesehatan, atau memperbaiki mekanisme pelayanan publik mungkin tidak menarik secara visual. Tetapi dampaknya bisa jauh lebih besar daripada puluhan konferensi pers.

Karena itu, masyarakat perlu mengubah cara menilai politik.

Jangan hanya bertanya, “Berapa banyak kegiatan yang dilakukan?” tetapi tanyakan, “Berapa banyak masalah yang berhasil diselesaikan?”

Jangan hanya menghitung berapa kali pejabat turun ke lapangan, tetapi lihat apakah kunjungan tersebut menghasilkan perubahan setelah kamera pergi. Jangan hanya melihat banyaknya program, tetapi periksa apakah program tersebut tepat sasaran, berkelanjutan, dan menggunakan uang publik secara bertanggung jawab.

Begitu pula dengan perjalanan dinas. Perjalanan ke daerah tentu bisa menjadi bagian penting dari pekerjaan pemerintahan. Namun perjalanan dinas harus memiliki tujuan yang jelas, hasil yang dapat diukur, dan tindak lanjut yang transparan. Jangan sampai perjalanan justru menjadi aktivitas rutin yang menghabiskan anggaran tanpa memberikan perubahan berarti bagi masyarakat.

Pada akhirnya, politik bukan perlombaan menjadi orang yang paling sibuk. Politik adalah pekerjaan mengelola kekuasaan dan sumber daya publik untuk menghasilkan kehidupan yang lebih baik.

Maka keberhasilan seorang pejabat seharusnya tidak ditentukan oleh tebalnya laporan kegiatan, panjangnya daftar rapat, banyaknya perjalanan dinas, atau ramainya pemberitaan. Semua itu hanya aktivitas di permukaan.

Ukuran yang lebih penting adalah dampak.

Jika setelah bertahun-tahun masyarakat masih menghadapi persoalan yang sama, pelayanan tetap lambat, ketimpangan tetap lebar, dan anggaran terus habis tanpa hasil yang sepadan, maka banyaknya aktivitas tidak boleh digunakan sebagai bukti keberhasilan.

Sebab pada akhirnya, rakyat tidak membutuhkan pejabat yang sekadar terlihat bekerja. Rakyat membutuhkan pemerintahan yang benar-benar bekerja.

Kamera bisa merekam rapat. Laporan bisa mencatat perjalanan. Statistik bisa menghitung jumlah kegiatan. Tetapi hanya perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat yang mampu membuktikan apakah kekuasaan benar-benar digunakan untuk kepentingan publik.

Dan di situlah seharusnya politik mempertanggungjawabkan dirinya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda