Kolom

Hati-Hati, Rusaknya Rumah Satwa Endemik Bisa Jadi Awal Runtuhnya Ekosistem Hutan

Hati-Hati, Rusaknya Rumah Satwa Endemik Bisa Jadi Awal Runtuhnya Ekosistem Hutan
Ilustrasi Orang Utan sebagai Satwa Endemik Indonesia (unsplash.com/alex thompson)

Satwa endemik seperti orang utan, bekantan, dan burung menjaga hutan tetap hidup. Setiap satwa memiliki pekerjaan ekologisnya sendiri. Kehadiran satwa endemik di hutan bukan sekadar memperkaya pemandangan, tetapi menjadi bagian dari mekanisme yang membuat ekosistem tetap berjalan.

Indonesia memiliki kekayaan satwa yang luar biasa. Per Agustus 2026, data Kementerian Kehutanan yang merangkum daftar IUCN menunjukkan bahwa pada 2025 terdapat 17.483 spesies Indonesia yang tercatat dalam IUCN Red List, terdiri atas 10.867 satwa, 6.607 tumbuhan, dan 9 fungi. Sebanyak 2.735 spesies atau 15,6 persen masuk kategori terancam punah. Angka tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga satwa berarti menjaga bagian penting dari ekosistem yang lebih besar.

Sering kali hutan dibayangkan sebagai kumpulan pohon yang berdiri rapat. Padahal, hutan adalah ruang hidup yang jauh lebih rumit. Pohon menyediakan makanan dan tempat berlindung, sedangkan satwa membantu tumbuhan berkembang, menyebarkan biji, melakukan penyerbukan, hingga menjaga rantai makanan.

Orang utan menjadi salah satu contoh paling mudah untuk melihat hubungan tersebut. Orang utan Kalimantan merupakan satwa yang secara alami ditemukan di Kalimantan dan memiliki wilayah jelajah luas. Makanan yang didominasi buah membuat primata ini berperan dalam memencarkan biji tumbuhan. Bahkan saya begitu takjub melihat peran yang mereka miliki.

Peran tersebut seperti makan biji-bijian yang bijinya dapat berpindah mengikuti pergerakan orang utan. Dari sinilah regenerasi hutan berlangsung secara alami. Ada benih yang jatuh jauh dari pohon induknya, kemudian memiliki kesempatan tumbuh menjadi pohon baru.

Kehilangan orang utan karena perburuan atau hilangnya habitat juga tidak berhenti pada hilangnya satu jenis satwa. Kementerian Kehutanan menjelaskan bahwa orang utan dapat menjadi umbrella species. Hilangnya orang utan dapat menjadi tanda bahwa banyak spesies lain yang hidup dalam ekosistem yang sama ikut menghadapi tekanan.

Cerita berbeda datang dari bekantan, primata endemik Kalimantan yang lekat dengan habitat rawa dan mangrove. Hidung panjang yang menjadi ciri khasnya memang menarik perhatian, tetapi nilai ekologis bekantan jauh lebih penting daripada sekadar penampilannya.

Habitat bekantan berkaitan erat dengan vegetasi yang menjadi sumber pakannya. Di Taman Wisata Alam Pulau Bakut, Kalimantan Selatan, misalnya, penanaman pohon rambai dilakukan untuk mendukung habitat bekantan karena buah rambai merupakan salah satu makanan utamanya. Upaya tersebut menunjukkan bahwa melindungi satwa berarti sekaligus menjaga tumbuhan dan habitat yang menopang kehidupannya.

Hubungan tersebut seperti lingkaran. Hutan menyediakan makanan bagi bekantan, bekantan menjadi bagian dari proses ekologis, dan keberadaan habitat yang sehat memungkinkan berbagai organisme lain ikut bertahan. Ketika satu bagian rusak, bagian lain dapat ikut terkena dampaknya.

Lalu bagaimana dengan burung? Ukuran tubuh burung memang relatif kecil dibandingkan pepohonan yang menjadi tempat hidupnya. Namun, perannya tidak bisa dianggap kecil. Burung dapat membantu penyebaran biji, penyerbukan, dan pengendalian populasi serangga.

Penelitian BRIN yang terbit pada 2026 juga menunjukkan bagaimana perubahan habitat dapat memengaruhi komunitas burung. Studi di kawasan IPB Dramaga menemukan 42 spesies burung dari 28 famili, dengan sekitar 50 persen komunitas yang diamati merupakan pemakan serangga.

Kawasan agroforestri mempunyai nilai keanekaragaman dan keseragaman lebih tinggi daripada tempat perkebunan kelapa sawit yang diteliti. Temuan tersebut memperjelas bahwasannya kualitas habitat ditentukan oleh kehidupan burung.

Artinya, ketika hutan kehilangan pohon, sumber makanan, atau tempat bersarang, burung ikut kehilangan rumah. Sebaliknya, ketika habitat dipertahankan, burung dapat menjalankan perannya dalam jaringan kehidupan hutan.

Apa dampaknya jika satwa endemik hilang? Dampaknya tidak selalu berarti satu satwa hilang lalu hutan langsung runtuh. Perubahan biasanya terjadi secara bertahap. Berkurangnya penyebaran biji dapat memengaruhi regenerasi tumbuhan. Hilangnya predator dapat mengubah keseimbangan populasi mangsa.

Berkurangnya burung penyerbuk atau pemakan serangga dapat memengaruhi hubungan antara tumbuhan dan organisme lain. Lalu konservasi satwa endemik tidak seharusnya hanya dipahami sebagai upaya menyelamatkan hewan yang dianggap langka. Yang sebenarnya sedang dijaga adalah hubungan ekologis yang terbentuk selama ribuan tahun.

Kondisi tersebut semakin penting karena banyak satwa endemik memiliki wilayah persebaran yang terbatas. Jika habitatnya rusak, pilihan untuk berpindah ke tempat lain juga semakin sedikit. Saya membaca sebuah penelitian BRIN mengenai burung endemik di Kangean dapat dijadikan contoh untuk menunjukkan kerusakan habitat dan perburuan dapat meningkatkan risiko hilangnya populasi satwa endemik di wilayah tersebut.

Pada akhirnya, hutan yang sehat bukan hanya memiliki banyak pohon. Hutan yang sehat ialah tempat orang utan masih dapat mencari buah, bekantan masih menemukan habitatnya, dan burung masih memiliki ruang untuk bersarang serta mencari makan.

Satwa endemik adalah bagian dari cerita panjang tersebut. Mereka tidak datang ke hutan untuk menjadi penghias alam. Mereka hidup, makan, berpindah, berkembang biak, dan tanpa disadari membantu menjaga kehidupan di sekitarnya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda