Kolom

Standar Rekrutmen Makin Tinggi, Mengapa Gaji Tak Ikut Mengimbangi?

Standar Rekrutmen Makin Tinggi, Mengapa Gaji Tak Ikut Mengimbangi?
Ilustrasi wawancara kerja (magnific)

Dulu, mencari kerja mungkin cukup dengan ijazah, pengalaman, dan kemampuan yang relevan. Sekarang, tuntutan dari perusahaan terhadap kandidat terasa semakin panjang. Kandidat bisa diminta menguasai bahasa Inggris, memiliki sertifikasi tertentu, mengikuti tes tambahan, sampai memenuhi standar yang rasanya lebih cocok untuk perusahaan multinasional.

Masalahnya, berbagai tuntutan tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan gaji yang ditawarkan. Ada posisi yang meminta kemampuan bahasa Inggris melalui IELTS atau TOEFL, tetapi kompensasinya masih berkisar di angka UMR. Pencari kerja pun harus mengeluarkan uang lebih dulu hanya untuk membuktikan bahwa dirinya layak direkrut.

Lantas, apakah masuk akal meminta kualifikasi tinggi jika perusahaan belum bersedia memberikan gaji yang sepadan?

Standar Rekrutmen Boleh Tinggi, Asal Punya Alasan

Menurut saya, tidak ada yang salah dari perusahaan menetapkan standar tinggi dalam proses rekrutmen. Setiap posisi memang punya kebutuhan berbeda. Pekerjaan yang berhubungan dengan klien asing, misalnya, tentu membutuhkan kemampuan bahasa Inggris yang baik.

Namun, tidak sedikit lowongan kerja yang mencantumkan berbagai persyaratan tersebut seolah menjadi standar wajib bagi semua kandidat, terlepas dari relevansinya dengan posisi yang ditawarkan.

Jika kemampuan bahasa Inggris memang dibutuhkan, perusahaan sebenarnya bisa menilainya lewat wawancara atau tes yang lebih sederhana. Lain halnya jika kandidat harus membayar jutaan rupiah untuk sebuah sertifikat yang belum tentu benar-benar terpakai dalam pekerjaan.

Menurut saya, perusahaan perlu bisa menjelaskan alasan di balik setiap persyaratan. Kandidat juga berhak tahu apakah kemampuan yang diminta memang akan digunakan dalam pekerjaan atau hanya menjadi cara untuk menyaring pelamar. Sebab, semakin banyak syarat yang dicantumkan, semakin besar pula ekspektasi yang dibangun terhadap posisi tersebut.

Pencari Kerja Bukan Satu-Satunya Pihak yang Perlu Berinvestasi

Selama ini, pencari kerja sering diberi nasihat untuk terus meningkatkan kualitas diri. Ambil sertifikasi, belajar bahasa Inggris, ikut kursus, tambah pengalaman, bangun portofolio, dan jangan berhenti mengembangkan kemampuan. Semua itu memang masuk akal karena persaingan kerja membuat seseorang perlu punya nilai lebih agar tidak mudah tersingkir.

Namun, saya rasa perusahaan juga perlu berinvestasi untuk mendapatkan tenaga kerja yang berkualitas. Jangan sampai seluruh beban peningkatan kualitas diberikan kepada kandidat, sementara perusahaan tinggal menikmati hasilnya setelah kandidat berhasil melewati semua proses seleksi.

Bayangkan seseorang yang sedang menganggur harus membayar tes bahasa Inggris, mengikuti kursus, datang ke tempat wawancara, dan mengeluarkan berbagai ongkos lain hanya untuk mendapatkan kesempatan bekerja.

Bagi orang yang punya tabungan atau dukungan finansial, biaya tersebut mungkin masih bisa ditanggung. Namun, bagi beberapa orang, satu sertifikasi mahal bisa berarti harus mengorbankan kebutuhan sehari-hari.

Melihat fenomena tersebut, persyaratan yang semakin mahal berpotensi membuat dunia kerja lebih mudah dimasuki oleh mereka yang punya kemampuan finansial untuk memenuhinya.

Kalau Minta Lebih, Mengapa Tak Mau Memberi Lebih?

Ironisnya, perusahaan ingin mendapatkan kandidat dengan kemampuan yang lengkap, tetapi tawaran gajinya masih berada di kisaran yang sangat standar.

Menurut saya, yang perlu dilihat bukan hanya besar kecilnya gaji, tetapi juga bagaimana perusahaan menghargai kemampuan yang mereka tuntut dari kandidat. Jika suatu kompetensi dianggap penting hingga dijadikan syarat wajib, sudah sewajarnya hal tersebut turut dipertimbangkan dalam menentukan besaran kompensasi.

Perusahaan tentu punya hak menentukan standar kandidat yang mereka inginkan. Namun, kandidat juga punya hak untuk menilai apakah pekerjaan tersebut layak diperjuangkan.

Toh, mencari kerja bukan berarti kandidat harus kehilangan posisi untuk memilih. Perusahaan punya kriteria, kandidat juga punya pertimbangan. Kalau hanya satu pihak yang boleh punya standar, namanya bukan rekrutmen, tapi audisi.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda