Kolom

Melihat Kondisi Negara Hari Ini, Bolehkah Kita Tetap Menikmati Hidup?

Melihat Kondisi Negara Hari Ini, Bolehkah Kita Tetap Menikmati Hidup?
Ilustrasi seseorang melihat layar ponsel (magnific)

Berita buruk tentang kondisi negara rasanya datang tanpa jeda. Baru selesai membaca satu berita, sudah muncul isu lain yang tak kalah membuat kepala penuh. Media sosial pun membuat kita semakin sulit mengambil jarak karena informasi terus bergerak sepanjang hari.

Tidak heran kalau lama-lama muncul rasa lelah. Namun, mengambil jeda dari berita sering kali diikuti rasa bersalah. Ada kekhawatiran bahwa berhenti mengikuti perkembangan isu berarti tidak peduli atau apatis, apalagi ketika banyak hal memang sedang membutuhkan perhatian. Lantas, bolehkah kita tetap menikmati hidup di tengah kondisi negara yang tidak baik-baik saja?

Hidup Harus Terus Berjalan, Apa Pun Kondisinya

Menurut saya, peduli pada kondisi negara dan menikmati hidup bisa berjalan bersamaan. Kita tetap bisa mengikuti isu yang penting, membicarakannya dengan orang lain, bahkan ikut mengambil sikap, tanpa harus menjadikan setiap kabar buruk itu sebagai sesuatu yang memenuhi kepala sepanjang hari.

Ada anggapan bahwa orang yang benar-benar peduli harus selalu mengikuti perkembangan terbaru. Padahal, kapasitas setiap orang untuk menerima informasi tidak sama. Memaksakan diri terus mengikuti semuanya justru bisa membuat kita kehilangan energi untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya masih mampu kita lakukan.

Menikmati hidup juga tidak otomatis berarti menutup mata terhadap keadaan. Pergi ngopi, bertemu teman, menonton film, atau menghabiskan waktu untuk hobi adalah bagian dari kehidupan yang tetap berjalan.

Hal-hal sederhana semacam itu mungkin terlihat tidak berkaitan dengan masalah besar di luar sana, tetapi justru dari sanalah kita mendapatkan kesempatan untuk beristirahat dan kembali menjadi diri sendiri.

Menurut saya, kita tidak perlu merasa bersalah hanya karena masih bisa tertawa di tengah situasi yang sedang buruk. Dunia tidak akan menjadi lebih baik hanya karena kita memaksa diri untuk terus merasa sedih. Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak agar bisa kembali melihat keadaan dengan kepala yang lebih jernih.

Peduli Tak Harus Berarti Terus-menerus Cemas

Media sosial membuat kita lebih mudah mengikuti apa yang terjadi. Masalahnya, akses yang begitu cepat juga membuat kita merasa harus selalu tahu.

Lama-lama, kita seperti tidak punya kesempatan untuk benar-benar berhenti. Ada perasaan takut ketinggalan informasi, takut tidak tahu perkembangan terbaru, atau bahkan takut dianggap tidak peduli kalau memilih menutup aplikasi. Padahal, tidak mungkin juga kita terus-menerus berada dalam kondisi siap menerima kabar buruk.

Menurut saya, mengikuti isu publik tetap penting, tetapi kita juga berhak menentukan batasnya. Tidak semua berita harus dibaca, tidak semua perdebatan harus diikuti, dan tidak semua unggahan perlu kita respons. Kita bisa memilih informasi yang memang penting bagi kita tanpa harus menjadikan timeline sebagai sumber informasi yang terus menyala sepanjang hari.

Apalagi kalau berita yang kita konsumsi mulai terbawa sampai ke kehidupan sehari-hari. Susah tidur, sulit berkonsentrasi, mudah cemas, bahkan merasa tidak tenang meski sedang melakukan aktivitas yang sebenarnya kita sukai. Kalau sudah seperti itu, mengambil jarak rasanya menjadi solusi yang harus diambil.

Ada Hal yang Memang di Luar Kendali

Melihat kondisi negara yang penuh dengan masalah, wajar kalau kita ingin ikut melakukan sesuatu. Namun, kita juga perlu menyadari bahwa tidak semua hal berada dalam jangkauan kita.

Ada keputusan yang dibuat jauh dari kehidupan kita, ada masalah yang membutuhkan waktu panjang untuk diselesaikan, dan ada keadaan yang memang tidak bisa berubah hanya karena kita terus memikirkannya.

Menurut saya, selama kita sudah menjalankan porsi yang memang bisa kita lakukan, entah dengan menyuarakan pendapat, membantu dari lingkungan terdekat, atau sekadar tidak ikut menyebarkan informasi yang keliru, itu sudah punya arti.

Kita tidak perlu terus merasa kurang hanya karena belum bisa melakukan lebih banyak. Ada batas kemampuan yang perlu dihargai, dan setelah melakukan bagian kita, rasanya tidak salah untuk kembali menjalani hidup tanpa membawa rasa bersalah.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda