Kolom
Bersih-Bersih Sungai Tak Cukup Jika Keran Plastik Terus Mengalir
Setiap kali sungai dipenuhi sampah, respons yang paling mudah adalah mengadakan kerja bakti. Warga turun ke sungai. Komunitas mengangkat botol plastik. Relawan mengumpulkan kantong belanja, kemasan makanan, gelas sekali pakai, dan berbagai jenis sampah yang mengambang di permukaan air. Foto-foto kemudian beredar di media sosial dengan pesan tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Tidak ada yang salah dengan membersihkan sungai. Bahkan, kegiatan tersebut penting dan harus terus dilakukan ketika sungai sudah terlanjur tercemar. Tetapi jika dipikirkan lebih dalam, mengapa kita terus membersihkan sungai yang sama jika keran sampah plastik tidak pernah ditutup?
Di sinilah persoalan sampah sering berhenti pada hilir. Kita melihat botol plastik di sungai, lalu menyalahkan orang yang membuangnya. Kita mengajak masyarakat tidak membuang sampah sembarangan, membawa tas belanja sendiri, menggunakan tumbler, memilah sampah, dan mengikuti kegiatan bersih-bersih.
Semua tindakan tersebut penting. Namun, jika setiap hari jutaan produk sekali pakai terus diproduksi dan didistribusikan, persoalan tidak akan selesai hanya dengan meminta konsumen menjadi lebih disiplin.
Sampah plastik bukan muncul begitu saja di sungai. Ada rantai panjang di belakangnya: bahan baku, desain produk, proses produksi, kemasan, distribusi, konsumsi, pembuangan, pengumpulan, pemilahan, pengolahan, hingga akhirnya sebagian masuk ke lingkungan. Artinya, sungai sering kali hanya menjadi tempat terakhir dari sebuah persoalan yang dimulai jauh sebelum sampah menyentuh air.
Bayangkan sebuah botol minuman yang digunakan hanya beberapa menit. Setelah isinya habis, nilai ekonominya bagi konsumen hampir selesai. Tetapi materialnya dapat bertahan jauh lebih lama di lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Di sinilah desain produk menjadi penting.
Mengapa begitu banyak barang konsumsi harus menggunakan kemasan sekali pakai? Mengapa sistem distribusi masih sangat bergantung pada material yang sulit dikumpulkan kembali? Mengapa konsumen sering dibebani tanggung jawab memilah sampah, sementara sistem pengumpulan dan pengolahannya belum selalu tersedia secara memadai?
Pertanyaan tersebut tidak berarti membebaskan masyarakat dari tanggung jawab. Membuang sampah ke sungai tetap salah. Konsumen tetap memiliki kewajiban untuk mengurangi penggunaan barang sekali pakai, menggunakan kembali barang yang memungkinkan, dan membuang sampah pada tempatnya. Tetapi tanggung jawab lingkungan tidak seharusnya berhenti di tangan konsumen.
Produsen juga memiliki peran penting karena merekalah yang menentukan banyak hal sejak awal: material apa yang digunakan, bagaimana produk dikemas, apakah kemasannya dapat digunakan kembali, apakah mudah didaur ulang, dan bagaimana produk tersebut dapat dikumpulkan setelah digunakan.
Jika keuntungan diperoleh ketika produk dijual, tetapi biaya lingkungan setelah produk menjadi sampah sepenuhnya ditanggung masyarakat, maka ada ketimpangan dalam sistem tersebut. Masyarakat membayar produk ketika membeli. Pemerintah dan warga kemudian mengeluarkan sumber daya untuk mengelola sampah. Relawan membersihkan sungai. Lingkungan menanggung dampaknya. Sementara produsen dapat kembali memproduksi dan menjual produk berikutnya.
Karena itu, prinsip tanggung jawab produsen perlu diperkuat. Produsen seharusnya ikut memikirkan perjalanan produknya setelah dikonsumsi, bukan hanya sampai barang berpindah tangan kepada pembeli. Namun, tanggung jawab tersebut juga harus disertai sistem yang nyata. Pemilahan sampah tidak akan efektif jika semua sampah akhirnya tercampur kembali. Kampanye daur ulang tidak banyak berarti jika tidak tersedia fasilitas pengumpulan dan pengolahan yang memadai. Mengajak masyarakat membawa tumbler juga tidak menyelesaikan masalah jika produk sekali pakai terus menjadi pilihan utama dalam sistem konsumsi.
Kita membutuhkan perubahan dari pendekatan “bersihkan sampah” menjadi “kurangi sampah dari sumbernya". Membersihkan sungai adalah respons terhadap kerusakan. Mengurangi produksi sampah yang tidak perlu adalah pencegahan. Keduanya penting, tetapi pencegahan harus mendapatkan perhatian yang jauh lebih besar.
Pemerintah perlu memperkuat regulasi, pengawasan, infrastruktur pengelolaan sampah, serta insentif bagi sistem guna ulang dan ekonomi sirkular. Produsen perlu didorong untuk mengurangi material yang tidak perlu dan bertanggung jawab terhadap kemasan pascakonsumsi. Masyarakat perlu mendapatkan akses yang mudah untuk memilah dan mengembalikan sampah. Sebab tidak adil jika seluruh persoalan plastik disederhanakan menjadi persoalan moral individu.
Kita tidak bisa terus-menerus menyuruh masyarakat membersihkan sungai sambil membiarkan aliran produk sekali pakai terus membanjiri pasar. Sungai yang bersih bukan hanya sungai yang sampahnya sudah diangkat. Sungai yang benar-benar terjaga adalah sungai yang memiliki lebih sedikit sampah untuk dibersihkan. Karena itu, jangan hanya bertanya siapa yang membuang botol plastik ke sungai.
Tanyakan pula siapa yang memproduksinya, bagaimana botol itu dirancang, mengapa sistem pengembaliannya tidak berjalan, siapa yang bertanggung jawab setelah produk digunakan, dan mengapa masyarakat terus diminta membersihkan akibat dari sebuah sistem produksi dan konsumsi yang belum selesai dibenahi. Sebab jika keran plastik terus mengalir, sebanyak apa pun sungai dibersihkan, sampah akan selalu menemukan jalan untuk kembali.