Kolom
Mengapa Anak Zaman Now Ingin Jadi YouTuber ketimbang Astronot?
Saya pernah terjebak dalam obrolan yang agak mengacaukan ketenangan batin. Bukan karena berdebat soal politik, utang negara, atau mahalnya harga cabai di pasar. Melainkan saat mendengar seorang anak kecil ditanya oleh bapaknya, “Kalau besar mau jadi apa?” Si anak menjawab dengan pendek dan sangat mantap: “saya ingin menjadi gamer.”
Seketika saya terdiam. Dulu, waktu pertanyaan serupa dilempar ke saya sebagai anak-anak, jawabannya template seperti list profesi yang sudah disediakan oleh negara, seperti dokter, tentara, polisi, guru, atau pilot. Sekarang, tiba-tiba masuk profesi baru seperti YouTuber, gamer, streamer, content creator, hingga influencer.
Ini tentu mengusik saya, sejak kapan aktivitas yang dulu kita sebut sebagai “main warnet” telah resmi naik pangkat menjadi sebuah cita-cita?
Ternyata fenomena ini bukan sekadar halusinasi semata. Pada tahun 2019, LEGO Group bersama The Harris Poll menggelar survei terhadap 3.000 anak usia 8–12 tahun di Amerika Serikat, Inggris, dan China. Hasilnya cukup menggelitik iman. Sebanyak 29 persen anak AS dan 30 persen anak Inggris dengan kompak memilih menjadi vlogger atau YouTuber sebagai cita-cita menterengnya. Nasib profesi astronot yang gagah itu merana, karena cuma dilirik oleh 11 persen anak di kedua negara tersebut.
Namun, daratan China menyuguhkan komedi yang berbeda. Di sana, astronot justru menjadi primadona yang dipilih oleh 56 persen anak, sementara vlogger atau YouTuber terpuruk di angka 18 persen. Artinya, anak-anak kita sebenarnya tidak mendadak amnesia atau kehilangan kemampuan untuk bermimpi besar. Lingkungan tempat mereka tumbuhlah yang ikut mendikte ke mana arah mimpi itu harus berlayar.
Ada satu hal lagi yang jauh lebih jenaka. Survei tersebut mendapati bahwa 86 persen anak di seluruh dunia aslinya tetap tertarik dengan urusan luar angkasa. Jadi, perkara utamanya adalah mereka cuma jauh lebih sering menonton wajah YouTuber ketimbang wajah astronot saat sedang lahap menyantap sarapan pagi.
Di Indonesia sendiri, lingkungan digital ini sudah menjelma jadi seperti oksigen yang mustahil dipisahkan dari paru-paru anak-anak kita. Tengok saja studi UNICEF pada tahun 2023 silam mengenai tabiat bocah dalam scrolling social media. Hasilnya aduhai sekali: 89 persen anak menggunakan internet setiap hari, dengan durasi ibadah digital rata-rata 5,4 jam per hari. Isi kepalanya pun beragam, yakni melahap konten hiburan berupa film dan video online sebagai menu wajib harian mereka.
Maka, coba gunakan daya bayang Anda untuk melihat bagaimana bocah-bocah ini tumbuh dewasa. Seumur-umur, mereka mungkin tidak pernah sekalipun menjabat tangan seorang astronot asli. Namun, kalau urusan bertemu YouTuber? Wah, itu sih hidangan wajib yang nongol di layar setiap detik.
Ada orang asing modal pamer kamar, main game sambil teriak-teriak, unboxing paket kiriman, jalan-jalan, hingga masak mie instan, lalu ajaibnya ditonton oleh jutaan umat manusia. Pada akhirnya, profesi digital ini terlihat jauh lebih nyata dan menjanjikan ketimbang sosok astronot kaku yang cuma bisa mereka pandang pasrah di dalam buku pelajaran sekolah.
Di sinilah kita wajib mengerem syahwat sejenak. Menjadi content creator memang sebuah profesi yang sah, bahkan industrinya sudah dicap sangat serius oleh Kementerian Ekraf. Sialnya, layar gawai Anda cuma sudi memamerkan gemerlap panggung depannya saja. Urusan dapur produksi yang penuh asap dan cucian piring kotor sengaja disembunyikan rapat-rapat.
Penelitian Zoë Glatt mengenai industri influencer di London dan Los Angeles berhasil menelanjangi borok di balik layar ini. Hasil risetnya membeberkan kenyataan pahit berupa ketidakpastian kerja yang bikin senewen, tekanan batin untuk terus-menerus caper demi memikat hati algoritma, hingga risiko burnout kronis. Para kreator ini dipaksa mati-matian menjaga eksistensi agar tetap kelihatan, sebab sekali saja mereka luput dari pandangan mata netizen, peluang fulus pun akan ikut lenyap seketika.
Bahkan, lembaga sekelas International Labour Organization ikut urek-urek catatan. Mereka mengakui bahwa panggung digital memang membuka gerbang lebar-lebar bagi pekerja kreatif untuk memanen audiens dan meraup pendapatan. Namun, di balik madu itu tersembunyi racun berupa problem slip gaji yang tidak stabil, jaminan keamanan kerja yang sangat rendah, serta ketergantungan hidup yang mengenaskan terhadap belas kasihan platform dan keajaiban algoritma.
Maka dari itu, saya kira kita tidak perlu mendadak panik lalu menjatuhkan hukum haram ketika si kecil mengaku ingin menjadi YouTuber. Kita juga tidak perlu menjelma menjadi barisan orang dewasa menyebalkan yang gemar berkhotbah, “Dulu cita-cita zaman kami jauh lebih mulia.” Sadarilah, setiap generasi itu punya kavling langitnya sendiri-sendiri. Generasi kita dulu menengadah melihat pesawat terbang lalu ngebet ingin jadi pilot. Sementara mereka hari ini menatap layar gawai lalu ingin menjadi manusia yang hidup di dalamnya.
Tugas mulia orang tua sebenarnya adalah mengajak si anak berdiskusi untuk membedah pekerjaan yang mereka impikan itu. Kalau ia ngebet mau menjadi gamer, tanyakan padanya bagaimana sejatinya industri game itu memutar roda bisnisnya. Kalau ia ngebet ingin menjadi YouTuber, ceritakan pelan-pelan soal rumitnya proses produksi, aturan hak cipta, kekejaman algoritma, urusan privasi, kepastian pendapatan, hingga taruhan kesehatan mental.
Sebab, sebuah cita-cita itu sama sekali tidak perlu dipaksa menjadi kuno dan purba hanya agar terlihat lebih bermartabat di mata tetangga. Anak Anda sah-sah saja jika ingin menjadi YouTuber. Anak Anda juga boleh-boleh saja bercita-cita menjadi astronot. Bahkan, anak Anda sangat dihalalkan untuk berubah pikiran setiap tiga hari sekali.
Karena sejatinya, memang begitulah kodrat pekerjaan seorang anak kecil: sibuk meraba-raba dan membayangkan isi dunia yang belum pernah ia kenal. Perkara yang paling krusial adalah, jangan sampai anak-anak kita cuma silau melihat gemerlap pekerjaannya tanpa pernah sudi mengenal hakikat pekerjaannya.