Kolom

Paradoks Prestasi Akademik: Ketika Nilai Bagus Justru Jadi Bahan Ejekan

Paradoks Prestasi Akademik: Ketika Nilai Bagus Justru Jadi Bahan Ejekan
Ilustrasi ujian (magnific)

Di media sosial, saya pernah membaca sebuah postingan yang kira-kira berbunyi, “Yang dulu sering juara kelas sekarang jadi apa?” Kalimatnya singkat, tetapi rasanya cukup sering muncul dalam berbagai versi. Ada yang membandingkan teman sekolah yang dulu langganan ranking, ada pula yang menyinggung orang dengan IPK tinggi dan mempertanyakan kehidupan mereka setelah lulus.

Pertanyaan seperti itu sebenarnya terdengar biasa. Kita memang bisa saja penasaran dengan kabar teman yang dulu sering juara kelas atau dikenal punya nilai bagus. Masalahnya, di media sosial pertanyaan itu sering dimaknai bahwa seolah ada kepuasan tersendiri kalau orang yang dulu berprestasi ternyata tidak berakhir "sukses"seperti standar masyarakat.

Padahal, nilai bagus memang bukan tiket menuju kehidupan yang berhasil. Begitu juga nilai yang biasa-biasa saja tidak otomatis menghalangi seseorang untuk mencapai sesuatu yang besar.

Lantas, mengapa nilai bagus begitu mudah dianggap tidak berarti hanya karena pemiliknya tidak berakhir dengan kesuksesan yang bisa dipamerkan?

Nilai Bagus dan Obsesi pada Hasil Akhir

Nilai tidak pernah dirancang sebagai alat untuk meramal masa depan seseorang. Nilai menggambarkan performa seseorang dalam ruang akademik, dengan tugas, ujian, tenggat, dan standar yang berlaku di dalamnya. Nilai memang punya keterbatasan, tetapi bukan berarti sama sekali tidak memiliki makna.

Menariknya, kita sering memakai keberhasilan sebagai alat untuk menilai kembali prestasi yang sudah lewat. Orang dengan nilai biasa-biasa saja lalu sukses besar mudah dijadikan cerita inspiratif. Sebaliknya, orang dengan nilai tinggi yang hidupnya berjalan biasa saja dianggap sebagai bukti bahwa nilai ternyata tidak penting. Dua-duanya sama-sama menyederhanakan perjalanan hidup seseorang menjadi satu hasil akhir.

Masalahnya, kehidupan tidak bekerja sesederhana itu. Ada terlalu banyak faktor yang ikut menentukan perjalanan seseorang setelah sekolah atau kuliah. Mengapa prestasi akademik harus ikut ditertawakan hanya karena kehidupan pemiliknya tidak berubah menjadi kisah sukses yang layak dijadikan konten?

Kita Terlalu Suka Cerita dari Zero ke Hero

Cerita dengan pola from zero to hero memang selalu laris. Cerita tentang seseorang yang dulu nilainya biasa saja, bahkan sempat dianggap tidak menonjol, lalu berhasil meraih sesuatu yang besar memang jauh lebih menarik untuk dibagikan.

Masalahnya, dari cerita-cerita seperti itu kita sering mengambil kesimpulan terlalu jauh. Ada satu orang yang dulu nilainya jelek lalu berhasil membangun bisnis, kemudian kisahnya dipakai untuk membuktikan bahwa nilai tidak penting.

Ada pula orang dengan IPK pas-pasan yang berhasil dalam kariernya, lalu pengalaman tersebut dijadikan alasan untuk menganggap nilai akademik tidak terlalu penting. Satu atau dua cerita akhirnya diperlakukan seolah-olah bisa mewakili perjalanan semua orang.

Padahal, ada banyak hal yang ikut membentuk perjalanan seseorang setelah sekolah atau kuliah. Kita terlalu terpaku pada siapa yang akhirnya berhasil, sampai lupa melihat proses yang mereka jalani untuk sampai ke sana.

Mengapa Prestasi Harus Menunggu Pembuktian?

Satu hal yang menurut saya miris dari perdebatan soal penting atau tidaknya nilai, yaitu kebiasaan menagih hasil dari orang yang dulu berprestasi. Seolah-olah nilai tinggi datang bersama janji bahwa pemiliknya kelak harus punya jabatan bagus, penghasilan besar, atau kehidupan yang terlihat sukses di mata banyak orang.

Padahal, setiap orang bisa membawa hasil yang berbeda dari pendidikan yang ditempuhnya. Tidak semua pencapaian harus terlihat besar agar proses yang pernah dijalani seseorang menjadi berarti.

Toh, hidup orang setelah lulus memang bukan urusan yang bisa disimpulkan dari satu angka di rapor atau transkrip. Ada yang kariernya melesat, ada yang masih mencari arah, ada yang memang memilih hidup biasa saja. Anehnya, kenapa orang-orang malah sibuk menunggu "si pintar" ini gagal hanya supaya bisa bilang bahwa nilai bagus ternyata tidak ada gunanya?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda