Kolom

Coba Tanya AI Sebelum ke Dokter: Solusi Praktis atau Bumerang Buat Keselamatan Pasien?

Coba Tanya AI Sebelum ke Dokter: Solusi Praktis atau Bumerang Buat Keselamatan Pasien?
ilustrasi dokter vs ai. (pixabay.com/tmeier1964)

Coba tanya AI dulu sebelum ke dokter. Kalimat seperti ini makin terasa normal. Tinggal buka ponsel, ketik gejala, unggah hasil lab, lalu beberapa detik kemudian muncul daftar kemungkinan penyakit. Cepat, murah, dan tidak bikin deg-degan menunggu antrean.

Masalahnya muncul ketika AI diagnosis medis mulai terasa lebih meyakinkan daripada dokter yang duduk di depan kita. Kalau mesin memberi jawaban berbeda, siapa yang akan kita percaya? Lebih jauh lagi, kalau keputusan AI ternyata salah, siapa yang harus bertanggung jawab?

Ketika Jawaban Cepat Mulai Menggeser Kepercayaan

Kebiasaan mencari informasi kesehatan lewat internet sebenarnya bukan hal baru. Yang berubah adalah kemampuan AI untuk menyusun jawaban seperti sedang ngobrol dengan manusia. AI memang bisa menjelaskan istilah medis dengan bahasa sederhana, membuat daftar kemungkinan penyakit, bahkan menyarankan pertanyaan yang bisa dibawa saat konsultasi.

Tujuannya jelas. Pasien tidak perlu merasa malu bertanya berkali-kali, tidak perlu menunggu jadwal, dan bisa mendapatkan respons kapan saja. Bagi orang yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan atau kesulitan membayar konsultasi, teknologi semacam ini terasa seperti jalan pintas yang masuk akal.

Namun, diagnosis bukan sekadar permainan mencocokkan gejala dengan penyakit. Dokter mempertimbangkan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, hasil tes, obat yang sedang dikonsumsi, kondisi sosial pasien, sampai perubahan gejala dari waktu ke waktu. AI bisa mengolah informasi dalam jumlah besar, tetapi kualitas jawabannya tetap bergantung pada informasi yang diberikan dan cara sistem tersebut bekerja.

WHO dalam panduannya tentang AI untuk kesehatan mengingatkan bahwa AI memang punya potensi meningkatkan diagnosis dan pelayanan kesehatan, tetapi penggunaannya membawa risiko terhadap keselamatan pasien, privasi, bias data, serta kesenjangan akses. WHO juga menekankan bahwa keputusan medis tetap harus berada dalam kendali manusia.

Jadi persoalannya bukan sesederhana dokter kalah pintar dari AI. Persoalannya adalah ketika kecepatan dan gaya bicara AI membuat manusia lupa bahwa jawaban yang terdengar yakin belum tentu benar.

AI Bisa Lebih Jago di Tes, Tapi Klinik Bukan Ujian Pilihan Ganda

Ada alasan kenapa perdebatan soal AI diagnosis semakin serius. Penelitian di JAMA Network Open pada 2023, misalnya, membandingkan GPT-4 dengan hasil survei terhadap 553 tenaga medis dalam memperkirakan probabilitas diagnosis sebelum dan sesudah pemeriksaan. Dalam beberapa skenario, model AI menunjukkan kesalahan yang lebih kecil daripada manusia.

Studi lain bahkan memberikan gambaran yang lebih menarik. Dalam penelitian terhadap 50 dokter dari bidang kedokteran keluarga, penyakit dalam, dan kedokteran emergensi yang diterbitkan JAMA Network Open pada 2024, dokter yang mendapat bantuan LLM tidak menunjukkan peningkatan bermakna dalam penalaran diagnostik dibandingkan dokter yang hanya menggunakan sumber konvensional. Menariknya, ketika LLM diuji sendiri dalam skenario penelitian tersebut, performanya justru lebih tinggi daripada kelompok dokter.

Sekilas, angka itu bisa membuat kita berpikir, Berarti kasih saja pasien ke AI. Nah, justru di sini kita harus berhenti sebentar.

Penelitian tersebut dilakukan dalam kondisi terstruktur dengan kasus klinis yang sudah disiapkan. Dunia nyata jauh lebih berantakan. Pasien bisa lupa menyebut obat yang diminum, salah menjelaskan kapan gejala muncul, atau datang dengan beberapa keluhan sekaligus. Belum lagi ada hasil pemeriksaan yang tidak lengkap dan kondisi sosial yang ikut memengaruhi pilihan pengobatan.

Sebuah tinjauan sistematis di JAMA Network Open pada 2025 terhadap 137 penelitian tentang chatbot untuk saran kesehatan juga menemukan masalah dalam kualitas pelaporan riset. Sebanyak 99,3 persen penelitian mengevaluasi model tertutup, sementara kurang dari sepertiga membahas implikasi etika, regulasi, dan keselamatan pasien dari integrasi LLM ke layanan klinis.

Artinya, kita masih berada di fase belajar. Ada hasil yang menjanjikan, ada pula batasan yang serius. Menjadikan performa AI pada kumpulan kasus sebagai alasan untuk menyerahkan diagnosis pasien sepenuhnya kepada mesin jelas terlalu jauh.

Yang Harus Diganti Bukan Dokternya, Melainkan Cara Kerjanya

Jadi, masa depan yang masuk akal bukan dokter versus AI. Yang lebih relevan adalah dokter dengan AI, dengan batas yang jelas.

AI bisa mengambil pekerjaan yang melelahkan secara administratif seperti menyusun ringkasan rekam medis, membantu membaca pola pada data, memberikan kemungkinan diagnosis untuk dipertimbangkan, atau mengingatkan dokter terhadap informasi yang mungkin terlewat. Dokter kemudian menguji kembali rekomendasi tersebut menggunakan pengetahuan klinis dan kondisi pasien yang sebenarnya.

Model seperti ini juga membuat pendidikan kedokteran harus ikut berubah. Mahasiswa kedokteran nantinya bukan cuma dituntut mampu menghafal sebanyak mungkin informasi, tetapi juga harus tahu kapan sebuah rekomendasi AI patut dipercaya, kapan harus dicurigai, dan bagaimana menemukan kesalahan di balik jawaban yang terlihat sangat meyakinkan.

Kalau dokter terlalu bergantung pada mesin, kemampuan berpikir klinis bisa ikut tergerus. Sebaliknya, kalau dokter menolak teknologi mentah-mentah, mereka bisa kehilangan alat yang sebenarnya berguna untuk meningkatkan pelayanan. Tantangannya adalah menjaga manusia tetap menjadi pihak yang berpikir, sementara AI menjadi alat yang memperluas kemampuan berpikir tersebut.

WHO juga menempatkan transparansi, akuntabilitas, keselamatan, kesetaraan, dan kendali manusia sebagai prinsip penting dalam penggunaan AI kesehatan. Dalam panduan terbarunya tentang large multimodal models, WHO kembali menyoroti perlunya tata kelola dan pengawasan karena kemampuan teknologi berkembang lebih cepat daripada kesiapan aturan dan praktiknya.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan paling penting bukan Bisakah AI menggantikan dokter? Pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan kita adalah: seberapa besar keputusan tentang tubuh kita boleh diserahkan kepada sistem yang tidak bisa menanggung akibatnya?

Kalau AI salah memberi rekomendasi, ia tidak ikut merasakan sakitnya. Tidak ia yang membayar biaya pengobatan. Tidak ia yang harus menjelaskan kepada keluarga ketika keputusan ternyata keliru.

Karena itu, teknologi kesehatan yang baik bukan yang membuat manusia merasa tak lagi dibutuhkan. Teknologi yang baik justru membuat manusia bisa mengambil keputusan dengan lebih baik. Dalam ruang pemeriksaan, AI boleh punya suara. Tetapi suara terakhir tentang tubuh manusia tetap harus punya pemilik: manusia yang kompeten, bertanggung jawab, dan bisa dimintai pertanggungjawaban.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda