Kolom
Kita Sibuk Menghemat Seribu Rupiah, tapi Membuang Satu Jam dengan Percuma
Dulu saya seringkali merasa keheranan melihat ada orang yang rela membayar orang lain untuk mengurus administrasi, mengantre, mengantar barang, membersihkan rumah, atau menyelesaikan pekerjaan sederhana yang sebenarnya mampu ia lakukan sendiri. Sekilas, tindakan itu terlihat seperti pemborosan. Mengapa harus membayar orang lain kalau bisa dikerjakan sendiri? Jawabannya sederhana, karena waktu juga memiliki harga.
Orang yang memiliki kesadaran tinggi terhadap waktu memahami bahwa uang yang dikeluarkan untuk mendelegasikan pekerjaan tertentu bukan semata-mata biaya. Itu adalah cara membeli kembali waktu. Ketika seseorang membayar jasa untuk mengurus pekerjaan yang menghabiskan dua jam, ia mendapatkan dua jam yang bisa digunakan untuk bekerja, belajar, beristirahat, membangun bisnis, atau menghabiskan waktu bersama keluarga.
Masalahnya, banyak dari kita justru melakukan kebalikannya. Kita sangat perhitungan ketika mengeluarkan uang, tetapi begitu boros ketika menggunakan waktu. Kita rela berputar-putar hampir satu jam hanya demi mendapatkan bensin yang lebih murah Rp1.000 per liter. Kita rela mengantre berjam-jam demi mendapatkan kopi dengan potongan harga. Kita bahkan bisa menghabiskan malam dengan menggulir video pendek tanpa tujuan, lalu menyebutnya sebagai “healing”. Hemat uang? Mungkin. Tetapi apakah benar-benar hemat?
Coba hitung kembali biaya yang tidak terlihat. Berapa banyak waktu yang hilang? Berapa banyak pekerjaan yang tertunda? Berapa banyak kesempatan belajar yang terlewat? Berapa banyak energi yang terkuras hanya demi menghemat uang dalam jumlah kecil? Bukan berarti mencari harga murah selalu salah. Menghemat pengeluaran tetap penting, terutama bagi orang yang memiliki keterbatasan finansial. Namun, menghemat uang tanpa menghitung nilai waktu juga bisa menjadi jebakan.
Kita sering lupa bahwa uang yang hilang masih mungkin dicari kembali. Waktu yang sudah lewat tidak demikian. Setiap orang memiliki 24 jam dalam sehari. Orang kaya, orang miskin, pekerja, pengusaha, mahasiswa, semuanya mendapatkan jatah waktu yang sama. Perbedaannya bukan selalu pada jumlah waktu, melainkan bagaimana waktu tersebut digunakan. Karena itu, saya mulai belajar menjadi “pelit” terhadap waktu.
Pelit untuk nongkrong tanpa tujuan. Pelit untuk mengikuti percakapan yang hanya berisi gosip. Pelit untuk berdebat panjang dengan orang asing di kolom komentar. Pelit untuk menghabiskan berjam-jam menonton sesuatu hanya karena algoritma terus menyodorkannya.
Sebaliknya, saya ingin lebih royal terhadap hal-hal yang bisa meningkatkan kapasitas diri. Belajar keterampilan baru. Membaca buku. Mengikuti kursus. Membangun portofolio. Membuat karya. Memperbaiki kemampuan komunikasi. Mempelajari cara mengelola keuangan. Bahkan menggunakan uang untuk membayar layanan yang membuat pekerjaan lebih efisien juga bisa menjadi keputusan rasional jika waktu yang diperoleh kembali benar-benar dimanfaatkan.
Banyak orang mengatakan membeli buku atau mengikuti seminar dan kelas terlalu mahal. Tetapi ada harga lain yang jarang dihitung, harga dari tetap berada di posisi yang sama selama bertahun-tahun. Jika sebuah buku seharga Rp100.000 memberi satu gagasan yang membantu seseorang meningkatkan penghasilan, menghindari kesalahan finansial, atau membuka peluang baru, nilai manfaatnya tidak bisa dinilai hanya dari harga sampulnya. Pada akhirnya, persoalannya bukan tentang menjadi kaya atau miskin. Ini tentang memahami bahwa waktu adalah aset yang tidak bisa ditabung untuk digunakan besok.
Uang bisa dicari kembali. Barang bisa dibeli lagi. Kesempatan tertentu mungkin datang untuk kedua kalinya. Tetapi 24 jam hari ini? Sekali berlalu, selesai. Maka mungkin sudah waktunya kita bukan hanya bertanya, berapa uang yang saya keluarkan? Tetapi juga bertanya, berapa banyak waktu yang saya korbankan untuk mendapatkannya?