Kolom

Tanpa Upah, Haruskah Kita Biarkan Relawan Berjuang dengan Uang Sendiri?

Tanpa Upah, Haruskah Kita Biarkan Relawan Berjuang dengan Uang Sendiri?
Ilustrasi Pemadam Kebakaran (Unsplash/@mchesin)

Menjadi sesuatu yang menyentuh sekaligus menyedihkan ketika mendengar cerita para relawan di lapangan. Saat ditanya apa yang paling mereka butuhkan untuk menjalankan misi kemanusiaan, jawaban mereka justru bahan bakar minyak (BBM) dan alat pelindung diri (APD). Bukan upah untuk diri sendiri. Bukan honorarium. Bukan pula permintaan agar pengorbanan mereka dibayar mahal.

Bahkan, selama percakapan berlangsung, tidak satu kalimat pun muncul tentang keinginan menerima upah. Mereka hanya ingin memiliki cukup bahan bakar untuk menjangkau lokasi dan perlengkapan yang memadai agar dapat bekerja dengan aman. Selama ini, biaya operasional pun sering ditanggung sendiri, dikumpulkan melalui urunan sesama relawan. Bagaimana mungkin orang-orang yang mempertaruhkan waktu, tenaga, dan keselamatannya untuk membantu sesama justru harus memikirkan sendiri biaya dasar untuk menjalankan misi kemanusiaan?

Ketulusan yang tidak boleh dijadikan alasan untuk abai
Relawan sering hadir ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja. Saat bencana terjadi, masyarakat membutuhkan bantuan cepat. Ketika akses sulit, risiko meningkat, dan kebutuhan mendesak, para relawan bergerak untuk membantu evakuasi, mendistribusikan logistik, memberikan pertolongan, atau menjalankan tugas kemanusiaan lainnya.

Mereka melakukannya dengan beragam latar belakang dan motivasi. Ada yang terdorong oleh solidaritas, pengalaman pribadi, kepedulian terhadap lingkungan, atau keyakinan bahwa membantu sesama merupakan tanggung jawab moral. Ketulusan seperti ini layak dihargai. Kesediaan menjadi relawan bukan berarti seseorang harus menanggung seluruh biaya kegiatannya sendiri.

Ketika relawan tidak meminta upah, bukan berarti mereka tidak membutuhkan dukungan. BBM tetap harus dibeli. Kendaraan membutuhkan perawatan. Peralatan komunikasi memerlukan daya. Makanan dan kebutuhan dasar selama bertugas juga membutuhkan biaya. Untuk kegiatan yang berisiko, APD yang sesuai bahkan menjadi kebutuhan keselamatan, bukan fasilitas tambahan. Semua itu merupakan biaya nyata yang tidak hilang hanya karena orang yang menjalankan tugasnya bekerja secara sukarela.

Permintaan BBM mungkin terdengar sepele bagi orang yang tidak pernah terlibat langsung dalam operasi lapangan. Padahal, tanpa bahan bakar, kendaraan tidak dapat bergerak. Bantuan yang seharusnya segera sampai kepada warga bisa tertunda karena persoalan biaya operasional. Begitu pula dengan APD. Dalam situasi yang mengandung risiko, perlengkapan pelindung membantu mengurangi paparan terhadap bahaya sesuai jenis pekerjaan yang dilakukan. Relawan tidak seharusnya dipaksa memilih antara tetap membantu dengan perlindungan yang tidak memadai atau berhenti karena tidak mampu membeli perlengkapan sendiri.

Dukungan terhadap relawan bukan hanya soal menghargai niat baik. Ini juga berkaitan dengan efektivitas dan keselamatan kegiatan kemanusiaan. Tentu, kebutuhan setiap kelompok relawan berbeda. Tidak semua kegiatan membutuhkan perlengkapan yang sama, dan penggunaan dana harus disesuaikan dengan kondisi lapangan. Namun, justru karena kebutuhan tersebut konkret, dukungan seharusnya dapat direncanakan, dihitung, dan dipertanggungjawabkan.

Kita sering memuji para relawan sebagai orang-orang berhati mulia. Foto mereka yang bekerja di tengah kesulitan dibagikan, pengorbanan mereka dipuji, dan kisah mereka menjadi inspirasi. Semua itu tidak salah. Akan tetapi, penghargaan simbolis tidak dapat menggantikan kebutuhan operasional. Jika selama ini mereka harus urunan dari kantong sendiri, ada risiko kegiatan tidak bisa berlangsung secara berkelanjutan. Relawan mungkin memiliki keterbatasan ekonomi, pekerjaan utama, keluarga, dan kebutuhan pribadi yang juga harus dipenuhi.

Karena itu, komunitas, donatur, lembaga kemanusiaan, dunia usaha, dan pemerintah dapat berperan sesuai kapasitasnya. Dukungan bisa berupa BBM, APD yang layak, logistik, perawatan peralatan, atau dana operasional yang transparan. Mekanisme penggalangan dana juga perlu disertai pencatatan penggunaan dana agar bantuan tepat sasaran dan kepercayaan publik terjaga. Bantuan tidak harus selalu berbentuk uang tunai. Menyediakan kebutuhan yang benar-benar diperlukan kadang jauh lebih berguna daripada memberikan bantuan yang tidak sesuai kondisi lapangan.

Hal paling mengharukan dari cerita ini bukan semata-mata karena para relawan tidak meminta upah. Yang lebih penting adalah mereka tetap memikirkan kebutuhan agar bisa terus membantu orang lain, meskipun selama ini biaya operasional sering berasal dari kantong sendiri. Ketulusan mereka patut dihormati, tetapi jangan sampai ketulusan itu menjadi alasan bagi pihak lain untuk lepas tangan.

Kita tidak harus menjadi relawan untuk ikut mendukung kerja kemanusiaan. Kita bisa membantu melalui donasi sesuai kemampuan, menyebarkan informasi kebutuhan yang terverifikasi, atau menghubungkan kelompok relawan dengan pihak yang dapat menyediakan perlengkapan dan dukungan operasional. Sebab, orang yang memilih membantu sesama juga tetap manusia yang memiliki keterbatasan. Jika mereka tidak meminta bayaran untuk kebaikan yang mereka lakukan, setidaknya jangan biarkan mereka terus membayar sendiri harga dari perjuangan itu.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda