Angkat Telepon Bikin Kena Mental? Di Balik Kecenderungan Anak Muda Pilih Berkabar Lewat Pesan Teks

M. Reza Sulaiman | Vicka Rumanti
Angkat Telepon Bikin Kena Mental? Di Balik Kecenderungan Anak Muda Pilih Berkabar Lewat Pesan Teks
Ilustrasi anak muda mengirim pesan teks (Freepik/freepik)

Bagi sebagian orang, dering telepon saat ini bukan lagi tanda kabar gembira, melainkan interupsi mendadak yang justru bisa memicu detak jantung lebih kencang. Bayangkan jika Anda sedang fokus bekerja atau menikmati waktu sendiri, lalu ada panggilan yang tiba-tiba masuk tanpa peringatan. Hal ini bisa mengganggu ketenangan mental seseorang.

Fenomena ini memicu diskusi hangat di platform Quora, tempat banyak pengguna berbagi pandangan jujur mereka tentang alasan panggilan suara kini terasa seperti "invasi" terhadap ruang pribadi.

Di dunia yang sudah digital ini, ada tawaran yang bisa dilakukan dengan mengetik teks. Melalui cara ini, kita bisa berpikir dan merangkai kata-kata sebelum mengirim pesan. Di balik layar ponsel, emosi kita bisa lebih terjaga, sekaligus tetap terhubung dengan dunia luar tanpa harus mengeluarkan suara yang kadang melelahkan.

Kekuatan Pesan Teks untuk Kontrol, Keamanan, dan Kejelasan

Bagi sebagian besar anak muda, pesan teks berfungsi untuk kebutuhan sosial tanpa adanya tekanan.

Telepon kadang bisa menjadi hal buruk bagi sebagian individu yang memiliki kecemasan sosial atau kondisi spektrum tertentu. Caryssa Kramer, yang mempelajari psikologi, membagikan pengalaman pribadinya:

"Saat memikirkan untuk menelepon, jantung saya berdebar kencang, tangan gemetar, dan butuh waktu hampir setengah jam untuk menenangkan diri. Kecemasan menguasai hari saya hanya dengan pikiran 'Saya harus menelepon'."

Caryssa menjelaskan bahwa ia memiliki sindrom Asperger, yang baginya menulis adalah hal yang lebih mudah daripada harus menelepon. Ia bisa menyusun kalimat sebelum mengirimkannya pada seseorang.

"Menulis adalah cara saya berbicara," tambahnya. Hal ini membuktikan bahwa teks memberikan kesetaraan akses komunikasi bagi mereka yang sulit memproses pembicaraan spontan.

Efisiensi dan Manajemen Waktu

Eileen M. Gormley dari Dublin memberikan sudut pandang yang praktis bahwa telepon adalah gangguan privasi. Menurutnya, panggilan telepon menuntut perhatian secara langsung yang kadang tidak memedulikan apakah seseorang di balik telepon tersebut sedang bekerja atau melakukan hal-hal lain yang sebenarnya tidak bisa diganggu.

Melalui pesan teks, kita memungkinkan diri untuk berkomunikasi dengan banyak orang tanpa harus menghentikan aktivitas yang sedang dilakukan. Dengan pesan teks pula, kita bisa membalasnya tanpa harus mandi, bersolek, atau bepergian hanya untuk mengobrol.

Kejelasan dan Penyusunan Kata

Di telepon, kita tidak bisa menarik kembali kata-kata yang telah kita ucapkan. Namun, jika menggunakan teks, kita bisa menyuntingnya dan memastikan apa yang ingin dikirim sudah jelas dan tepat agar tidak menyinggung perasaan.

Namun, Mengapa Sebagian Orang Tetap Nyaman dengan Suara?

Tentu saja, komunikasi teks memang tidak sempurna. Tidak ada nada atau intonasi yang membuatnya benar-benar jelas dalam mengartikan pesan yang dikirimkan seseorang. Beberapa orang juga merasa bahwa mereka kehilangan "roh" manusia jika hanya berbicara melalui teks.

Md Cat Lady memberikan pendapatnya bahwa suara manusia menghasilkan oksitosin yang membangun rasa percaya dan aman. Baginya, teks hanyalah "transfer data" yang kehilangan 93 persen unsur komunikasi dan berisiko menyebabkan kesalahpahaman.

Robert Hill dari Dublin merasa bahwa membalas pesan teks justru melelahkan secara mental. Ia malah lebih memilih menelepon singkat untuk mengatur jadwal bertemu langsung agar obrolan bisa lebih mengalir tanpa gangguan layar.

Menghargai Batasan Komunikasi

Pada akhirnya, pilihan antara teks dan telepon sebenarnya tentang menghargai batasan masing-masing orang. Bagi seseorang seperti Caryssa, teks merupakan jembatan untuk bersosialisasi dengan tenang. Bagi Eileen pun, itu adalah cara menjaga privasi.

Perdebatan di Quora ini menunjukkan adanya pergeseran etika dalam berkomunikasi. Banyak pihak yang mulai memandang bahwa mengirim pesan singkat untuk meminta izin sebelum menelepon kini menjadi standar kesopanan baru.

Hal ini bisa menjadi jalan tengah untuk memberikan ruang persiapan mental bagi mereka yang memiliki kecemasan sosial, sekaligus menghargai privasi individu. Tren ini mencerminkan upaya masyarakat modern dalam menggunakan teknologi sebagai alat penghubung yang manusiawi.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak