Lifestyle

Misteri Lagu Favorit: Mengapa Kita Tidak Pernah Bosan Memutar Musik yang Sama?

Misteri Lagu Favorit: Mengapa Kita Tidak Pernah Bosan Memutar Musik yang Sama?
seseorang sedang mendengarkan musik melalui ponsel (Sumber: Viralyft, Pexels)

Bayangkan sebuah lagu yang sudah didengar ratusan kali. Liriknya sudah hafal, bagian reff-nya bisa ditebak bahkan sebelum dimulai. Anehnya, kita tetap menekan tombol putar sekali lagi. Hal yang sama juga terjadi saat seseorang memilih menonton ulang film favoritnya dibanding mencoba tontonan baru. Padahal, di luar sana ada begitu banyak lagu dan film yang belum pernah dieksplorasi.

Mengenal Mere-Exposure Effect

Fenomena ini ternyata tidak hanya berkaitan dengan selera pribadi. Dalam psikologi, terdapat konsep yang dikenal sebagai mere-exposure effect, yaitu kecenderungan seseorang untuk makin menyukai sesuatu hanya karena sering terpapar olehnya. Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Robert B. Zajonc (1968) yang mengemukakan bahwa paparan berulang terhadap suatu objek dapat meningkatkan sikap positif seseorang terhadap objek tersebut, bahkan tanpa adanya alasan khusus atau pengalaman yang secara langsung memperkuat rasa suka tersebut.

Dengan kata lain, makin sering kita melihat, mendengar, atau berinteraksi dengan sesuatu, makin besar kemungkinan kita untuk menyukainya. Menariknya, proses ini sering kali terjadi tanpa disadari. Seseorang dapat mulai menyukai sebuah lagu atau film bukan karena secara sadar menilai bahwa karya tersebut lebih baik daripada yang lain, melainkan karena lagu atau film tersebut sudah terasa akrab dan familier.

Kemudahan Pemrosesan Informasi oleh Otak

Salah satu penjelasan mengapa hal ini terjadi berkaitan dengan konsep processing fluency atau kemudahan pemrosesan informasi. Otak manusia cenderung menyukai hal-hal yang mudah dipahami dan diproses. Ketika mendengarkan lagu yang sudah dikenal atau menonton film yang alurnya sudah diingat, otak tidak perlu mengeluarkan banyak usaha untuk memahami informasi yang diterima. Kemudahan ini kemudian menciptakan pengalaman yang terasa nyaman dan menyenangkan. Akibatnya, familiaritas sering kali diterjemahkan sebagai rasa suka.

Penerapan konsep ini dapat ditemukan dalam pengalaman mendengarkan musik. Sebuah studi neuroimaging yang dilakukan oleh Pereira dan rekan-rekannya (2011) mengenai respons otak terhadap paparan berulang pada melodi menemukan bahwa melodi yang lebih sering didengar cenderung menjadi melodi yang paling disukai oleh partisipan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa rasa suka terhadap sebuah lagu tidak hanya dipengaruhi oleh kualitas musiknya, tetapi juga oleh tingkat familiaritas yang dimiliki pendengar terhadap lagu tersebut. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa lagu yang awalnya terasa biasa saja dapat perlahan berubah menjadi lagu favorit setelah didengarkan berulang kali.

Fenomena Reconsumption dalam Tontonan

Jika dalam musik familiaritas dapat meningkatkan rasa suka, pola yang sama ternyata juga ditemukan dalam kebiasaan menonton film dan serial secara berulang. Sebuah kajian terbaru mengenai fenomena reconsumption, yaitu kebiasaan mengonsumsi kembali media hiburan yang pernah dinikmati sebelumnya, menemukan beberapa alasan utama mengapa seseorang memilih menonton ulang film atau episode yang sama (Dill-Shackleford et al., 2026).

Alasan pertama adalah kenyamanan. Konten yang sudah dikenal memberikan rasa aman karena alur cerita, karakter, dan akhir cerita dapat diprediksi. Di tengah kehidupan yang penuh ketidakpastian, pengalaman yang dapat diperkirakan sering kali terasa menenangkan. Alasan kedua adalah koneksi sosial. Menonton ulang film tertentu bersama keluarga atau teman dapat menjadi cara untuk berbagi pengalaman yang bermakna. Sementara itu, alasan ketiga berkaitan dengan identitas dan nostalgia. Film atau serial tertentu sering kali terhubung dengan kenangan, periode kehidupan, atau pengalaman emosional tertentu sehingga menontonnya kembali dapat memunculkan perasaan hangat dan akrab terhadap masa lalu.

Dill-Shackleford (2026) juga menemukan bahwa individu yang merasa kurang nyaman dengan perubahan yang cepat dalam lingkungan media cenderung lebih sering mengalami nostalgia media dan menggunakan konten yang familier sebagai sumber kestabilan emosional. Dengan demikian, kebiasaan menonton ulang tidak hanya berkaitan dengan hiburan semata, tetapi juga dapat berfungsi sebagai strategi untuk memperoleh rasa nyaman secara psikologis.

Jika ditarik garis besarnya, baik dalam konteks musik maupun film, kebiasaan mengulang kembali konten yang sama sebenarnya merupakan sesuatu yang sangat masuk akal secara psikologis. Familiaritas membuat informasi lebih mudah diproses oleh otak, sementara kemudahan tersebut menghasilkan perasaan nyaman dan positif. Tidak mengherankan jika lagu yang sama terus diputar atau film favorit terus ditonton ulang, meskipun kita sudah mengetahui setiap detail di dalamnya.

Jadi, ketika suatu hari Anda kembali memutar lagu yang sama untuk kesekian kalinya atau menonton ulang film favorit yang alurnya sudah hafal di luar kepala, mungkin itu bukan karena Anda kehabisan pilihan. Bisa jadi, otak Anda sedang mencari sesuatu yang sederhana, tetapi penting: rasa nyaman dari hal-hal yang sudah dikenal.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda