Lifestyle
Fenomena Doom Spending: Saat Nabung Terasa Percuma, Gen Z Pilih Belanja
Pernah merasa baru saja menerima gaji atau uang bulanan, tetapi beberapa hari kemudian sebagian besar sudah habis untuk membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan?
Mulai dari pakaian, makanan, skincare, gadget, sampai nongkrong di tempat yang sedang ramai di media sosial karena fomo. Setelah membelinya mungkin muncul sedikit rasa bersalah. Namun, di sisi lain ada pikiran, “Ya sudah, kapan lagi menikmati duit hasil kerja, toh aku sudah bekerja keras?”
Perasaan semacam itu ternyata bukan sekadar kebiasaan boros. Ada istilah yang belakangan banyak digunakan untuk menggambarkan fenomena tersebut, yaitu “Doom Spending”.
Doom spending merupakan perilaku menghabiskan uang sebagai respons terhadap rasa cemas, stres, atau pesimisme terhadap kondisi ekonomi dan masa depan. Sederhananya, ketika masa depan terasa tidak pasti, seseorang justru memilih menikmati uangnya sekarang.
Fenomena ini cukup terlihat di kalangan Gen Z. Survei Credit Karma yang dilakukan bersama Qualtrics pada 2024 menemukan bahwa 37 persen Gen Z mengaku melakukan doom spending. Bahkan, 53 persen Gen Z mengatakan berita buruk yang mereka lihat melalui internet atau media sosial mendorong mereka melakukan stress spending.
Angka tersebut menarik karena menunjukkan bahwa perilaku konsumtif tidak selalu muncul karena seseorang tidak memahami pentingnya menabung. Ada kondisi psikologis yang ikut mempengaruhinya juga.
Ketika seseorang merasa harga rumah semakin sulit dijangkau, biaya hidup terus meningkat, pekerjaan tidak pasti, atau kondisi ekonomi semakin tidak menentu, menabung untuk masa depan yang jauh bisa terasa kurang menarik dibanding mendapatkan kesenangan sekarang.
Muncullah pola pikir seperti, “Buat apa terlalu banyak menabung kalau masa depan juga belum tentu sesuai rencana?”
Pandangan bahwa Gen Z hanya “boros” juga terlalu sederhana. Survei Deloitte 2025 terhadap Gen Z secara global menunjukkan bahwa 48 persen responden Gen Z merasa tidak aman secara finansial. Lebih dari separuh juga mengaku hidup dari gaji ke gaji.
Tekanan tersebut kemudian bertemu dengan kehidupan digital. Media sosial membuat berbagai bentuk konsumsi dapat dilihat setiap hari. Kita melihat orang lain membeli pakaian baru, pergi berlibur, makan di restoran, mengganti ponsel, atau membeli barang yang sedang tren.
Masalahnya, algoritma tidak pernah benar-benar selesai menunjukkan apa yang belum kita miliki.
Akibatnya, konsumsi bisa berubah menjadi cara untuk mendapatkan kepuasan sesaat sekaligus melarikan diri dari rasa stres. Belanja memberikan sesuatu yang konkret dan bisa dinikmati sekarang, sementara masa depan terasa abstrak dan penuh ketidakpastian.
Indonesia tentu memiliki konteks yang berbeda. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dilakukan OJK dan BPS, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 66,46 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 80,51 persen.
Artinya, akses masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan sudah cukup tinggi, tetapi tingkat pemahaman keuangannya masih berada di bawah angka tersebut.
Sejumlah penelitian di Indonesia mulai mengamati fenomena doom spending pada Generasi Z. Salah satunya adalah penelitian oleh Mutia Cahyani Putri dkk. terhadap 384 responden di Kota Tegal yang menunjukkan adanya pengaruh pendapatan, media sosial, dan gaya hidup terhadap perilaku tersebut.
Namun, penting untuk tidak menyimpulkan bahwa seluruh Gen Z Indonesia melakukan doom spending. Data tersebut berasal dari penelitian dengan karakteristik dan jumlah responden tertentu.
Pada akhirnya, persoalannya bukan sekadar apakah kita boros atau tidak.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: “ketika kita melakukan pembelian, apakah kita benar-benar membutuhkan barang tersebut, atau sedang berusaha membeli sedikit kesenangan karena merasa masa depan terlalu tidak pasti?”
Menikmati hasil kerja tentu bukan sesuatu yang salah. Menabung juga bukan berarti harus mengorbankan seluruh kesenangan hari ini.
Yang perlu diwaspadai adalah ketika belanja menjadi pelarian setiap kali kita merasa cemas terhadap masa depan. Sebab, jika setiap kecemasan dibayar dengan checkout, mungkin masalah sebenarnya bukan terletak pada barang yang kita beli, melainkan pada ketakutan yang sedang kita coba sembunyikan di baliknya.