Lifestyle
Menelisik Pameran 'On Equal Grounds": Saat Hierarki di Dunia Seni Diruntuhkan
Di ISA Art Gallery, karya Melati Suryadarmo, nama yang telah lebih dari tiga dekade dikenal di dunia seni performans internasional, dipajang berdampingan dengan karya seniman yang baru mulai dikenal publik tahun ini. Tidak ada label “senior” atau “junior” di dinding galeri. Semua karya hadir dalam ruang yang sama, dengan satu medium yang sama: kertas.
Gambaran itu menjadi pintu masuk pameran Paper Menagerie #3: On Equal Grounds, yang berlangsung di Wisma 46, Jakarta Pusat, pada 19 September–27 November 2026.
Mengambil judul dari cerpen The Paper Menagerie karya Ken Liu, pameran ini mempertemukan 63 seniman, kolektif, dan peneliti Indonesia dari tiga generasi karier, mulai dari mereka yang baru merintis hingga nama-nama yang telah mapan.
Kurator pameran, Miranti Dian Savitri, menyebut pendekatan tersebut sebagai flatten hierarchy, yaitu upaya mengurangi sekat antara seniman senior dan junior. Prinsip yang sama disampaikan Amri dari tim marketing ISA Art Gallery.
“Kita coba bikin satu Equal Grounds,” katanya.
“Walaupun mereka sudah established, atau mungkin sudah lebih prestige, kita bikin tetap sama rata.”
Namun, upaya membuat ruang yang setara bukan perkara sederhana dalam dunia seni rupa. Nama besar tetap membawa sejarah, reputasi, dan daya tariknya sendiri.
Salah satunya terlihat dari kehadiran Melati Suryadarmo. Pionir seni performans Indonesia yang pernah belajar langsung dari Marina Abramovi itu kali ini hadir melalui karya berbasis pena dan kertas, bukan performans yang selama ini lekat dengan namanya.
Karyanya merekam ruang-ruang yang hilang di Singapura. Medium kertas sebenarnya bukan hal baru bagi Suryadarmo. Ia pernah memamerkan karya serupa di STPI Singapore sekitar 2018–2019. Namun, pameran ini menjadi kemunculan pertamanya dengan medium tersebut di ISA Art Gallery.
Kehadiran nama sebesar Suryadarmo tentu membawa daya tarik tersendiri di antara 63 karya yang dipamerkan. Di sinilah gagasan On Equal Grounds menjadi menarik: ketika semua karya ditempatkan pada bidang yang sama, apakah hierarki dalam dunia seni benar-benar ikut hilang, atau hanya tak lagi terlihat di dinding galeri?
Hierarki yang Lebih Tua dari Dunia Seni

Namun ketika ditelusuri lebih dalam, ternyata bukan cuma hierarki antarseniman yang coba diruntuhkan pameran ini. Sejumlah karya yang dipamerkan justru menyentuh persoalan yang jauh lebih tua: hierarki antara manusia dan alam.
Dalam sesi tur kurator saat pembukaan, beberapa karya disebut mengangkat isu lingkungan lewat sudut pandang berbeda-beda, mulai dari penelusuran sejarah gula dan warisan kolonialisme di Indonesia, dampak kebijakan pertanian era Revolusi Hijau terhadap lahan dan spesies lokal, hingga ritual Jatilan atau Kuda Lumping yang dimaknai ulang sebagai metafora keseimbangan alam yang terus terganggu oleh campur tangan manusia.
Salah satu karya lain memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mengubah komposisi visual hewan — sebuah pendekatan yang, menurut senimannya sendiri, sengaja menyimpan ironi, mengingat teknologi ini dikenal luas membutuhkan energi dan air dalam jumlah besar untuk bekerja.
Ditempatkan berdampingan, karya-karya ini membentuk pola yang sulit diabaikan begitu saja. Flatten hierarchy dalam pameran ini rupanya tidak berhenti pada soal siapa dipajang sejajar dengan siapa di dinding galeri. Ia juga menyentuh pertanyaan yang lebih besar: siapa yang selama ini diberi ruang untuk bicara, dan siapa atau apa yang dipaksa diam.
Miranti menyeleksi karya-karya tersebut dari tiga generasi seniman: emerging, mid-career, dan established. Amri mengatakan tidak ada kriteria seleksi yang kaku selain representasi lintas generasi itu, meski mayoritas seniman yang tampil berlatar belakang Indonesia, dengan beberapa di antaranya berdarah campuran.
Edisi ketiga ini juga menandai pergeseran arah dari dua edisi sebelumnya, yang lebih banyak melibatkan seniman muda dari kawasan Asia Tenggara. Kali ini, fokusnya berputar ke dalam menyoroti keberagaman generasi seniman Indonesia sendiri, sebagai penghormatan terhadap prinsip Bhinneka Tunggal Ika yang, menurut Amri, ingin dihidupkan kembali lewat ruang pamer.