News
Swasembada 2021, Realistiskah bagi Bawang Putih?
Bawang putih merupakan salah satu bahan yang wajib tersedia dalam suatu masakan bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Cita rasanya yang gurih menambah kenikmatan rasa pada makanan yang disajikan. Pun demikian, Kegurihan itu terasa hingga kegiatan Impor bawang putih di Indonesia.
Di Indonesia bawang putih memang terbilang langka. Factor geografis membuat sayuran berwarna putih itu sedikit sulit diproduksi di seluruh Indonesia. Tercatat, dalam rentang waktu 2013-2017 hanya NTB, Jawa Tengah, dan Jawa Barat yang menduduki kasta teratas dalam urusan produksi Bawang Putih. Walaupun demikian produksi yang dihasilkan sangat jauh dari harapan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada tahun 2017 produksi bawang putih Indonesia sebanyak 19.150 ton dari lahan seluas 2148 Ha itupun mengalami penurunan sebesar 7,75% dari 2016 yang menghasilkan 21.150 ton. Jelas, sangat kewalahan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi yang mencapai 400 ribuan ton/tahun. Ya, hanya memenuhi 1/30 nya saja dari total konsumsi. Padahal pemerintah melalui Kementerian Pertanian menargetkan swasembada bawang putih pada tahun 2021.
Dengan kondisi seperti ini, Indonesia terpaksa doyan melakukan kegiatan impor setiap tahun. Bawang putih menjadi komoditi yang rutin menguasai impor pada tanaman hortikultura Indonesia. Dalam rentang 2013-2018 rata-rata volume impor bawang putih mencapai 501.944,5 ton/tahun dan memiliki tren naik setiap tahunnya. Puncaknya volume impor tertinggi pada tahun 2018 yang tercatat 582.995 ton. Bahkan, dari seluruh stok bawang putih yang ada pada tahun 2018 sebanyak 93,68% di antaranya diperoleh dari impor.
Indonesia mendapat julukan raja impor bawang putih. Tidak berlebihan jika Indonesia disebut demikian karena pada realitanya Indonesia merupakan negara dengan volume impor bawang putih terbesar di dunia menurut data UN Comtrade.. Sangat berbeda jauh dengan negara-negara tetangga seperti Thailand dan Filipina yang berada di urutan ke-2 dan ke-3 dengan masing-masing 74,986 dan 74,697 ton. Pada tahun 2018, UN Comtrade merekam China menjadi negara penyuplai bawang putih terbesar bagi Indonesia. Sebanyak 580.845 ton atau 99,6% bawang merah dikirim dari negara yang berjuluk tirai bambu tersebut. Sisanya berasal dari India yang menyuplai 464 ton, kemudian negara Asia lainnya sebesar 1684 ton.
Tentunya, hal ini dapat ditekan dengan peningkatan produksi dalam negeri agar anggaran yang selama ini digunakan untuk kegiatan impor bawang putih dapat dikurangi. Sehingga, selisih dari pengurangan anggaran tersebut dapat diperuntukkan pada kegiatan lain yang memiliki potensi cukup signifikan bagi perekonomian Indonesia. Selain itu, peningkatan produksi dalam negeri juga dapat membantu petani dalam meningkatkan income dari produksi bawang putih dan memperbaiki taraf hidupnya.
Pemerintah pun sebenarnya tidak tinggal diam. Kebijakan-kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan produksi bawang putih dalam negeri pun telah pemerintah terapkan hingga saat ini. Salah satunya kebijakan mewajibkan Perusahaan importir bawang menanam 5% dari total bawang yang diimpor yang menjadi syarat agar dapat melakukan impor. Nampaknya, kebijakan tersebut mulai sedikit terlihat hasilnya pada tahun 2018 di mana produksi bawang putih dalam negeri meningkat dari
Berkaitan dengan perusahaan importir bawang, pada awal tahun 2019 sempat terjadi drama kebijakan impor bawang putih antar lembaga pemerintahan yang berwenang. Kementerian Perdagangan, selaku pihak yang diberi wewenang untuk melakukan impor. Drama tersebut berawal dari hasil rakor di kantor Kemenko Perekonomian pada 19 Maret 2019 yang menugaskan Bulog untuk mengimpor 100ribu ton bawang putih. Keputusan tersebut menuai protes dari perusahaan-perusahaan importir swasta melalui Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). KPPU menilai keputusan tersebut dapat menimbulkan persaingan yang tidak sehat antara importir swasta dengan bulog. Atas masukan dari KPPU dan Ombudsman, Kemendag kemudian memutuskan untuk menahan izin impor untuk Bulog dan mempercepat pengeluaran izin bagi importir swasta.
Namun, keputusan kemendag menahan izin impor untuk bulog mendapat tanggapan dari Menko Perekonomian Darmin Nasution yang mengatakan bahwa penugasan impor 100ribu ton bawang putih pada bulog sudah diputuskan pada rapat koordinasi. Ia menilai Kemendag tidak boleh membatalkan hasil rakor tersebut. Pada akhirnya, Kemendag menerbitkan Izin impor 115.765 ton bawang putih bagi 8 perusahaan importir swasta. Tetapi, izin impor 100ribu ton bagi bulog tidak kunjung terbit.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) harga bawang putih pada Mei 2019 melonjak naik hingga menyentuh angka 50.500/kg. hal itu, disebabkan oleh langkanya pasokan bawang putih karena terlambatnya penerbitan izin impor dari pemerintah. Ditambah dengan luas panen yang tergolong kecil menyebabkan produksi yang dihasilkan mendukung kenaikan harga yang tinggi.
Oleh karena itu, asa Kementerian Pertanian yang menargetkan swasembada bawang putih tahun 2021 dinilai terlalu idealistis. Alangkah baiknya, pemerintah merancang kebijakan dengan sebaik mungkin agar target swasembada bawang putih tercapai meskipun tidak di tahun 2021.