Perkembangan teknologi informasi geospasial dewasa ini sangat berkembang pesat seiring dengan perkembangan zaman yang semakin mengarah kepada segala hal yang berbasis digitalisasi dan otomatisasi. Revolusi industri 4.0 telah sedikitnya mengubah tatanan hidup manusia tradisional beralih menjadi manusia modern. Informasi geospasial sebagai salah satu teknologi yang banyak digunakan saat ini, telah banyak memiliki kontribusi dalam menyelesaikan segala permasalahan dan aktivitas manusia modern saat ini.
Informasi geospasial sangat diperlukan untuk mendukung berbagai proses pembangunan dan menjadi dasar perencanaan penataan ruang, penanggulangan bencana, pengelolaan sumber daya alam, dan sumber daya lainnya, sehingga dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kelangsungan hidup bersama (Nurhayati dkk., 2017).
Terkait dengan hal tersebut, Indonesia baru-baru ini tengah digemparkan oleh suatu fenomena wabah virus yang menyerang berbagai kalangan manusia. Indonesia merupakan salah satu dari berbagai negara di dunia yang terkena dampak musibah Corona Virus Disease - 2019 (Covid-19).
Salah satu jenis virus yang terbilang baru ini pertama kali ditemukan di Wuhan, China. Pasalnya virus yang satu ini merupakan jenis virus yang memiliki tingkat penularan yang sangat cepat dan dalam jangka waktu yang singkat. Para ilmuwan pernah melakukan penelitian bahwa awalnya virus tersebut berasal dari hewan seperti kelelawar dan anjing, tetapi kini virus tersebut kemudian menular kepada manusia melalui berbagai cara.
Sehingga terhitung pada tanggal 11 Maret 2020, organisasi kesehatan dunia atau WHO (World Health Organization) menyatakan wabah penyakit akibat virus corona COVID-19 ini berstatus sebagai pandemi global (Valerisha & Putra, n.d.). Hal tersebut merupakan suatu langkah yang bijak, mengingat semakin besarnya jumlah korban yang ditimbulkan akibat virus tersebut.
Dalam mengurangi penyebaran berbagai cara dilakukan oleh pemerintah mulai dari pemberian vaksin sosial berskala besar bagi masyarakat hingga berbagai penyebaran informasi penanganan virus corona bagi masyarakat melalui berbagai media.
Teknologi informasi geospasial merupakan salah satu model kebijakan yang diterapkan oleh para pengambil kebijakan dalam rangka memutus penyebaran virus corona.
Di tengah merebaknya wabah virus corona di Kota Medan, Komunitas Kawal Covid Sembilan Belas (KKCS), yang diketuai oleh Dr. Zaid P. Nasution seorang dosen di FT USU, yang telah mengkompilasi data perkembangan Pasien dalam pengawasan (PDP) dan orang dalam pemantauan (ODP) di Kota Medan dan di Sumatera Utara dalam format data geographical information system (GIS) (Dr. Ir. Ahmad Perwira Mulia Tarigan, 2020).
Penggunaan teknologi geospasial dalam penanganan Covid-19 ini cukup efektif, sebab peta yang dihasilkan didasarkan pada data-data aktual yang didapatkan dari instansi-instansi setempat yang menangani kasus covid-19 pada masing-masing wilayah seperti ruma sakit dan kantor-kantor pelayanan kesehatan lainnya.
Metode mengubah data menjadi suatu informasi geospasial sangatlah diperlukan bagi para pengambil kebijakan terutama yang sedang menggeluti bidang terkait. Data yang didapat tentunya harus didasari atas kerjasama antar berbagai bidang seperti rumahsakit atau instansi pemerintah lainnya yang bergerak dibidang nya. Hal ini bertujuan untuk agar data yang diolah dapat dijadikan sebuah informasi yang bermanfaat bagi masyarakat umum.
Badan Informasi Geospasial (BIG) menjadi salah satu lembaga pengembangan informasi geospasial dalam rangka memutus rantai penyebaran wabah virus corona. BIG secara rutin terus memperbaharui informasi terkait penyebaran wabah virus corona melalui portal yang menyediakan informasi terkait kejadian penyebaran Covid-19 pada wilayah administrasi di seluruh Indonesia.
Hal tersebut tidak lepas dari penggunaan teknologi informasi geospasial yang menjadi aspek terpenting dalam mengelola data menjadi sebuah informasi yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat indonesia. Peran informasi geospasial dalam hal ini adalah sebagai salah satu bentuk mitigasi atau pencegahan terkait penyebaran wabah virus corona dengan cara memberikan informasi berupa peta penyebaran sehingga masyarakat dapat mengetahui sejauh mana tingkat kerawanan suatu kasus pada ruang tertentu.
Selain instansi pemerintah, pemanfaatan teknologi informasi geospasila dalam penanganan wabah virus corona ini banyak dilakukan oleh para peneliti diberbagai universitas ataupun orang-orang yang ahli dan menggeluti bidang tersebut. Model geospasial yang dihasilkan dapat berupa data dan pemetaan terkait persebaran wabah virus corona pada suatu wilayah atau ruang yang dapat masyarakat akses pada suatu situs atau halaman website tertentu.
Dengan melihat halaman website tersebut kita dapat melihat mapping penderita virus corona di suatu wilayah. Tujuan utama dari pemodelan geospasial salah satunya yaitu agar dapat menyusun dan mengembangkan data menjadi sebuah bentuk informasi terkait suatu isu dalam hal ini adalah mengenai wabah virus corona yang mudah dipahami oleh masyarakat umum sebagai salah satu bentuk mitigasi penanganan Corona Virus Disease 2019.
DAFTAR RUJUKAN
Dr. Ir. Ahmad Perwira Mulia Tarigan, M. (2020). Pentingnya Data Geospasial Untuk Penanganan Covid-19 [Daring]. Tersedia di https://rmol.id/read/2020/04/17/430681/pentingnya-data-geospasial-untuk-penanganan-covid-19. [Diakses 14 Mei 2020]
Nurhayati, I., Susetyo, B., Eosina, P., & Purnahayu, I. (2017). Analisis Daya Saing Industri Informasi Geospasial di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional XII “Rekayasa Teknologi Industri Dan Informasi 2017 Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta, 16.
Valerisha, A., & Putra, M. A. (n.d.). Pandemi Global COVID-19 dan Problematika Negara-Bangsa: Transparansi Data Sebagai Vaksin Socio-digital?