Dalam pasca perang dunia ke-2. Uni Soviet sendiri memiliki pengaruh luas dalam ideologinya yang sehingga membuat Amerika serikat untuk mengalahkannya dan mencegah penyebar luasan paham tersebut. sebelum itu Uni Soviet dan Amerika hubungan mereka adalah hubungan teman baik, yang sehingga menjadi musuh setelah menjadi pemenang perang dunia ke-2.
Pada 3 Februari 1950 yang dimana terjadi sebuah awal hubungan diplomasi Uni Soviet dengan Indonesia dengan mengakui kemerdekaan negara Indonesia. Sehingga kedua hbungan tersebut akhirnya resmi menjadi sebuah awal hubungan diplomatik. Pada tahun 1954 hubungan antara 2 negara tersebut akhirnya terus naik. Meskipun dalam kondisi perang antara 2 negara besar yaitu masa perang dingin Uni Soviet dan Amerika Serikat.
Awal pembuka pada sebuah hubungan diplomatik Soviet dan Indonesia menduduki tempat penting tidak hanya untuk Indonesia tapi juga bagi Uni Soviet yang saat itu sedang gencar-gencarnya membuat kekuatan ideloginya agar mendapat pengaruhnya. Seiring Berjalannya waktu yang sehingga terbentknya negara-negara baru pasca perang dunia ke-2. Sehingga pentingnya letak Indonesia dalam hal tersebut terkait dengan cara pandang Rusia pada dunia (mirovozzreniye atau world view) yang menyebut diri sebuah bagian dari Asia, daam satu sisi tersebut, dan sisi lain juga dalam pandangan sebuah peradaban Eropa.
Sudut pandang ini terjalankan dalam sebuah geostrategi yang menjadi awal dalam aturan luar negeri negara Uni Soviet yang termasuk dalam pada negara-negara Dunia Ketiga atau negara berkembang. Negara Indonesia dalam hal ini dilihat sebagai hubungan kerja sama yang memiliki potensi untuk negara Uni Soviet untuk menanamkan sebuah pengaruh ideologinya dan menaham usaha pengaruh hegemoni Amerika Serikat dan Inggris dalam wilayah Asia Tenggara.
Meskipun terdapat Republik Rakyat Tiongkok yang merupakan sebuah sahabat atau sekutu dalam kawasan tersebut, tetapi memburuknya hubungan diplomatik Soviet dan China di pada masa Nikita Khruschev (1953-1964) membuat posisi Indonesia sebagai teman utama pada wialyah ini.
Perang Dingin dalam Kawasan Asia Tenggara
Pada masa perang Dingin memanas di wilayah Asia Tenggara, dalam konteks ini beberapa negara Asia Tenggara yang baru-baru ini merdeka, secara tidak langsung ikut terjun masuk kedalam kompetisi antara 2 pengaruh ideologi tersebut. Filipina dan Thailand karena sebuah alasan untuk kepentingan ketergantungan bidang ekonomi dan keamanan nasional nya dengan Barat yang sikap mereka lebih mengarah ke Blok Barat.
Selain itu didalam Pakta Pertahanan SEATO terdapat dua negara ini masuk bergabung didalamnya. Sama seperti dengan negara Malasebuahysa, dikarenakan sebuah kepentingan bidang keamanan nasionalnya oleh pemberontakan dari Partai Komunis Malaya yang di dukung oleh negara China, seta kertergantungannya dalam bidang ekonominya dengan negara koloni Inggris, dengan itu bahwa Malaysa mendapati kebijakan luar negeri yang lebih condong ke Barat dan tidak mengarah ke paham komunis.
Malaysia dengan Inggris, melakukan tanda tangan persetujuan Pakta pertahanan bersama yang disebut dengan AMDA (Anglo Malayan Defence Agreement). Tetapi, dalam piha lainnya terdapat beberapa negara di kawasan Asia Tenggara yang berusaha bersikap tidak memihak siapapun serta tidak memihak terhadap konflik paham ideologi yang terjadi pada masa itu, seperti Kamboja, Myanmar, Laos dan Indonesia.
Sebuah bentuk masa lalu dari perjuangan Indonesia untuk mendapatkan sebuah pengakuan kemerdekaannta dengan jalan revolusi fisik tercatat selama lima tahun, yang berdampak akhirnya terbentuklah sikap nasionalisme yang mirip dengan Vietnam. Indonesia dan Vietnam yang menjadi negaara memiliki pengalaman berperang melawan penjajahan dalam sebuah revolusi fisik.
Namun berbeda dengan Vietnam yang memilih aturan luar negeri yang mendukung komunis, sedangkan Indonesia sejak adanya komunis di Vietnam tahun 1954 sampai awal tahun 1960 an dengan berusaha untuk berposisi netral dan tidak memihak untuk perdamaiaan dunia.
Indonesia dalam GNB
Pada tahun 1961 Indonesia dalam peristiwa gerakan non-blok, bagi Soekarno terkait dengan Non-Blok tersebut relevan dengan pemikiran pada Tito dan Nehru. Mereka berdua menegaskan yaitu dengan adanya politik Non-Blok yang telah dipercaya oleh mereka ialah pemerintahan mereka masing-masing dan yang sedang dijalani oleh mereka, tidaklah sebuah politik netral, tidak memihak siapapun atau politik pasif, tetapi adalah politik aktif yang dimaksud ialah responsive dengan hal positif, positif, dan konstruktif yang berushan untuk membuat sebuah satu perdamaian bersama-sama sebagai satu-satunya pondasi dasar bagi kepentingan keamanan bersama. Sehingga penjelasan tersebut menggambarkan jelasnya bahwa perdamaian harus ditegakkan.
Hubungan Kerja Sama Teknologi KRI Irian 201
Uni Soviet setelah usainya perang dunia ke-2 membutuhkan sebuah sekutu untuk dijadikan kawan, sedangkan Indonesia membutuhkan sebuah bantuan berupa bantuan untuk membasmi bekas-bekas akibat penjajahan dari negara Eropa yaitu Belanda. sehingga kedua negara tersebut saling memiliki keinginan dan kebutuhan. Pemerintahan Uni Soviet membahasan tentang Indonesia pada tingkat komite pusat yaitu sebuah partai komunisme Uni Soviet pada tahun 1955, yakni ketika pada masa KAA atau konferensi asia Afrika dengan tanda tangan dasasila Bandung dengan hasil 10 poin.
Peristiwa tersbeut ternyata membuat gempar dunia dengan membuat sebuah perhatian besar. Sejak pada masa itu dikenalnya seorang presiden Indonesia yaitu Soekarno yang muncul pada sebuah kora-koran Uni Soviet. Sehingga pada masa itu dikenalnya presiden Soekarno di Uni Soviet.
Setelah itu perlahan memuncaknya antar kedua teresebut dengan Indonesia menarik sebuah perhatian pada Uni Svoiet. Sehingga kedua hubungan antar kedua negara tersebut menjadi semakin kuat. Pada situasi pertengahan perang dingin, ndonesia tetap bersikeras dan kokoh dengan menyatakan bahwa Indonesia tidak memihak blok manapun dan memertahankan sikapnya pada gerakan non-blok. Indonesia sendiri menjadi sebuah pelopor adanya sebuah gerakan non-blok di Beograd, Yugoslavia. Hal tersebutlah yang membuat kedua negara tersebut semakin dekat.
Sebuah acara kongres partai Komunisme Uni Soiet yang ke- 20 dilakukan pada tahun 1956, dan saat itu presiden Soekarno mengunjungi Uni Soviet.kemudian presiden Soekarno mendapati sebuah sambutan yang hangat dari perdana menteri Nikita Kurshcev.
Kedua orang tersebut akhirnya saling bertukar isi pikiran mereka terkait dengan kondisi negara mereka masing-masing. Setelah itu pada tahun 1960 Uni Svoiet memberitahukan dengan menyatakan bahwa mendukung negara Indonesia pada tanggal 26 Februari 1960, berbagai macam kerjasama dilakukan termasuk dalam membantu dibidang militer atau angkatan bersenjata negara Indonesia.
Sebuah dana dari Uni Soviet diluncurkan untuk mendukung bidang perekonomian dan sebuah pembangunan di negara Indonesia. Kemudian pada tahun 1960 presdien Soekarno juga mengunda delegasi pemerintahan dari Uni Soviet untuk mengunjungi Indonesia. Kurschev sendiri senanng mengetahau hal tersebut dan menerima undangannya. Sehingga dekatnya hubungan ini membuat sebuah panndangan bahwa Indonesia pada masa itu lebih mengarraah ke kiri.
Dengan ini Uni Soviet memberian sebuah banntuan bberupa bidang teknologi kapal perang yaitu kapal dengan proyek 68 bis Ordzhonikidze yang disebut dengan KRI Irian 201. Pada kapal perang ini memiliki kemampuan mengangkut sebuah Meriam dengan kaliber kecil yakni Meriam kaliber engan 150mm dengan sebuah performa yang baik.
Tak hanya itu kapal perang ini juga bissa mengangkut sebaanyak 12 meriam utama kaliber dengaan 152 mm, dan teterdapat 12 meriaam dengan kaliber 100mm, serta 32 merriam dengan kaliber 37 mm. selain itu, kapal perang ini juga bisa mmengangkut hasil taambang dan bisa juga membawa 2 set torpedo tabung dengaan kaliber 533 kaliber.
Kapal dengan sebutan "Ordzhonikidze" ialah sebuah kapal ketiga dalam sebuah rangkaian seri dan dinamakan untuk sebuah penghormatan dalam revolusioner dan seorang politikus bernamma Soviet Grigory Ordzhonikidze. Pada tahun 1952 Teknologi Kapal Angkatan Laut Soviet ini datang. Masa kerja teknologi kapal perang ini cukup pendek waktunya yaitu selama 10 yang menjadi sebuah kapal daarri bagian angkkatan laut Uni Svoiet. kapal tersebut teercata dalam sejaarah masa perang dingin sebanyak 2 kali.
Pada April 1962 Kapal Ordzhonikidze ini berangkat ke Negara Indonesia, Uni Soviet juga membantu Indonesia dalam menyiapkan militer untuk menghadapi Belanda yang masih menguasai Irian Barat. Usaha yang dilakukan Uni Soviet yaitu berupa pengiriman pesawat tempur dan peralatan lain yang dibutuhkan dalam militer. Tidak hanya itu, para perwira dari Uni Soviet juga melibatkan diri untuk menghadapi Belanda.
Bahkan mereka berani berhadapan dengan sekutu dari Belanda, yaitu Inggris dan Amerika Serikat. Kedua Negara itu memberikan kesepakatan kepada Rusia memilih kemerdekaan Indonesia atau perang dingin. Namun pada akhirnya, Inggris dan Amerika memilih tidak memberikan bantuan kepada Belanda, sehingga Irian Barat bisa lepas dari Belanda.
Terkait dengan masa waktu pada akhir masa kerja kapal perang Ordzhinikidze ini juga menjadi saksi bisu hancurnya hubungan Indonesia dan Uni Soviet. Dengan Setelah adanya sebuah upaya kudeta yang dilakukan oleh peristiwa besar yaitu Gerakan 30 September dan adanya sebuah pemimpin baru berkuasa yakni, Soeharto tidak memperbolehkan serikat buruh dan Partai Komunis. Bentuk hubungan persahabatan Indonesia dan Soviet berubah menjadi sebuah penjara untuk orang yang melawan. Pada akhirnya kapal tersebut dilucuti dan tidak jadi dijualkan pada Indonsia pada tahun 1972.
Sumber:
- Fahrurodji, A. (2017). Dari Druzhba ke Mirnoye Sosushyestvovaniye: Diplomasi Uni Soviet-Indonesia dalam Era Stalin dan Kruschev, 1945-1964 . Jurnal Sejarah. Vol. 1(1), 122-124.
- Novosti, R. (2015). KRI Irian 201, Simbol Persahabatan Soviet dan Indonesia di Tahun 60-an. https://id.rbth.com/technology/2015/08/14/kri-irian-201-simbol-persahabatan-soviet-dan-Indonesia-di-tahun-60-an_390313.
- Nugroho, A. S. (2016). Soekarno dan Diplomasi Indonesia. SEJARAH DAN BUDAYA, Tahun Kesepuluh, Nomor 2,, 129-130.
- Pratama, A. N. (2019). Kisah Indonesia dan Uni Soviet dari KRI Irian 201 hingga Gelora Bung Karno. https://nasional.kompas.com/read/2019/02/26/18143891/kisah-Indonesia-dan-uni-soviet-dari-kri-irian-201-hingga-gelora-bung-karno?page=all#page2.
- Sunarti, L. (2016). Sejarah Indonesia dalam Konteks Politk Global dan Regional. SEJARAH DAN BUDAYA, Tahun Kesepuluh, Nomor 2, 167-172.