facebook

Revolusi Prancis dan Kaitannya dengan Perspektif Karl Marx

Retha Herdian P
Revolusi Prancis dan Kaitannya dengan Perspektif Karl Marx
Patung lilin Karl Marx di Berlin. (Shutterstock)

Revolusi Prancis tejadi pada tahun 1789 dimana rakyat menginginkan kemerdekaan atas hak-haknya yang tidak digubris oleh pemerintahan negara. Pada masa kepemimpinan Raja Louis XVI nasib rakyat semakin terpuruk dan mengalami kesengsaraan karena kaum raja, bangsawan dan juga pihak gereja memiliki hak istimewa seperti hidup dalam kemewahan yang  sering berpesta memakai uang negara, bebas dari pungutan pajak bahkan memiliki hak memungut pajak dari rakyat.

Kekuasaan raja yang dikatakan tanpa batas inilah ia memberlakukan tidak adanya Badan Perwakilan Rakyat sehingga para bangsawan bertindak sewenang-wenang. Kehidupan dari kelas masyarakat golongan menengah keatas atau disebut sebagai kaum borjuis ini menyebabkan administrasi menjadi rumit, kacau, dan tidak efektif karena kas negara yag terus menerus berkurang dan hutang negara yang semakin parah akibat peperangan yang dilakukan untuk membantu revolusi Amerika. Hal ini menyebabkan krisis ekonomi yang semakin membengkak.

Gambaran sebelum terjadinya revolusi Prancis yang sangat menonjol adalah adanya ketimpangan sosial yaitu para keluarga raja, kaum bangsawan dan pihak gereja dengan gaya hidup serba megah sedangkan rakyat biasa sangat disengsarakan seperti dikenakan pajak yang tinggi. Pemerintah Perancis yang tidak mengakui hak-hak asasi manusia ini mendorong rakyat untuk mengadakan sebuah revolusi berdasarkan prinsip bahwa kekuasaan yang berdaulat berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Perlawanan yang dilakukan oleh rakyat dalam keikutsertaan mereka untuk memberikan sebuah konstitusi Prancis ini mulai memanas ketika Majelis Nasional sebagai perwakilan dari golongan rakyat ini akan dibubarkan oleh raja dengan jalan kekerasan bersenjata. Puncak bentrok yang terjadi pada tanggal 14 Juli 1789 ditandai dengan runtuhnya penjara Bastille sebagai lambang kekuasaan mutlak raja.

Jatuhnya penjara Bastille dijadikan sebagai patokan bagi rakyat sebagai keberhasilan dalam revolusi, bendera kerajaan diganti dengan bendara nasional yang berwarna merah, putih, dan biru secara vertikal dan penetapan lagu Marseillase sebagai lagu kebangsaan.

Dalam opini Marx mengatakan bahwa “revolusi adalah lokomotif sejarah” dimana pemikirannya adalah turunan dari permasalahan yang mengantarkan Eropa menuju kekacauan pada pertengahan abad ke-19. Revolusi Prancis ini mempersoalkan bagaimana Eropa diatur, Marx berpendapat bahwa meskipun tersebut menyebabkan kemajuan yang luar biasa bagi seluruh umat manusia, akan tetapi gagal dalam melunasi janji perluasan kebebasan manusia. Revolusi Prancis ini memang menawarkan kebebasan politik dengan mendukung hak-hak kepemilikan pribadi namun kebebasan itu diperlemah di sisi lain.

Selain itu Marx juga menyebutkan bahwa kaum borjuis menggunakan kekerasan untuk memperoleh negara yang merdeka, seperti yang sudah digambarkan pada saat raja mengambil tindakan kekerasan untuk membubarkan Majelis Nasional maupun organisasi lain agar dirinya tetap berkuasa. Oligarki keuangan Prancis selalu mendukung perdamaian karena perang menekan bursa saham seperti kapitalisme yang berkembang karena yang berkuasa adalah para golongan borjuis.

Dari problematika yang terlihat dari revolusi Prancis ini dapat dikaitkan dengan filsafat marxisme dalam kajian Karl Marx yang mengulas tentang kelas-kelas sosial dan terbagi menjadi dua golongan yaitu kelas atas (borjuis) dan kelas bawah (proletar). Seperti para bangsawan dan pihak gereja yang dapat dikatakan sebagai kelas atas dengan memiliki hak istimewa maupun hak feodal yang menindas rakyat. Kelas bawah ini akhirnya melakukan perlawanan untuk memenangkan pertempuran demokrasi dan berupaya untuk menggulingkan kapitalisme karena telah menyebabkan kemisikinan yang absolut.

Adanya kelas-kelas sosial yang membedakan status sosial ini kemudian berhasil dihapuskan karena semangat nasionalisme, demokrasi, dan liberalisme rakyat Prancis dalam mengubah konsep baru dalam bernegara. Sebelum terjadinya revolusi anggapan bahwa menjadi seorang raja merupakan pengganti Tuhan di dunia dan para bangsawanlah yang menentukan status sosial berdasarkan keturunan. Namun setelah adanya revolusi yang menyatakan hak dan kewajiban dalam bernegara sudah diatur dalam undang-undang yang tidak lagi membedakan manusia berdasarkan garis keturunan.

Dengan demikian peristiwa revolusi Prancis ini merupakan hasil dari perlawanan kelas bawah menggunakan aksi revolusioner terhadap kelas atas yang cenderung hidup mewah dan merugikan kelas bawah tanpa mempedulikan nasibnya.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak