Menuju Pulihnya Jalur Lembah Anai: Upaya Kelancaran Logistik Ranah Minang

Bimo Aria Fundrika | Nela Desita
Menuju Pulihnya Jalur Lembah Anai: Upaya Kelancaran Logistik Ranah Minang
Vasko Ruseimy, Wakil Gubernur Sumbar memantau proses pemulihan ruas jalan di Kawasan Lembah Anai. Hingga malam hari pun, tim petugas tetap bekerja.

“Maaf Uni, harga samba (lauk) boleh dinaikkan dulu sementara ya. Besok kalau harga lado (cabai) dan lain-lain sudah stabil, kembali kami turunkan harganya seperti biasa,” ucap Uni pemilik kedai nasi pada saya, saat saya ingin membeli beberapa lauk untuk makan malam.

Jumat, 28 November 2025, setelah hujan deras mereda, kami bergegas berangkat menuju Bandara Internasional Minangkabau (BIM) untuk menjemput kepulangan umrah ibu kami. Karena memang nantinya kemungkinan akan lama menunggu jadwal kedatangan rombongan umroh, maka saya putuskan untuk tidak memasak dan membawa lauk dari rumah.

Langit masih saja memucat. Aspal basah menemani perjalanan kami dari Kota Padang menuju BIM. Di sepanjang jalan, kami menatap sungai demi sungai yang siap untuk meluap. Di banyak wilayah Sumatera Barat kala itu, kondisi sungai memang sedang genting. Tidak saja meluap, melainkan juga membawa arus kuat "galodo" atau banjir bandang yang meluluhlantakkan aspal jalan.

Bahkan sehari sebelumnya, yaitu saat Kamis, 27 November 2025, aliran hilir Sungai Batang Anai yang berada tak jauh dari BIM pun juga meluap, hingga merendam ruas jalan raya.  Akibatnya, akses menuju bandara pun lumpuh. 

Orang-orang yang akan menuju BIM, terpaksa diturunkan di tengah jalan karena kendaraan biasa tidak sanggup menembus banjir. Perjalanan yang tersisa satu atau dua kilometer lagi itu pun, hanya bisa ditempuh dengan bantuan mobil berbodi tinggi. Akhirnya terangkutlah orang-orang menuju bandara. 

Siang hingga sore itu, kondisi BIM memang benar-benar terasa terkepung. Penumpang yang baru mendarat tidak bisa langsung pulang atau berangkat ke tujuan masing-masing. Beruntunglah seorang teman sudah tiba di BIM sejak pagi, walau pesawatnya lumayan lama delay karena cuaca buruk.

Sepulang dari bandara, kami langsung menuju rumah orang tua di Padang Pariaman. Karena memang tidak ada masakan yang disiapkan di rumah sebelum berangkat tadi, saya pun pergi menuju kedai nasi ampera -- begitu sebutan untuk kedai nasi padang di Ranah Minang --  menjelang jam makan malam tiba. Di sanalah percakapan mengenai kenaikan harga lauk itu terjadi, sebuah dampak nyata dari putusnya akses jalan utama.

Kabar mengenai harga pangan yang melonjak, memang sedang ramai menjadi pembahasan ibu-ibu di perumahan tempat saya tinggal. Kondisi ini tidak hanya berimbas pada menu dapur rumah tangga saja, namun juga menyulitkan para pemilik kedai nasi, serta pelaku usaha kuliner lainnya di Sumatera Barat ini. 

Harga bahan masakan yang melonjak, ditambah dengan jumlah stok belanjaan di pasar yang jauh lebih sedikit dari biasanya, membuat pedagang mau tidak mau harus menaikkan harga jual. Menutup kedai hingga harga stabil bukanlah sebuah pilihan yang bijak, karena akan memutus pemasukan, sekaligus menyulitkan pelanggan. 

Kondisi ini berpangkal pada satu penyebab utama, yaitu lumpuhnya Jalan Nasional Padang-Bukittinggi di Kawasan Lembah Anai. Jalur yang menjadi jantung Sumatera Barat ini terputus total, begitu pula dengan jalur alternatifnya yang ikut terdampak. 

Memang, apa hubungannya antara jalan yang putus dengan harga lauk di kedai nasi ampera?

Lumpuhnya Jalan Nasional Padang-Bukittinggi: Akses Logistik Ikut Terdampak

Suasana di Kawasan Lembah Anai Pascabencana Tanah Longsor dan Galodo (Dok. Instagram Vasko Ruseimy)
Suasana di Kawasan Lembah Anai Pascabencana Tanah Longsor dan Galodo (Dok. Instagram Vasko Ruseimy)

Kondisi pada 27 November 2025 lalu, menjadi titik awal kelumpuhan logistik ini. Kami mendengar kabar bahwa Kawasan Lembah Anai hancur akibat bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera Barat, juga Aceh dan Sumatera Utara. Debit air yang sangat tinggi membawa material vulkanik, batu-batu besar, hingga gelondongan kayu dari hulu yang menghantam dinding tebing serta badan jalan hingga tak bersisa.

Tanah longsor dan galodo di Lembah Anai ini, secara otomatis menghentikan laju kendaraan pemasok sayuran. Pasokan sayuran dan cabai bawang dari Kota Padang Panjang dan daerah dataran tinggi lainnya, menuju wilayah pesisir pun terhenti. Begitu pula dengan Kota Payakumbuh yang merupakan sentra telur terbesar di Sumatera Barat. 

Dampaknya sangat cepat, yaitu stok pangan di pasar tradisional menjadi langka, dan hukum ekonomi pun berlaku -- harga pangan menjadi melambung tinggi.

Hal yang sama terjadi pada hasil laut dari wilayah pesisir. Para pemasok ikan kesulitan menembus jalur menuju dataran tinggi, sehingga mungkin terjadi kelangkaan protein laut di sana dan berujung melonjaknya harga. 

Selain pangan, jalur nasional Padang-Bukittinggi juga merupakan rute utama bagi truk tangki BBM. Terputusnya akses di sekitar Jembatan Kembar Silaiang, mengganggu distribusi energi ke pedalaman. Biaya operasional pun melambung karena kendaraan logistic yang harus memutar, melalui jalur alternatif yang jauh lebih panjang. Beban biaya tambahan inilah yang akhirnya sampai ke tangan konsumen dalam bentuk kenaikan harga barang dan makanan.

Fokus Kebutuhan Logistik, Kawasan Lembah Anai Menjadi Prioritas Pemulihan

Tim Petugas Bekerja di Kawasan Lembah Anai Pada Malam Hari (Dok. Vasko Ruseimy)
Tim Petugas Bekerja di Kawasan Lembah Anai Pada Malam Hari (Dok. Vasko Ruseimy)

Kerusakan yang terjadi memang bukan kerusakan biasa. Berdasarkan informasi dari media yang saya baca, kerusakan parah terjadi pada Jalan Nasional KM 53+500. Di titik tersebut, badan jalan sepanjang 150 meter amblas dengan kedalaman mencapai 6-7 meter. 

Mengingat pentingnya jalur ini, Pemerintah bersama Dirjen Bina Marga dan Kementrian PU segera menetapkan status darurat pemulihan konektivitas, dengan mengerahkan 26 unit alat berat ke titik-titik terparah.

Proses pemulihan pascabencana di Kawasan Lembah Anai difokuskan pada tiga langkah strategis. Pertama, pembersihan material sisa galodo seperti lumpur, bebatuan, dan pohon tumbang. Kedua, petugas melakukan normalisasi alur Sungai Batang Anai agar aliran air tidak terus mengikis pondasi jalan yang tersisa. Ketiga, dilakukan penguatan tebing untuk mengantisipasi longsor susulan.

Targetnya, Jalan Nasional Padang-Bukittinggi ini dapat kembali fungsional pada 16 Desember 2025. Namun, demi keselamatan, pembukaan jalur dilakukan secara bertahap hingga saat ini. Dimulai dari kendaraan roda dua, kemudian menyusul kendaraan roda empat menjelang pertengahan Desember, dengan sistem buka-tutup di bawah pengawasan ketat petugas lapangan.

Semoga seluruh tim petugas dapat segera merampungkan perbaikan akses ini, agar jalur kembali aman dilalui. Bencana ini menjadi pengingat kita semua, akan betapa pentingnya infrastruktur bagi kehidupan masyarakat. Bentangan jalan bukan hanya sekadar aspal untuk kendaraan melintas saja, melainkan juga sebuah akses yang mengalirkan logistik -- mulai dari pangan, BBM, hingga obat-obatan, dan kebutuhan masyarakat lainnya. 

Semoga perlahan, Sumatera Barat, Aceh, dan Sumatera Utara segera pulih dan bangkit kembali.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak