Banjir Bandang Sumatra: Dari Langkah Cepat Hingga Refleksi Jangka Panjang

Bimo Aria Fundrika | Talif Kaintu
Banjir Bandang Sumatra: Dari Langkah Cepat Hingga Refleksi Jangka Panjang
Salah satu lokasi yang terkena imbas banjir Sumatera

Akhir November 2025 datang tanpa tanda, seolah hanya membawa hujan biasa yang menitik perlahan di atap rumah. Namun tak seorang pun menduga, rintik yang jinak itu menjelma menjadi amarah langit. Dalam hitungan jam, hujan berubah menjadi banjir bandang yang menggulung segala yang berdiri di hadapannya. Rumah-rumah hanyut, terseret arus yang meraung seperti binatang buas, meninggalkan hanya puing dan kenangan.

Jalanan yang dulu ramai kini terputus, sunyi dan tak lagi mengenal arah. Jutaan orang kehilangan keluarga, kehilangan tanah tempat berpijak dan kehilangan rumah tempat bernaung. Mereka berlari, menjerit, berusaha menyelamatkan diri dari arus yang tak mengenal belas kasih. Ada yang berhasil mencapai daratan tinggi, ada pula yang terjebak di pengungsian, terkurung oleh lumpur dan material banjir yang menutup permukiman.

Di Sumatra Barat, Sumatra Utara dan Aceh, beberapa kota berubah menjadi kota mati. Rumah-rumah di tepi sungai roboh satu per satu, seperti tubuh renta yang menyerah pada usia. Listrik padam berhari-hari, meninggalkan kegelapan yang hanya ditemani suara tangis dan doa. Korban jiwa terus bertambah, ratapan dan kesedihan menggema sepanjang hari, seakan langit pun ikut berkabung.

Catatan resmi BNPB mencatat angka yang dingin namun menggetarkan hati sebanyak 1.137 jiwa tak pernah kembali dan 1,1 juta lainnya terpaksa mengungsi, mencari secercah harapan di tanah yang lebih aman. Angka itu hanyalah bayangan dari tragedi yang sesungguhnya dari ratapan, kehilangan dan luka yang tak mudah sembuh.

Posko pengungsian menjelma menjadi jantung kehidupan baru sebagai tempat paling sibuk sekaligus paling aman di tengah dunia yang porak-poranda. Di sana, manusia saling merangkul, bahu-membahu, menukar tenaga dan harapan. Mereka yang kehilangan rumah, harta, bahkan sebagian keluarga, kini berjuang bukan hanya melawan lapar dan dingin, tetapi juga trauma yang membekas serta bayangan masa depan yang tak pasti.

Sejak hari pertama pasca musibah, arus bantuan mengalir tanpa henti. Relawan dari berbagai penjuru datang, membawa wajah lelah namun penuh tekad. Kotak-kotak logistik diturunkan, dibagikan, menjadi denyut nadi yang menjaga para korban tetap bertahan. Helikopter berputar di langit, menembus kabut dan hujan, menjangkau daerah-daerah terisolir yang tak bisa ditembus jalur darat. Sementara itu, di jalanan berlumpur yang masih bisa dilewati, kendaraan berjuang menembus rintangan, demi satu tujuan yaitu menghadirkan secercah pengharapan bagi mereka yang hampir kehilangan segalanya.

Di tengah lumpur, dingin, dan ratapan, posko itu bukan sekadar tenda darurat. Ia adalah mercusuar kecil yang menyalakan cahaya di tengah gelap, tempat dimana manusia belajar kembali tentang arti bertahan, arti saling menjaga dan arti hidup bersama.

Percepatan Penanganan Konektivitas Pasca Bencana

Jembatan Krueng Meureudu
Jembatan Krueng Meureudu

Di tengah luka yang ditinggalkan banjir, satu harapan besar mulai dirajut yaitu pemulihan akses dan konektivitas. Jalan yang terputus bukan sekadar hamparan aspal berserakan lumpur, melainkan urat nadi kehidupan yang harus segera dipulihkan agar bantuan bisa mengalir, agar denyut masyarakat kembali berirama.

Kolaborasi lintas sektor pun bergerak, seperti pasukan yang tak kenal lelah. Di Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya, sepanjang 14 kilometer lebih ruas jalan nasional dibersihkan. Potongan kayu, lumpur dan material banjir disingkirkan oleh deru mesin yang meraung di udara. Wheel loader, motor grader, dump truck, hingga excavator mini, semuanya dikerahkan. Seakan menjadi prajurit baja yang menembus sisa bencana demi membuka jalan bagi kehidupan.

Aceh Tamiang pun tak kalah sibuk. Puluhan alat berat dan puluhan dump truck berbaris, bekerja siang dan malam. Mereka menggali, mengangkut, membersihkan material banjir dan longsoran, membuka kembali jalur yang terkunci dan memperbaiki fasilitas publik yang lumpuh. Setiap dentuman mesin adalah tanda bahwa harapan sedang dibangun kembali.

Dan jembatan menjadi saksi bisu yang sempat terputus sekarang perlahan bangkit. Dibawah komando Dirjen Bina Marga Jembatan Krueng Meureudu yang sempat lumpuh akhirnya kembali beroperasi normal sejak 12 Desember 2025. Kehadirannya bukan sekadar beton kokoh, melainkan simbol kembalinya denyut logistik sekaligus sebagai tanda bahwa kehidupan perlahan merangkak keluar dari gelap menuju terang.

Penyediaan Akses Kesehatan Bagi Para Korban

Alat Berat Untuk Membersihkan Sisa Banjir
Alat Berat Untuk Membersihkan Sisa Banjir

Selain jalan dan jembatan, ada denyut lain yang tak kalah penting yaitu kesehatan. Pascabencana, tubuh manusia sering kali menjadi rapuh, mudah terserang penyakit, dan jiwa pun digelayuti trauma. Maka, pemulihan layanan kesehatan menjadi prioritas, seakan rumah sakit dan puskesmas adalah benteng terakhir yang menjaga harapan tetap hidup.

Di Pidie Jaya, Rumah Sakit Umum Daerah berdiri seperti prajurit yang terluka namun enggan menyerah. Lumpur, sedimen dan sampah yang menyusup ke halaman, akses jalan, hingga ruang pelayanan dibersihkan dengan sabar. Kolaborasi antara personel Kementerian PU dan didukung mitra kerja BUMN Karya, serta bersinergi dengan TNI dan masyarakat setempat seakan tak berhenti. Setiap sekop lumpur yang diangkat adalah langkah kecil menuju pemulihan, setiap sudut yang kembali bersih adalah tanda bahwa kehidupan masih ingin bertahan.

Dukungan pun berdatangan dari berbagai arah. Mobil tangki membawa air bersih, hidran umum dipasang, toilet portable didirikan dan peralatan kebersihan serta sanitasi disalurkan oleh Kementerian PU. Semua itu bukan sekadar benda, melainkan simbol kepedulian yang menjaga tenaga kesehatan tetap bisa bekerja, pasien tetap bisa dirawat dan pengunjung tetap bisa berharap.

Hal serupa bergema di Sumatra Utara dan Sumatra Barat. Fasilitas kesehatan diperbaiki, layanan darurat digelar dan dukungan psikososial diberikan bagi warga yang masih dihantui trauma. Pemerintah pusat memastikan rumah sakit dan puskesmas kembali beroperasi, meski sebagian masih berjuang di tengah lumpur dan perbaikan.

Di balik semua itu, ada satu pesan yang berulang, kesehatan adalah cahaya yang tak boleh padam. Di tengah reruntuhan, rumah sakit yang kembali berdiri bukan hanya bangunan, melainkan mercusuar yang menyalakan harapan bagi mereka yang hampir tenggelam dalam gelap.

Refleksi Dari Banjir Bandang, Kita Bisa Apa?

Dampak dari banjir pada DAS
Dampak dari banjir pada DAS

Salah satu lokasi banjir bandang di Sumatra terjadi di Aceh Tamiang. Di wilayah yang dikelilingi hutan dan sungai ini, alam kembali menjadi panggung bagi tragedi lama yang berulang. Banjir bandang 2025 hadir bukan semata karena murka langit, melainkan juga akibat ulah manusia yang merobek jantung alam. Hujan ekstrem di hulu sungai, topografi curam yang rawan longsor, serta hutan yang digunduli demi perkebunan dan tambang berpadu menjadi racikan bencana.

Sejarah mencatat bahwa daerah aliran sungai (DAS) Tamiang bukanlah wilayah asing bagi banjir besar. Pada 2006, air pernah meluap dan menelan kawasan permukiman. Kini, hampir dua dekade kemudian, luka yang sama kembali terbuka. Hilir DAS Tamiang yang bersinggungan dengan Taman Nasional Gunung Leuser terus menerima limpahan air dari hulu, seolah menjadi takdir yang sulit ditolak.

Namun, peran manusia tidak dapat diabaikan. Deforestasi, alih fungsi lahan, serta lemahnya pengawasan membuat tanah kehilangan daya serap. Sungai yang dahulu menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi ancaman, mengalirkan amarah yang tak terbendung. Perpaduan faktor alam dan ulah manusia menjadikan banjir bandang Aceh Tamiang 2025 jauh lebih parah dibandingkan sekadar banjir tahunan.

Tragedi ini menjadi alarm keras bahwa pengelolaan DAS, hutan, dan tata ruang tidak lagi bisa ditunda. Rehabilitasi lingkungan harus segera dilakukan, hutan gundul di hulu ditanami kembali, kawasan konservasi diperkuat, serta praktik pembalakan liar diberantas.

Perusahaan yang beroperasi di sekitar DAS harus diawasi dan diaudit secara ketat, serta dikenai sanksi tegas apabila terbukti melanggar. Transparansi kepada publik menjadi senjata penting agar masyarakat turut berperan dalam menjaga lingkungan.

Lebih dari itu, tata ruang dan infrastruktur perlu dirancang ulang. Relokasi warga ke kawasan aman, pembangunan bendungan, serta pengendali banjir yang kokoh harus menjadi bagian dari rencana masa depan.

Banjir bandang Aceh Tamiang 2025 bukan sekadar bencana, melainkan peringatan. Ia adalah suara alam yang menuntut manusia untuk berubah. Jika langkah nyata segera diambil, harapan akan masa depan yang lebih cerah masih bisa dijaga. Bangkit bersama, cerah bersama, itulah harapan yang tak boleh padam.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak