Bina Marga Percepat Pemulihan Akses Jalan di Aceh Pascabencana

Bimo Aria Fundrika | Dede Abdurahman
Bina Marga Percepat Pemulihan Akses Jalan di Aceh Pascabencana
Peran Bina Marga Memulihkan Akses Pascabencana di Aceh yang Sempat Terputus. (Dok. Kementerian PUPR)

Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh akhir tahun lalu menyisakan lebih dari sekadar kenangan pilu: ribuan warga harus menghadapi keterisolasian, aktivitas sosial yang terhenti, bahkan distribusi bantuan yang terkendala.

Namun, di balik kekacauan itu, ada cerita lain yang justru menggambarkan ketangguhan dan kerja keras yang sering tidak terlihat publik, yaitu perjuangan tim Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), khususnya Direktorat Jenderal Bina Marga melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh, untuk memulihkan konektivitas wilayah.

Bagi masyarakat Aceh, akses jalan bukan sekadar aspal dan gravel yang menghubungkan titik A ke B. Jalan adalah urat nadi kehidupan dimana tempat guru menuju sekolah, petani mengangkut hasil panen, ibu rumah tangga membawa kebutuhan pokok, sampai relawan yang membawa bantuan tiba tanpa tertunda.

Ketika banjir dan longsor merusak puluhan ruas jalan nasional, dampaknya langsung terasa hingga ke akar kehidupan masyarakat. Di sinilah peran Bina Marga menjadi sangat vital.

Selama proses pemulihan, fokus utama Dinas Bina Marga Aceh bukan hanya membuka kembali akses yang sempat terputus, tetapi memastikan konektivitas itu pulih secara aman dan berkelanjutan. Hingga pertengahan Desember lalu, sejumlah ruas jalan utama yang sempat kehilangan fungsi akibat material longsor dan banjir kini sudah kembali dilalui kendaraan.

Ruas seperti Banda Aceh–Meureudu, Meureudu–Batas Pidie Jaya/Bireuen, serta Kota Lhokseumawe–Kota Langsa sudah dapat dilewati setelah pembersihan sedimen selesai dilakukan. Bahkan, jalur dari Kota Langsa hingga ke perbatasan dengan Sumatera Utara kini terbuka bagi semua jenis kendaraan dan ini sebuah prestasi yang dinanti banyak pihak.

Namun, capaian ini bukan terjadi dalam sekejap. Ribuan ton lumpur harus disingkirkan, alat berat digerakkan sepanjang hari, dan ratusan tenaga ahli dikerahkan untuk menangani jalan yang rusak. Tantangan semakin berat ketika sejumlah titik masih digenangi banjir setinggi puluhan centimeter, membuat alat berat sulit masuk ke lokasi terdampak.

Kendati demikian, komitmen Bina Marga tidak pernah surut. Dengan strategi kerja terkoordinasi bersama pemerintah daerah, TNI, dan BUMN karya, pemulihan jalan dilakukan secara bertahap di lintas timur, tengah, hingga barat Aceh.

Yang tak kalah penting dari sisi teknis adalah penggunaan jembatan bailey sebagai solusi darurat untuk menjaga aliran logistik tetap berjalan di daerah-daerah yang jembatannya mengalami kerusakan parah. Pemasangan jembatan sementara ini memungkinkan mobilitas kendaraan berjalan bahkan sebelum rekontruksi permanen dilakukan yang merupakan sebuah langkah kreatif yang meminimalisir dampak sosial dari terputusnya akses jalan.

Bagi warga lokal, setiap meter jalan yang kembali fungsional menghadirkan harapan baru. Konektivitas yang pulih berarti anak-anak bisa kembali pergi ke sekolah tanpa harus memutar jauh, pedagang kembali memasarkan dagangan tanpa hambatan, dan keluarga yang selama berminggu-minggu terpisah akibat wilayah terisolir kini dapat bertemu kembali.

Di sini, kerja keras Bina Marga tidak sekadar teknik rekonstruksi, tapi rekonstruksi kepercayaan masyarakat bahwa mereka tidak sendirian di masa sulit.

Sederhana namun bermakna, itulah yang dirasakan banyak orang ketika melihat truk bantuan bergerak lancar lewat jalan yang baru saja dibersihkan.

Di tengah terlilitnya ekonomi akibat bencana, akses jalan yang pulih menjadi fondasi awal dari pemulihan sosial-ekonomi. Mobilitas yang lancar menjadi sinyal bahwa kehidupan perlahan kembali normal dan masyarakat bisa melanjutkan aktivitasnya dengan lebih baik.

Lebih jauh, apa yang diperlihatkan Bina Marga Aceh yang tentunya dengan dukungan penuh Kementerian PUPR, dapat menjadi cermin kolaborasi efektif antara pemerintah pusat dan daerah dalam menjawab tantangan pascabanjir yang kompleks. Bukan hanya sekadar membuka kembali jalan yang rusak, tetapi membangun kembali harapan masyarakat melalui infrastruktur yang menghubungkan kehidupan sehari-hari.

Dalam setiap jalan yang kini bisa dilalui kembali, tersimpan cerita tentang kerja keras tanpa henti, harapan yang kembali menyala, dan semangat gotong royong yang tak pernah padam di tengah bencana. Itulah peran Bina Marga yang sesungguhnya, bukan hanya membangun jalan, tetapi menyambung kembali denyut kehidupan Aceh yang sempat terputus.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak