Mengapa Gen Z Sering Terjebak Crab Mentality di Media Sosial?

M. Reza Sulaiman | Frans Leonardi Sihotang
Mengapa Gen Z Sering Terjebak Crab Mentality di Media Sosial?
ilustrasi crab mentality (pixbay.com)

Di tengah era digital yang serba cepat dan penuh pencapaian instan, Generasi Z hidup dalam ruang sosial yang tampak terbuka, namun sesungguhnya penuh tekanan tak kasatmata. Banyak anak muda terlihat saling terhubung, saling mendukung, dan bebas mengekspresikan diri.

Namun, di balik layar, muncul gejala sosial yang menyusup dalam relasi antarsesama, yaitu crab mentality. Sikap ini membuat seseorang sulit melihat orang lain berkembang, merasa terganggu oleh keberhasilan teman sebaya, dan tanpa sadar ikut menarik orang lain agar tetap berada di posisi yang sama. Fenomena ini bukan sekadar soal iri hati, tetapi berkaitan erat dengan perubahan cara berpikir, lingkungan digital, dan cara Gen Z memaknai sukses serta harga diri.

Media Sosial dan Ilusi Kehidupan Sempurna

Media sosial telah menjadi ruang hidup utama bagi Gen Z. Di sana, identitas dibangun, validasi dicari, dan pencapaian dipamerkan. Masalahnya, apa yang tampil di layar sering kali hanya potongan terbaik dari kehidupan seseorang. Foto liburan, pencapaian karier, bisnis yang terlihat lancar, dan gaya hidup estetik menciptakan ilusi bahwa semua orang baik-baik saja dan selalu selangkah lebih maju.

Kondisi ini memicu perbandingan tanpa henti. Banyak Gen Z merasa tertinggal, padahal mereka membandingkan proses hidupnya dengan hasil akhir orang lain. Ketika rasa tidak aman menumpuk dan tidak punya ruang aman untuk bercerita, sebagian orang mulai mengembangkan mekanisme bertahan yang keliru. Keberhasilan orang lain dianggap ancaman, bukan inspirasi.

Dari sinilah crab mentality tumbuh, sering kali dalam bentuk komentar sinis, dukungan palsu, atau diam-diam berharap orang lain gagal. Hal yang jarang dibahas, media sosial juga menghilangkan rasa empati. Interaksi yang minim tatap muka membuat kritik terasa ringan diucapkan, padahal dampaknya bisa sangat dalam. Gen Z yang terbiasa hidup di ruang digital cenderung lupa bahwa di balik setiap unggahan ada manusia dengan perjuangan panjang yang tidak terlihat.

Standar Sukses yang Terlalu Dini dan Tidak Realistis

Salah satu pemicu terbesar crab mentality di kalangan Gen Z adalah standar sukses yang terlalu dini. Narasi sukses sebelum usia tiga puluh tahun menjadi konsumsi harian. Anak muda yang belum mapan merasa gagal bahkan sebelum benar-benar memulai hidupnya. Tekanan ini datang bukan hanya dari media, melainkan juga dari lingkungan sekitar yang tanpa sadar ikut membandingkan.

Dalam situasi seperti ini, keberhasilan teman sebaya terasa seperti pengingat akan ketertinggalan diri sendiri. Bukan karena tidak senang melihat orang lain maju, melainkan karena luka batin yang belum selesai. Crab mentality kemudian muncul sebagai bentuk pelampiasan emosional. Menjatuhkan orang lain terasa lebih mudah daripada menghadapi kenyataan bahwa setiap orang punya garis waktu yang berbeda. Banyak Gen Z sebenarnya sadar bahwa standar ini tidak realistis. Namun, kesadaran saja tidak cukup ketika validasi sosial masih menjadi tolok ukur utama nilai diri. Tanpa redefinisi makna sukses yang lebih personal dan manusiawi, pola saling tarik ini akan terus berulang.

Krisis Harga Diri dan Identitas Diri

Gen Z dikenal sebagai generasi yang lebih terbuka soal kesehatan mental. Namun, keterbukaan ini tidak selalu dibarengi dengan pemahaman diri yang kuat. Banyak anak muda masih mencari jati diri sambil terus menyesuaikan diri dengan ekspektasi sosial. Ketika identitas belum kokoh, pencapaian orang lain mudah menggoyahkan rasa percaya diri. Crab mentality sering lahir dari krisis harga diri. Seseorang yang belum berdamai dengan dirinya sendiri akan sulit memberi ruang bagi keberhasilan orang lain. Alih-alih merasa termotivasi, yang muncul justru rasa tersaingi secara personal.

Padahal, dalam banyak kasus, keberhasilan orang lain sama sekali tidak mengurangi peluang diri sendiri. Sudut pandang baru yang jarang dibahas adalah bahwa crab mentality juga bisa muncul dari rasa takut kehilangan identitas. Ketika seseorang merasa satu-satunya keunikan dirinya terancam oleh keberhasilan orang lain, reaksi defensif pun muncul. Ini bukan soal jahat atau tidak, melainkan soal rasa aman yang rapuh.

Budaya Kompetisi yang Menggerus Solidaritas

Dunia pendidikan, dunia kerja, hingga dunia kreatif saat ini semakin kompetitif. Gen Z tumbuh dalam sistem yang menekankan pencapaian individual. Nilai, peringkat, followers, engagement, dan pengakuan publik menjadi ukuran utama. Sayangnya, budaya ini jarang diimbangi dengan pendidikan kolaborasi dan empati. Dalam lingkungan yang kompetitif tanpa nilai kebersamaan, keberhasilan orang lain dianggap sebagai ancaman langsung. Kerja sama dipandang sebagai risiko, bukan kekuatan.

Dari sinilah crab mentality menemukan lahannya. Bukan karena Gen Z tidak peduli, melainkan karena sistem yang membentuk mereka cenderung zero-sum, seolah satu orang menang berarti yang lain kalah. Padahal, di dunia nyata, kolaborasi justru menjadi kunci keberlanjutan. Ironisnya, nilai ini sering dipromosikan secara teori, tetapi jarang dipraktikkan. Tanpa contoh nyata dari lingkungan sekitar, Gen Z kesulitan membangun pola pikir saling dukung yang sehat.

Kurangnya Teladan Empati di Ruang Publik

Tokoh publik, influencer, dan figur populer memiliki peran besar dalam membentuk pola pikir Gen Z. Sayangnya, tidak sedikit figur yang justru mempopulerkan budaya sindir, drama, dan menjatuhkan pihak lain demi atensi. Perilaku ini perlahan dianggap normal, bahkan lucu. Ketika empati jarang ditampilkan sebagai nilai yang keren, Gen Z pun kehilangan rujukan untuk bersikap dewasa secara emosional. Crab mentality kemudian tidak lagi terasa salah, melainkan dianggap bagian dari dinamika sosial.

Padahal, sikap ini jika dibiarkan akan menciptakan lingkungan yang toksik dan melelahkan secara mental. Kebaruan (novelty) yang perlu disadari adalah bahwa Gen Z sebenarnya haus akan ruang aman dan relasi yang tulus. Banyak dari mereka lelah dengan kompetisi palsu dan drama sosial. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan sangat mungkin terjadi jika ada lebih banyak teladan yang menunjukkan bahwa mendukung orang lain tidak membuat diri sendiri kalah.

Penutup

Crab mentality di kalangan Gen Z lahir dari kombinasi kompleks antara media sosial, tekanan sukses dini, krisis identitas, budaya kompetisi, dan minimnya teladan empati. Fenomena ini bukan semata soal iri hati, melainkan refleksi dari sistem sosial yang belum sepenuhnya ramah bagi pertumbuhan emosional anak muda. Dengan memahami akar masalahnya, Gen Z memiliki kesempatan besar untuk membangun cara pandang baru yang lebih sehat, saling mendukung, dan berorientasi pada pertumbuhan bersama.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak