Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye berlatar tsunami Aceh 2004. Novel ini bergenre fiksi religius dan menghadirkan kisah yang sarat keikhlasan dan ketabahan para penyintas. Penulis berhasil meromantisasi keikhlasan tokohnya, sehingga banyak pembaca yang meneteskan air mata berulang kali saat membacanya.
Sinopsis
Kisah ini dimulai dari kehidupan keluarga Delisa, yang terdiri dari Ummi, Cut Aisyah, Cut Fatimah, dan Cut Zahra. Mereka tinggal di tepi pantai Lhoknga, Aceh, menjalani kehidupan sederhana yang penuh religiusitas. Ayah Delisa bekerja di kapal tanker minyak, sehingga jarang pulang. Sehari-hari, Delisa menghafal bacaan shalat sebagai persiapan ujian praktik shalat bersama ibu guru Nur.
Seperti biasa, Ummi memberi hadiah kepada putri-putrinya berupa kalung sebagai penghargaan untuk hafalan shalat. Pagi itu giliran Delisa memilih kalung berinisial "D", yang kemudian menjadi simbol perjalanan hidupnya.
Pada pagi 25 Desember 2004, Delisa mengungkapkan rasa cintanya pada Ummi dengan berkata, “Delisa cinta Ummi karena Allah.” Ummi menangis terharu, meskipun ini juga demi hadiah sebatang cokelat dari Ustad Rahman.
Keesokan harinya, 26 Desember 2004, Delisa menghadapi ujian praktik shalat. Sejak pagi, ia merasa cemas karena lupa sebagian bacaan sujudnya. Saat ia bertakbir, dasar laut retak akibat gempa di Banda Aceh, disusul tsunami yang melanda Nias dan Lhoknga. Gelombang tsunami merobohkan dinding sekolah tepat ketika Delisa berada di bagian sujudnya yang belum sempurna. Berkat bantuan ibu guru Nur, Delisa diselamatkan dengan diikat menggunakan kerudungnya pada sebilah papan.
Panglima perang Indonesia mengontak bantuan dari berbagai negara. Langit Aceh dipenuhi helikopter asing, dan korban tsunami jauh lebih banyak daripada korban perang. Sementara itu, Delisa terjebak dalam semak-semak dengan betis hancur, tubuhnya basah kehujanan, kepanasan, haus, lapar, letih, dan sakit, semuanya bercampur menjadi satu. Dalam kondisi itu, hafalan shalatnya hilang, hanya tersisa takbir saja.
Akhirnya, Prajurit Smith menemukannya dan Delisa dibawa ke kapal induk John F. Kennedy untuk perawatan. Di sana, ia dirawat oleh suster muslimah Shofi dari Virginia. Kakinya diamputasi dan hampir seluruh tubuhnya dijahit. Setelah lima hari, Delisa sadar dan bertemu kembali dengan ayahnya di kapal induk.
Meski belum sepenuhnya sembuh, kehidupan terus berjalan. Delisa kembali ke Lhoknga dan tinggal di pengungsian. Ia perlahan menerima kematian orang-orang terdekatnya. Suatu hari, saat pemakaman massal, datang berita bahwa Ummi ditemukan, tetapi bukan Ummi yang sebenarnya. Hal ini membuat Delisa marah pada takdirnya, meski ia selalu berusaha menjadi anak baik. Malam itu, Delisa demam dan terus bermimpi, seolah dihukum oleh Allah karena menyalahkan takdirnya. Dalam mimpinya, ia bertemu Ummi yang meminta Delisa untuk menyelesaikan hafalan shalat.
Hafalan shalat terus menjauh dari Delisa; berapapun ia mencoba, selalu lupa. Namun, dengan berbagai pemahaman dan hidayah yang datang, Delisa akhirnya mampu menghafal kembali. Saat ia benar-benar ingin shalat dengan sepenuh hati, hafalan itu kembali. Di sebuah bukit, Delisa menunaikan shalat asar secara sempurna untuk pertama kalinya, menandai kemenangan spiritualnya di tengah penderitaan.
Kelebihan
Novel ini memiliki kelebihan pada penggambaran tsunami yang sangat detail, mulai dari retakan dasar laut hingga gelombang yang menghancurkan, membuat pembaca seolah terseret ke dalam peristiwa nyata. Tema religius dan tragedi nyata disajikan secara emosional, memberikan kedalaman pada cerita. Karakter Delisa digambarkan kuat, religius, dan penuh ketabahan, ditambah 27 catatan kaki doa dari penulis yang menambah nuansa spiritual.
Kekurangan
Namun, novel ini juga memiliki kekurangan. Terlalu banyak adegan mimpi yang diromantisasi sehingga alur terasa repetitif. Narasi mendayu-dayu dan emosional berlebihan membuat pembaca menangis sejak awal hingga akhir, sehingga bagi sebagian orang bisa terasa melelahkan untuk diikuti secara penuh.
Buku ini cocok dibaca oleh siapa pun, di usia berapapun, sebagai pengingat untuk menolak lupa bahwa pernah ada sepotong kisah di Lhoknga. Saat membaca, tanpa sadar kita juga mendoakan mereka yang hilang, mengenang dan merasakan keikhlasan yang ditinggalkan para penyintas.
Identitas Buku
Judul: Hafalan Shalat Delisa
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Sbak Grip Nusantara
Tahun Terbit: 2024
ISBN: 978-623-96074-8-7