Tarawih Terakhir Ibu

Bimo Aria Fundrika | Ukhro Wiyah
Tarawih Terakhir Ibu
Ilustrasi Tarawih Terakhir Ibu (Gemini AI)

Bulan Ramadan telah memasuki malam-malam terakhirnya. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di aspal yang masih lembap. Dari arah masjid Al-Ikhlas di ujung gang, suara tadarus terdengar lembut, bergelombang bersama desir angin.

Di teras rumah sederhana bercat hijau pucat, Ibu duduk di kursi kayu panjang. Mukena putihnya sudah terlipat rapi di pangkuan. Wajahnya bersih tanpa rias, hanya garis-garis halus di sekitar mata yang tampak lebih jelas di bawah lampu teras.

“Raka, jangan lupa kunci pintu belakang nanti,” katanya pelan.

Raka, anak laki-lakinya yang baru pulang kerja, mengangguk sambil memasang peci. “Iya, Bu. Ibu siap berangkat sekarang?”

Ibu tersenyum. “Sebentar lagi. Tunggu azan Isya.”

Dari dalam rumah, suara televisi pelan menyiarkan ceramah Ramadan. Bau minyak kayu putih samar tercium. Ibu tadi sempat menggosokkannya ke lututnya yang sering nyeri jika terlalu lama berdiri.

Raka memperhatikan ibunya diam-diam. Langkah Ibu beberapa hari ini lebih pelan. Saat bangun sahur pun, Ibu sering memegang dada sebentar sebelum berdiri.

“Ibu capek?” tanya Raka tiba-tiba.

Ibu menoleh. “Capek bagaimana?”

Tarawih dan witir dua puluh tiga rakaat setiap malam … belum lagi siangnya masak, beres-beres.”

Ibu terkekeh kecil. “Kalau capek karena ibadah, itu rasanya nikmat, Nak.”

Raka ingin membantah, tapi ia hanya menarik napas panjang. Dari masjid terdengar azan Isya menggema, menggetarkan udara malam yang dingin.

“Sudah waktunya,” ucap Ibu pelan.

Ia berdiri perlahan, merapikan mukenanya. Raka memapahnya menuruni dua anak tangga kecil di depan rumah. Lampu-lampu rumah tetangga juga mulai padam satu per satu, tanda mereka berangkat ke masjid.

Jalan gang itu sempit, hanya cukup untuk satu mobil. Di kanan kiri, rumah-rumah berdempetan dengan pagar rendah. Anak-anak kecil berlari mendahului orang tua mereka, peci miring dan sarung sedikit terseret.

“Assalamu’alaikum, Bu,” sapa Bu Lina, tetangga sebelah, sambil tersenyum.

“Wa’alaikumussalam,” jawab Ibu.

“Masih semangat, ya, Bu. Tinggal beberapa malam lagi.”

Ibu mengangguk. “Insya Allah, Bu Lina. Alhamdulillah, masih Allah anugerahi kesempatan beribadah.”

***

Masjid Al-Ikhlas berdiri sederhana dengan dinding krem dan kubah kecil berwarna hijau. Lampu-lampu neon di serambi menyala terang. Di dalam, karpet merah terbentang rapi, beraroma khas yang bercampur dengan wangi sabun dari tempat wudhu.

Ibu mengambil wudhu perlahan. Air dingin mengalir di sela jarinya. Ia mengusap wajah dengan hati-hati, lalu menatap pantulan dirinya di keran baja yang mengilap. Di dalam masjid, saf perempuan sudah mulai terisi. Ibu memilih tempat di saf kedua dari depan, seperti biasanya. Di sebelahnya, Bu Lina membentangkan mukena birunya.

Raka berdiri di saf laki-laki, beberapa baris di belakang imam. Sengaja memilih tempat yang tak begitu jauh dari pembatas antara saf perempuan dan laki-laki agar bisa melihat punggung Ibu yang sedikit membungkuk melalui celah besi pembatas yang tidak tertutup sempurna.

Salat Isya dimulai. Takbir imam menggema. Bacaan ayat-ayat suci mengalir panjang dan tenang. Setelah Isya, salat tarawih pun dimulai. Dua rakaat pertama berjalan lancar. Ibu berdiri tegak, tangannya terlipat di dada. Sesekali ia memindahkan berat badan, mungkin karena lututnya mulai terasa.

Pada rakaat keempat, Raka melihat Ibu duduk lebih lama setelah sujud. Bu Lina menoleh sebentar, tapi Ibu mengangguk kecil, tanda ia baik-baik saja. Tarawih malam itu terasa lebih khusyuk. Imam membaca surat yang panjang, suaranya berat dan bergetar. Angin malam masuk melalui jendela-jendela yang terbuka, membuat ujung mukena dan sarung sedikit berkibar.

Raka mencoba fokus pada bacaan, tapi pikirannya sesekali melayang ke arah Ibu. Ia teringat sore tadi ketika Ibu memegang dadanya sebentar setelah menaiki tangga. Raka menunduk dalam sujud, dahinya menyentuh karpet yang hangat oleh tubuh-tubuh yang beribadah.

Rakaat demi rakaat berlalu. Memasuki rakaat terakhir, imam membaca dengan suara lebih pelan. Suasana masjid begitu hening. Bahkan anak-anak kecil di serambi pun sudah terdiam. Ibu berdiri untuk rakaat terakhir itu. Tangannya terangkat saat takbir, sedikit gemetar namun mantap. Ia membaca Al-Fatihah dengan lirih, bibirnya bergerak pelan.

Ketika rukuk, punggungnya sedikit bergetar. Saat berdiri kembali, napasnya terdengar lebih berat. Bu Lina melirik sekilas, tapi Ibu tetap melanjutkan gerakan.

Lalu imam mengucap, “Allahu Akbar,” untuk sujud terakhir.

Ibu menurunkan tubuhnya perlahan. Dahi menyentuh karpet. Kedua tangannya terbuka di sisi kepala. Mukena putihnya menyebar seperti sayap kecil di atas karpet merah. Raka menempelkan dahinya ke lantai. Ia merasakan detak jantungnya sendiri berdentum di telinga. Beberapa detik berlalu. Imam bangkit dari sujud. “Allahu Akbar.”

Makmum mengikuti. Tubuh-tubuh bangkit serempak. Hingga salam, tubuh ibu tetap telungkup dalam posisi sujud.

Bu Lina menoleh. “Bu?” bisiknya pelan.

Ibu tidak bergerak.

Bu Lina menyentuh bahunya pelan. “Bu Siti …,”

Tak ada jawaban. Suara bisik-bisik mulai terdengar dari saf perempuan. Setelah imam selesai membaca doa, suasana masjid yang tadinya tenang berubah. Beberapa perempuan mendekat. Seseorang memanggil pengurus masjid.

Raka berbalik cepat. Ia melihat kerumunan di saf perempuan. Jantungnya seperti berhenti sejenak.

“Ibu!” panggilnya, berusaha mendekat.

Seorang bapak menahan bahunya. “Sabar, Nak. Biarkan ibu-ibu yang memeriksa keadaan di dalam.”

Tapi Raka sudah melangkah masuk, melintasi batas saf. Ibu masih dalam posisi sujud. Wajahnya tersembunyi di balik mukena. Bu Lina menangis pelan.

“Baru saja sujud … tidak bangun lagi,” ucapnya terbata.

Pengurus masjid memeriksa nadi di pergelangan tangan Ibu. Lalu di lehernya. Wajahnya berubah sendu.

“Innalillahi …” ucapnya lirih.

Raka berlutut di samping Ibu. Tangannya gemetar ketika menyentuh punggung Ibu. Hangatnya masih terasa.

“Ibu … bangun, Bu,” bisiknya.

Tak ada gerakan. Mukena putih itu tetap diam, seperti kain yang tak lagi menutupi napas. Air mata Raka jatuh ke karpet. Ia tidak berteriak. Tidak histeris. Hanya napasnya yang tersengal, seperti anak kecil yang kehilangan arah.

Beberapa orang membantu mengangkat tubuh Ibu perlahan. Wajahnya kini terlihat. Tenang. Bibirnya sedikit melengkung, seperti menyimpan senyum tipis. Raka menatap wajah itu lama. Ia menunggu dada itu naik turun. Tapi yang ia temukan hanya keheningan.

Malam itu, rumah kecil bercat hijau pucat dipenuhi orang. Lampu-lampu menyala terang. Suara lantunan Al-Qur’an menggema dari ruang tamu. Ibu terbaring di tengah ruangan, diselimuti kain putih. Wajahnya terbuka, tampak damai. Beberapa tetangga perempuan duduk di sampingnya, membaca doa dengan suara pelan. Raka duduk di sudut ruangan, bersandar pada dinding. Peci masih melekat di kepalanya. Tangannya menggenggam tasbih milik Ibu.

Bu Lina mendekat. “Raka, ibumu orang baik. Perginya di rumah Allah.” Raka mengangguk pelan. Ia menatap jemari Ibu yang kini terlipat rapi di atas dada.

Setelah pemakaman, rumah kembali sepi. Karpet ruang tamu masih tergulung setengah. Bau tanah basah menempel di pakaian Raka. Ia masuk ke kamar Ibu. Mukena putih tergantung di balik pintu. Di meja kecil, Al-Qur’an terbuka dengan pembatas kain di antara halaman-halamannya. Raka duduk di tepi tempat tidur. Ia menyentuh lipatan selimut yang masih rapi.

Malam berikutnya, azan Isya kembali berkumandang. Raka berdiri di teras, menatap jalan gang yang sama. Lampu-lampu rumah kembali padam satu per satu. Ia mengambil peci, memakainya perlahan. Raka berdiri di saf tepat belakang imam. Ketika imam mengucap takbir, ia mengangkat tangan dengan mantap.

Sementara itu, di saf perempuan, saf tempat ibunya berpulang kemarin telah terisi oleh jamaah lain. Namun di hati Raka, saf itu tetap mengingatkannya pada sujud terakhir sang Ibu yang selalu terpatri sebagai doa yang menggantung di langit malam Ramadan, bersama takbir dan air mata yang jatuh tanpa suara.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak