Sarimbitan: Seni Menyamarkan Cicilan di Balik Baju Kembaran

M. Reza Sulaiman | Yayang Nanda Budiman
Sarimbitan: Seni Menyamarkan Cicilan di Balik Baju Kembaran
Ilustrasi ChatGPT mengabadikan momen lebaran dengan foto atau video [Suara.com/Muhammad Yunus]

Setiap Lebaran, linimasa media sosial dipenuhi foto keluarga dengan busana seragam. Warna senada, model terkoordinasi, latar ruang tamu yang rapi, dan senyum yang serempak. Foto itu seolah menjadi representasi ideal tentang kebersamaan, harmoni, dan keberhasilan keluarga menjaga tradisi. Namun, di balik estetika visual tersebut, terselip realitas sosial yang lebih kompleks.

Busana seragam keluarga bukan sekadar pilihan gaya. Ia adalah simbol kohesi dan identitas. Mengenakan warna dan model yang sama menghadirkan kesan kompak, setara, dan harmonis. Dalam konteks budaya Lebaran, ia menegaskan pesan bahwa keluarga adalah satu kesatuan utuh. Namun, simbol itu juga dapat menyamarkan perbedaan kondisi ekonomi, beban finansial, dan ketimpangan akses yang dialami masing-masing anggota keluarga maupun masyarakat luas.

Fenomena ini mengajak kita melihat Lebaran tidak hanya sebagai perayaan spiritual, tetapi juga sebagai panggung sosial tempat identitas dan status dipertontonkan.

Estetika Harmoni dan Tekanan Sosial

Industri fesyen Lebaran berkembang pesat dalam satu dekade terakhir. Berbagai merek lokal hingga desainer ternama meluncurkan koleksi khusus keluarga. Konsep family set dipasarkan sebagai simbol kehangatan dan kekinian. Diskon dan promosi menjelang hari raya mendorong keluarga untuk berpartisipasi dalam tren tersebut.

Di satu sisi, tidak ada yang keliru dari keinginan tampil rapi dan kompak. Ia bisa menjadi bentuk ekspresi kegembiraan. Namun, dalam praktikya, muncul tekanan sosial yang tidak selalu disadari. Ketika foto keluarga seragam menjadi standar visual di media sosial, keluarga yang tidak mampu mengikuti tren bisa merasa tertinggal.

Perbandingan sosial di ruang digital berlangsung cepat dan masif. Algoritma memperkuat citra keluarga ideal dengan pakaian serasi dan rumah tertata apik. Realitas tentang pekerjaan informal, penghasilan pas-pasan, atau konflik internal keluarga jarang mendapat ruang. Ketimpangan sosial menjadi kabur di balik filter dan pencahayaan yang baik.

Bagi sebagian keluarga, membeli busana seragam memerlukan alokasi dana khusus. Pengeluaran ini sering datang bersamaan dengan kebutuhan lain seperti mudik, zakat, dan konsumsi Lebaran. Tidak sedikit yang memanfaatkan fasilitas cicilan digital demi memenuhi ekspektasi visual tersebut. Dalam konteks ini, harmoni yang ditampilkan dapat dibangun di atas kompromi finansial.

Representasi dan Ketidaksetaraan

Foto keluarga seragam juga menyimpan persoalan representasi. Ia menghadirkan gambaran tentang keluarga inti yang utuh, lengkap dengan ayah, ibu, dan anak-anak. Padahal, struktur keluarga di masyarakat jauh lebih beragam. Ada keluarga dengan orang tua tunggal, kakek-nenek sebagai pengasuh utama, atau anggota keluarga yang merantau dan tak bisa hadir.

Ketika standar visual tertentu mendominasi, bentuk keluarga lain berpotensi terpinggirkan. Mereka yang tidak sesuai dengan citra ideal mungkin merasa kurang atau berbeda. Padahal, esensi Lebaran adalah penerimaan dan saling menguatkan.

Lebih jauh, ketimpangan sosial juga tercermin dalam latar belakang foto. Rumah luas dengan dekorasi elegan sering menjadi panggung utama. Sementara keluarga yang tinggal di ruang sempit atau kontrakan sederhana mungkin enggan mengunggah momen kebersamaannya. Publik akhirnya disuguhi narasi visual yang cenderung homogen dan kelas menengah.

Di sinilah pentingnya kesadaran kritis. Foto keluarga adalah potret satu momen, bukan gambaran utuh kehidupan. Ia merekam senyum, bukan keseluruhan cerita. Di balik busana seragam bisa jadi ada anggota keluarga yang sedang menghadapi tekanan pekerjaan, persoalan kesehatan, atau kesulitan ekonomi.

Menemukan Makna di Luar Seragam

Lebaran sejatinya mengajarkan kesederhanaan dan empati. Keseragaman busana seharusnya tidak menjadi ukuran kedekatan emosional. Keluarga dapat kompak tanpa harus identik secara visual. Kehangatan bisa tumbuh dari percakapan yang jujur, saling memaafkan, dan berbagi perhatian.

Menyadari ketimpangan sosial di balik foto keluarga seragam bukan berarti menolak tradisi tersebut. Ia adalah ajakan untuk melihat lebih dalam dan tidak terjebak pada permukaan. Jika foto menjadi medium berbagi kebahagiaan, maka kebahagiaan itu hendaknya tidak dibangun di atas tekanan atau rasa kurang.

Media sosial dapat dimanfaatkan untuk memperluas definisi keluarga bahagia. Menampilkan keberagaman bentuk keluarga, latar sosial, dan gaya hidup akan memperkaya narasi publik. Dengan demikian, ruang digital tidak hanya menjadi etalase kesempurnaan, tetapi juga ruang solidaritas.

Pada akhirnya, yang membuat sebuah foto Lebaran bermakna bukanlah keseragaman warna atau kemewahan latarnya, melainkan relasi di antara orang-orang di dalamnya. Ketimpangan sosial memang nyata dan tidak hilang hanya karena tertutup busana senada. Namun, dengan kesadaran dan empati, Lebaran dapat menjadi momentum untuk menyeimbangkan kembali antara tampilan dan substansi, antara simbol dan kenyataan.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak