News
Tak Sekadar Game Anak, Roblox Jadi Wadah Kompetisi Musik dan Ruang Berkarya
Selama ini Roblox kerap dipandang sebagai permainan yang identik dengan anak-anak. Namun di balik citra tersebut, sejumlah komunitas justru memanfaatkan platform ini sebagai ruang untuk berkarya, membangun relasi, hingga mengembangkan bakat. Salah satunya adalah The Rompies, komunitas berbasis Roblox yang aktif menggelar berbagai kegiatan kreatif, termasuk kompetisi musik virtual.
Melalui ajang The Rompitate Season 2, The Rompies menghadirkan kompetisi menyanyi yang berhasil menarik hampir 100 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam wawancara bersama YourSay pada Jumat (29/5/2026), Ketua Komunitas The Rompies sekaligus penyelenggara acara, Steve, mengungkapkan bahwa ide kompetisi tersebut berangkat dari banyaknya talenta bernyanyi yang ia temui di komunitas Roblox.
"Banyak orang-orang dengan materi bernyanyi yang sangat bagus di Roblox. Kenapa tidak kalau kita membuat kompetisi bernyanyi untuk mereka?" ujar Steve.
Menurutnya, Roblox tidak hanya menjadi tempat bermain, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana berekspresi dan mengembangkan potensi diri. Kehadiran avatar serta interaksi virtual membuat banyak orang merasa lebih nyaman untuk menunjukkan kemampuan mereka.
Pandangan serupa disampaikan oleh Libra yang bertugas sebagai Assistant Producer dalam penyelenggaraan The Rompitate Season 2. Ia menilai masih banyak masyarakat yang hanya melihat Roblox sebagai game semata tanpa mengetahui berbagai aktivitas kreatif yang berkembang di dalamnya.
"Banyak orang yang hanya melihat permukaannya saja. Padahal di Roblox ada yang bermusik, membuat event, mendesain, hingga mengembangkan game," kata Libra.
Menurut Libra, Roblox saat ini telah berkembang menjadi ruang yang mempertemukan berbagai komunitas dengan minat yang beragam. Karena itu, ia berharap masyarakat dapat melihat platform tersebut secara lebih luas dan tidak hanya dari sisi hiburannya.
Selain menjadi wadah berkarya, kompetisi musik virtual juga memberikan kesempatan bagi banyak orang untuk membangun kepercayaan diri. Hal tersebut dirasakan langsung oleh Nana, salah satu finalis The Rompitate Season 2.
"Kita lebih berani tampil karena tidak terlihat secara langsung," ujarnya.
Nana menjelaskan bahwa penggunaan avatar membuat peserta lebih nyaman saat bernyanyi. Bagi sebagian orang yang masih malu tampil di depan umum, dunia virtual justru dapat menjadi langkah awal untuk mulai menunjukkan kemampuan mereka.
Hal senada disampaikan finalis lainnya, Seth. Menurutnya, kompetisi musik virtual bisa menjadi ruang yang aman bagi mereka yang ingin mengembangkan kemampuan bernyanyi sebelum tampil di panggung secara langsung.
"Demam panggung sangat minim walaupun deg-degannya tetap ada," kata Seth.
Menariknya, The Rompitate Season 2 tidak hanya berfokus pada perebutan gelar juara. Panitia juga memberikan berbagai masukan dan pembelajaran kepada peserta, mulai dari kualitas audio hingga evaluasi penampilan saat bernyanyi.
Steve menegaskan bahwa nilai utama yang ingin diberikan melalui kompetisi ini bukan hanya hadiah, melainkan pengalaman dan pengetahuan yang dapat membantu peserta berkembang.
"Bukan cuma datang, nyanyi, lalu dapat hadiah. Kami ingin peserta juga mendapatkan ilmu," tuturnya.
Melalui The Rompitate Season 2, The Rompies berharap semakin banyak anak muda berani menunjukkan bakat dan kreativitasnya, termasuk melalui platform digital. Kehadiran komunitas ini menjadi bukti bahwa Roblox dapat dimanfaatkan lebih dari sekadar permainan, melainkan juga sebagai ruang belajar, berekspresi, dan bertumbuh bagi generasi muda yang memiliki minat di bidang musik dan kreativitas digital.