News

Bye-bye Velocity! Mengapa Tren "Natural" D'Masiv Gantikan "Dung Tak Dung" di Momen Ramadan 2026

Bye-bye Velocity! Mengapa Tren "Natural" D'Masiv Gantikan "Dung Tak Dung" di Momen Ramadan 2026
Tangkapan layar VT (TikTok/abidahebie)

Akhir-akhir ini buka TikTok rasanya belum lengkap kalau belum ketemu transisi video estetik dengan backsound lagu Natural dari d’Masiv. Lagu itu terngiang-ngiang terus di kepala setiap kali lewat. Ini kasusnya mirip dengan lagu Stecu-stecu dan Tabola-bale yang seolah menolak keluar dari memori kita.

Tapi di tengah ribuan video yang lewat, ada satu nama yang selalu jadi standar emas netizen. Yap, Jessica Jane. Banyak sekali ditemukan dalam kolom komentar, bahkan bukan di laman akunnya, mulai dari “Nggak ada yang ngalahin editor Jessica Jane” sampai seruan buat naikin gaji editornya.

Kualitas visual yang ditawarkan memang sangat bagus dan eye catching. Ketukan lagunya juga sinkron dengan visual tersebut, sehingga membuat tren ini tidak hanya enak didengar, tapi juga memanjakan mata.

Tren ini membuktikan bahwa lagu rilisan tahun 2012 juga bisa jadi sangat fresh kalau bertemu dengan tangan-tangan kreatif, ditambah aransemen jedag-jedug yang khas. Rasanya kaya Gen Z abis, Gen Z pentok.

Awalnya, lagu ini adalah bagian dari album ketiga d’Masiv bertajuk Persiapan (2012). Pesannya sederhana tapi punya maknya yang mendalam. Cinta yang tulus itu akan datang secara alami tanpa paksaan. Kira-kira begitulah jika diartikan.

Namun di tahun 2026 ini, makna tersebut bergeser menjadi simbol kebersamaan yang santai. Kenapa bisa begitu? Karena lagu ini menjadi latar suara ribuan video random, mulai dari pamer barang lucu di toko, jalan-jalan ke tempat wisata sampai keseruan momen buka puasa bersama (bukber) teman-teman.

Tren Bukber 2026

Tren backsound Natural 2026 ini seolah menjadi pergeseran dari era Velocity yang meledak di bulan Ramadan tahun lalu. Semua orang sampai berlomba-lomba membuat video “dung tak dung dung tak” dan menghafalkannya setengah mati.

Tahun ini, kuncinya ajakan. Tren backsound Natural dipadukan dengan sisipan “ayo ayo ayo” di awal video, membuat video TikTok (VT) terasa lebih hidup dan personal.

Contohnya ada yang memimpin dengan celetukan: "Bukber!" lalu dijawab banyak orang di belakangnya: "ayo ayo ayo". Pergeseran ini membuktikan bahwa audiens tahun 2026 lebih menyukai konten yang punya nyawa dan interaksi spontan.

Kenapa "Natural" Begitu Candu?

Banyak dari kita merasa lagu ini menjadi earworm, alias terngiang-ngiang terus di kepala. Ternyata, ada penjelasan ilmiah di baliknya. Penelitian dari Harvard Health Publishing menyatakan bahwa lagu dengan kontur melodi yang cepat dan sederhana cenderung lebih besar kemungkinannya menjadi earworm.

Selain kesederhanaannya, Natural juga memiliki interval nada yang unik. Keunikan inilah yang membuat otak kita lebih mudah mencatatnya ke dalam memori, dibandingkan lagu dengan struktur standar yang membosankan. Apalagi di TikTok yang biasanya hanya berupa potongan dengan durasi 30 detik secara berulang-ulang. Inilah yang justru bisa membuat otak kita terjebak dalam memori yang tidak tuntas.

Cara Menghentikan Putaran Lagu di Kepala

Jika kamu merasa terganggu karena lagu ini terus berputar saat sedang mencoba fokus, para ahli menyarankan solusi simpel: dengarkan lagunya sampai habis. Dengan mendengarkan versi utuhnya secara sadar, kamu memberikan penyelesaian atau closure bagi otak, sehingga siklus earworm tersebut bisa berhenti.

Namun, melihat betapa asyiknya aransemen baru ini dipadukan dengan momen hangat Ramadan, sepertinya banyak orang justru tidak keberatan terjebak dalam melodi Natural. Lagu lama dengan rasa baru ini membuktikan bahwa karya yang berkualitas akan selalu menemukan jalannya untuk kembali relevan secara alami.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda