News
Eco Parenting, Cara Sederhana Menumbuhkan Kepedulian Lingkungan pada Anak
Krisis lingkungan yang semakin terasa hari ini membuat upaya pelestarian alam tidak lagi cukup dibebankan pada perubahan kebijakan atau perilaku orang dewasa semata. Pembentukan kebiasaan yang lebih ramah lingkungan juga perlu dimulai sejak usia dini, dan keluarga menjadi ruang pertama yang memiliki peran penting dalam proses tersebut. Salah satu pendekatan yang mulai banyak diperkenalkan adalah eco parenting atau pola asuh yang menanamkan kepedulian terhadap lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Keluarga sebagai ruang belajar pertama tentang lingkungan
Konsep eco parenting berangkat dari pemahaman bahwa keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak. Cara orang tua menggunakan listrik, mengelola sampah, memilih barang konsumsi, hingga memperlakukan alam menjadi pengalaman awal yang membentuk cara anak memahami dunia di sekitarnya.
Hal ini sejalan dengan temuan penelitian “Eco Family: Metode Parenting Anak Usia Dini untuk Membentuk Generasi Literasi Lingkungan”. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam membangun literasi lingkungan anak melalui kebiasaan yang dilakukan secara konsisten di rumah.
Literasi lingkungan tidak hanya dimaknai sebagai pengetahuan mengenai isu lingkungan, tetapi juga mencakup kesadaran, sikap, dan kemampuan mengambil keputusan yang lebih bertanggung jawab terhadap alam. Dengan kata lain, anak tidak sekadar mengetahui bahwa membuang sampah sembarangan itu salah, tetapi juga memahami alasan dan dampaknya terhadap lingkungan.
Eco parenting tidak harus dimulai dari langkah besar
Dalam praktiknya, eco parenting tidak harus diwujudkan melalui aktivitas yang rumit atau membutuhkan biaya besar. Pendekatan ini justru menekankan pembelajaran melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara berulang.
Berdasarkan panduan UNICEF (22/6/2026), bentuk aktivitas dapat disesuaikan dengan usia anak. Pada usia 4–6 tahun, anak dapat mulai dikenalkan pada kebiasaan mematikan lampu ketika tidak digunakan, merawat tanaman, atau menggunakan kembali barang yang masih layak pakai seperti mainan dan pakaian.
Memasuki usia 7–12 tahun, anak dapat diajak pada aktivitas yang lebih aktif, seperti menanam, memilah sampah berdasarkan jenisnya, membuat barang dari material bekas, hingga mengikuti kegiatan bersih-bersih di lingkungan sekitar.
Sementara itu, anak usia 13–16 tahun mulai dapat dilibatkan dalam diskusi yang lebih kompleks, misalnya mengenai perubahan iklim, dampak pola konsumsi terhadap lingkungan, serta keterlibatan dalam aksi sosial atau kampanye lingkungan.
Pendekatan bertahap tersebut penting karena membantu anak memahami bahwa keputusan sehari-hari—sekecil apa pun—memiliki konsekuensi terhadap lingkungan.
Tantangan membangun literasi lingkungan anak di Indonesia
Meski demikian, membangun literasi lingkungan sejak dini masih menjadi tantangan di Indonesia.
Penelitian “Kepedulian Lingkungan melalui Literasi Lingkungan pada Anak Usia Dini” yang melibatkan 50 anak berusia 4–6 tahun menunjukkan tingkat literasi dan kepedulian lingkungan yang masih tergolong rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan belum menjadi bagian yang cukup kuat dalam keseharian anak.
Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan yang dibentuk sejak masa kanak-kanak memiliki peluang lebih besar untuk bertahan hingga dewasa.
Karena itu, eco parenting tidak perlu dipahami sebagai tuntutan menjadi keluarga yang sepenuhnya bebas sampah atau selalu menjalani gaya hidup berkelanjutan secara sempurna. Yang lebih penting adalah menghadirkan kebiasaan kecil yang konsisten: membawa botol minum sendiri, menghemat listrik, merawat tanaman, atau membiasakan anak bertanya dari mana barang yang mereka gunakan berasal.
Penulis: Natasha Suhendra