News
Kemenhub Percepat Dekarbonisasi, LINTAS Jadi Ruang Diskusi Transportasi Berkelanjutan
Transportasi menjadi salah satu sektor yang memegang peran penting dalam upaya menekan emisi gas rumah kaca (dekarbonisasi) di Indonesia. Kesadaran akan isu ini menjadi salah satu topik yang dibahas dalam acara LINTAS (Ngobrolin Transportasi Bareng Komunitas), ruang temu bagi pemerintah dan komunitas untuk saling berbagi cerita, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai isu transportasi. Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Reza Hertantyo selaku Pelaksana Tugas Kepala Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan (PPTB) dan Arif Ardiansyah Susilo, content creator Government Public Relations.
Dalam sesi diskusi, isu perubahan iklim menjadi pembuka pembahasan. Masyarakat kini semakin sering merasakan cuaca yang tidak menentu, suhu udara yang lebih panas, hingga perubahan pola musim yang berdampak pada berbagai sektor, mulai dari kesehatan hingga pertanian. Kondisi tersebut mendorong perlunya upaya bersama untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, termasuk yang berasal dari sektor transportasi.
Reza Hertantyo menjelaskan bahwa berdasarkan hasil inventarisasi emisi gas rumah kaca yang dilakukan Kementerian Perhubungan bersama Kementerian Lingkungan Hidup, sektor transportasi darat menjadi penyumbang emisi terbesar dibandingkan moda transportasi lainnya. Temuan ini menjadi dasar bagi pemerintah untuk memperkuat berbagai kebijakan menuju sistem transportasi yang lebih ramah lingkungan.
"Berdasarkan data inventarisasi emisi gas rumah kaca yang sudah kami lakukan bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup, sebanyak 87% emisi transportasi itu berasal dari sektor transportasi darat," ujar Reza dalam acara LINTAS yang digelar di Antarasa Grand Kota Bintang, Bekasi, pada Jumat (17/7/2026).
Menurutnya, Kementerian Perhubungan telah menjalankan sejumlah langkah nyata untuk menekan emisi tersebut. Salah satunya adalah meningkatkan kualitas dan layanan angkutan massal agar semakin banyak masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. Selain itu, pemerintah juga mendorong pemanfaatan bahan bakar alternatif, termasuk penggunaan kendaraan bermotor listrik sebagai bagian dari transformasi menuju transportasi rendah emisi.
Upaya lain yang dilakukan adalah penerapan konservasi energi pada berbagai prasarana transportasi, seperti stasiun, terminal, pelabuhan, dan bandar udara. Efisiensi energi di berbagai fasilitas tersebut menjadi bagian dari strategi yang lebih luas untuk mendukung target nasional menuju Net Zero Emission.
![Acara LINTAS. [Dokumen Pribadi/Lintang Siltya Utami]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/18/39960-acara-lintas.jpg)
Reza menambahkan bahwa seluruh program tersebut akan diperkuat melalui penyusunan Peta Jalan Dekarbonisasi Transportasi Nasional. Dokumen tersebut diharapkan menjadi pedoman dalam pelaksanaan kebijakan transportasi berkelanjutan di Indonesia. Ia memastikan proses penyusunannya telah berjalan dan ditargetkan rampung pada tahun ini sehingga implementasi berbagai program dapat semakin terarah.
Pandangan serupa juga disampaikan Arif Ardiansyah Susilo. Sebagai pengguna aktif transportasi umum, ia menilai kebiasaan menggunakan angkutan massal merupakan bentuk kontribusi sederhana yang memberikan dampak besar bagi lingkungan. Menurutnya, banyak orang pada awalnya menggunakan transportasi umum karena kebutuhan atau keterbatasan akses, tetapi seiring waktu kebiasaan tersebut berkembang menjadi bagian dari gaya hidup.
Arif berharap pengembangan jaringan transportasi massal terus dilakukan agar semakin banyak masyarakat memiliki akses yang mudah menuju berbagai tujuan. Ia mencontohkan pengembangan MRT Jakarta yang akan diperpanjang hingga Jakarta Kota sebagai langkah yang dapat mendorong lebih banyak pengguna kendaraan pribadi beralih ke angkutan umum.
Ia juga mengajak masyarakat melihat besarnya dampak dari pilihan sehari-hari. Satu rangkaian KRL yang mampu mengangkut sekitar 1.500 hingga 2.000 penumpang pada jam sibuk dinilai mampu menggantikan ribuan perjalanan kendaraan pribadi. Apabila seluruh penumpang tersebut menggunakan mobil atau sepeda motor, jumlah emisi yang dihasilkan tentu akan jauh lebih besar.
Melalui diskusi di LINTAS, pemerintah dan masyarakat diingatkan bahwa upaya mengurangi emisi tidak hanya bergantung pada kebijakan, tetapi juga pada perubahan perilaku sehari-hari. Memilih transportasi umum, mendukung pengembangan angkutan massal, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya transportasi berkelanjutan menjadi langkah sederhana yang, jika dilakukan bersama-sama, dapat memberikan kontribusi nyata dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.