News
Tour de Les dan Perjuangan Bli Nyoman Mengubah Sepinya Bali Utara
15 tahun bukan waktu yang sebentar. Ya, rasanya sudah cukup lama saya nggak ke Bali, nyaris 15 tahun!
Tapi itu hanyalah soal waktu. Memori tentang udara hangat, suara ombak, dan aroma sate lilit dari warung-warung masih tersimpan apik di memori saya.
Selama beberapa tahun tinggal dan bekerja di Bali saya habiskan di wilayah Seminyak.
Pagi-pagi biasanya saya isi dengan nongkrong di kafe kecil sambil ngopi, siang hari di tempat kerja, waktu sore sering saya habiskan dengan menikmati udara segar di pantai sambil menunggu matahari terbenam yang warnanya bikin hati adem.
Ketika malam sering kali saya manfaatkan untuk istirahat. Sesekali ikut suasana ramai, atau kadang cuma jalan santai sambil beli jagung bakar. Semuanya adalah kenangan yang tak lekang oleh waktu.
Ya, meski tinggal selama berapa tahun di Bali, sayangnya waktu itu saya lebih fokus pada area bagian selatan Pulau Bali di mana banyak pantai seperti Pantai Kuta, Blue Point, Padang-Padang, Denpasar, dan tentu saja karena lokasi ini juga dekat dari bandara sehingga banyak hal-hal menarik yang ada di sana.
Sebenarnya, selain menikmati pantai-pantai indah di bagian selatan, saya juga kadang-kadang pergi ke bagian utara mengunjungi beberapa tempat menarik seperti Ubud, hingga Bedugul.
Menyesal sekali saya tidak meneruskan perjalanan ke pesisir utara. Karena di sana juga banyak sekali tempat-tempat indah dan pantai-pantai menarik yang belum banyak terjamah dan belum banyak dimaksimalkan sebagai objek wisata.
Penyesalan saya bertambah besar setelah melihat seorang local hero bernama Nyoman Nadiana, yang biasa dipanggil “Bli Nyoman.”
Kalau mengingat kembali perjalanan belasan tahun lalu, saya merasa agak konyol.
Kita kerap mengira Bali hanyalah deretan cafe estetik di pinggir tebing, barisan kafe kekinian di Canggu, atau tempat berkumpulnya orang-orang perkotaan yang sedang pamer gaya hidup santai di bawah pohon kelapa.
Kita merasa sudah paham Bali hanya karena hafal jalan tikus dari Seminyak ke Petitenget.
Padahal, jika mau memutar kemudi terus ke arah utara, melintasi belokan tajam Bedugul dan menembus dinginnya udara pegunungan hingga menyentuh garis pantai Buleleng, ada realitas lain yang sama sekali tidak jualan estetik “buatan.”
Di sana ada banyak desa-desa yang menarik, seperti Desa Les, sebuah desa tua Bali Mula yang jejak sejarahnya sudah bertunas sejak abad ke-9, jauh sebelum heboh-heboh ekspansi budaya besar melintasi Kepulauan Dewata.
Dan di tempat itulah Bli Nyoman, pria kelahiran 11 Februari 1987, memutuskan untuk mengabdikan diri bagi warga dan kampungnya.
Pulang untuk Membangun Desa

Sebelum menjadi motor penggerak desa, Bli Nyoman adalah salah satu dari ribuan pemuda Bali yang tersedot ke pusaran (Bali) selatan yang menjadi pusat wisata di Bali. Tak jauh seperti yang saya lakukan saat datang dulu.
Bedanya, ia bekerja sebagai pemandu wisata di antara hiruk pikuk jutaan turis, aroma pantai, dan persaingan sengit para pejuang rupiah di Kuta dan sekitarnya.
Sebagian besar orang mungkin akan bertahan sampai tak lagi berdaya, mengumpulkan sisa-sisa gaji demi membayar sewa kontrakan yang makin mahal.
Tapi Bli Nyoman tampaknya punya pandangan sendiri yang agak beda dari kebanyakan guide di Bali.
Dia berpikir, buat apa rebutan piring nasi yang makin mengecil di selatan, kalau di kampung halaman sendiri (di Utara) ada ladang luas yang belum digarap?
Bayangkan, desanya punya air terjun “Yeh Mampeh” yang jalurnya seperti membelah perbukitan, punya pesisir pantai dengan terumbu karang kuno, punya tradisi pengolahan garam palungan yang resepnya diwariskan dari era leluhur, serta deretan perajin gula juruh yang wanginya sungguh manis.
Tetapi Bli Nyoman tidak pulang dengan gaya bak pahlawan kesiangan yang langsung menyuruh warga mengubah sawah dan kebun menjadi resort berbintang.
Untuk menghidupkan desa ia membawakan konsep kota yang setengah dipaksakan.
Tapi bukan berarti saat kembali ke Les, dia sibuk bikin seminar modal nekat. Sebaliknya. Dia justru keliling desa, memperhatikan ibu-ibu menumbuk, memperhatikan bapak-bapak memanjat pohon kelapa untuk menyadap nira, atau menyuling arak tradisional, serta memperhatikan para petani garam yang mandi keringat di bawah terik matahari pesisir.
Sejak dulu bekerja di wilayah selatan, Bli Nyoman melabeli dirinya dengan branding “3P” yang cukup nyentrik, “Pedagang, Pemandu, Pejalan.”
Branding ini memang mewakili kesehariannya secara harfiah. Ia benar-benar naik sepeda motor, mengangkut garam palungan dan botol-botol gula juruh buatan ayahnya, lalu berjualan keliling Bali, sesekali blusukan hingga ke Banyuwangi dan Lombok.
Saat orang-orang menjajakan barang dengan presentasi PowerPoint super canggih, Bli Nyoman cuma berbekal mulut cuap-cuap dan kejujuran rasa.
Cara ini tentu saja sangat melelahkan dan merepotkan. Itulah yang kemudian memberikannya inspirasi. Daripada membawa garam ke luar desa, kenapa tidak membawa orang luar untuk melihat dari mana garam itu berasal?
“Menjual” Desa Lewat Tour de Les
Dari ide tersebut, lahirlah konsep Tour de Les. Jangan bayangkan ini acara sepeda balap internasional dengan sponsor pakaian ketat warna-warni.
Tour de Les adalah ajakan jalan kaki alias blusukan menyusuri pantai, melihat bagaimana nelayan mendaratkan perahu, lalu mengetuk pintu rumah-rumah warga secara acak.
Wisatawan diajak melihat proses pembuatan garam tradisional. Di Desa Les, pembuatan garam itu karya seni yang melelahkan. Air laut tidak langsung dijemur di atas plastik seperti peternak garam industri.
Air laut dituang dulu ke atas tanah khusus agar mineralnya terikat, lalu tanahnya dikerik dan dimasukkan ke dalam tinjung, sejenis wadah berbentuk kerucut yang terbuat dari anyaman yang dilapisi daun lontar, kerikil, dan pasir sebagai penyaring alami. Air tetesan dari tinjung itu dinamakan nyah atau biang garam. Nah, nyah inilah yang dijemur sampai mengkristal.
Dahulu, penjemuran dilakukan di atas palungan (batang pohon kelapa yang dikeruk). Sekarang, Bli Nyoman dan para petani menggunakan membran plastik.
Sekilas terdengar seperti merusak tradisi. Tapi jika ditelaah lebih jauh sebenarnya tidak demikian. Karena Bli Nyoman sebenarnya berpikir lebih realistis melihat cuaca makin tidak menentu akibat perubahan iklim global.
Kalau hujan mendadak turun dan garam masih di palungan kayu, yang terjadi adalah gagal panen.
Dengan membran, saat awan hitam mendung datang, membran tinggal dilipat cepat. Tradisinya tetap pada tanah dan tinjung, sedangkan penjemurannya beradaptasi dengan kondisi dan situasi serta mengikuti perkembangan zaman.
Apa yang dilakukan oleh Bli Nyoman untuk mengubah wajah desa sebenarnya sangat fleksibel, sehingga tak mengherankan apabila hal ini lambat laun menarik perhatian warga Desa.
Terlebih ketika program kolaborasi Desa Sejahtera Astra masuk ke Desa Les pada tahun 2024. Membuat potensi lokal di sana makin terarah lewat empat fokus pengembangan. Melalui program #DesaSejahteraAstra, Desa Les bisa berkembang dengan lebih pesat tanpa harus kehilangan.
Empat Pilar Desa Sejahtera Astra yang Bekerja Nyata
Kalau kita perhatikan, sering kali program pemberdayaan masyarakat di pedesaan terjebak pada acara seremonial potong pita dan potret senyum formalis. Tapi di tangan Bli Nyoman dan dukungan Astra, empat pilar pemberdayaan justru terasa lebih membumi dan alami.
Bidang kewirausahaan misalnya. Sebelum ada program ini, pemasaran garam palungan dan gula juruh mirip seperti main tebak-tebakan. Kalau ada pembeli ya syukur, kalau tidak ada ya disimpan di gudang.
Tapi lewat sinergi BUMDes Giri Segara dan jaringan Astra, rantai pasok kemudian dibenahi sedikit demi sedikit. Hingga terjalin kerja sama di tingkat Provinsi Bali yang berkomitmen menyerap garam palungan Desa Les sampai satu ton setiap bulannya.
Produk lokal yang tadinya cuma dipandang sebelah mata oleh wisatawan lokal, kini merambah dapur-dapur restoran papan atas. Ekonomi lebih dari 800 warga desa otomatis terkerek naik, dengan peningkatan pendapatan rata-rata mencapai 25 persen.
Kedua, di bidang pendidikan. Bli Nyoman tahu bahwa membawa turis asing ke desa tanpa membekali warga dengan kemampuan berkomunikasi bahasa Inggris akan membuat warga dan turis jadi canggung.
Maka, ia pun berinisiatif membuka kelas bahasa Inggris untuk anak-anak dan remaja desa. Bukan cuma itu, Bli Nyoman juga melatih anak-anak muda lokal untuk menjadi pemandu wisata.
Dia tidak ingin menjadi “pemeran tunggal” di desanya. Karena jika suatu hari fisiknya tak lagi sanggup memandu wisatawan untuk blusukan, maka harus ada generasi baru yang memegang tongkat estafet.
Ketiga, di bidang lingkungan. Pesisir Desa Les punya cerita kelam. Laut yang sekarang terlihat tenang dan bening itu pernah berada di titik kritis akibat penggunaan bahan kimia dan pengambilan karang yang tidak terkontrol di masa lalu.
Bli Nyoman bersama masyarakat kini telah ditampar oleh kenyataan yang membuat mereka sadar, jika karang mati, ikan pergi, dan pantai hancur, maka tak akan ada pariwisata.
Melalui gerakan “Les Grow,” warga bahu-membahu melakukan transplantasi dan konservasi terumbu karang. Di darat, pengelolaan sampah organik diolah menjadi kompos.
Bli Nyoman selalu menanamkan pemikiran tajam kepada warganya, apa yang kita buang di darat, akan kita makan kembali dari laut.
Keempat, di bidang kesehatan. Apa gunanya pariwisata maju jika angka stunting anak-anak desa masih tinggi?
Melalui pilar kesehatan, kegiatan Posyandu diperkuat, gizi ibu hamil dan balita dipantau ketat.
Wisatawan yang datang tidak hanya disuguhi pemandangan indah, tapi juga disajikan kuliner sehat berbasis bahan lokal seperti Nasi Telang dan Jukut Blok (pucuk daun labu muda dan singkong). Desa yang sejahtera adalah desa yang warganya sehat dari dalam rumahnya sendiri.
Kisah Bli Nyoman bersama warga Desa Les yang anda baca di #YoursayAstra ini adalah inspirasi positif bagi daerah-daerah lain di Indonesia.
Bukan Tempat Transit, Tapi Tujuan Utama
Puncak dari kerja keras kolektif yang diusung oleh Bli Nyoman ini membuahkan hasil manis ketika Desa Les berhasil menyabet predikat Juara Umum Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024.
Sebuah gelar yang sangat membanggakan, mengingat dulu, kondisi desa di ujung barat laut Bali ini sangat sepi. Tapi siapa sangka jika desa ini kini mampu mengungguli ribuan desa wisata lain di seluruh tanah air.
Tetapi kalau Anda bertanya pada Bli Nyoman, kemungkinan besar dia cuma akan tertawa lepas, menyuguhkan segelas kopi panas dan secangkir juruh manis, lalu mengajak Anda berjalan kaki melintasi ladang garam.
Gelar dan piala ADWI mungkin... bagus untuk dipajang di kantor desa, tapi buat Bli Nyoman, kemenangan sejati adalah saat petani garam tua masih bisa tersenyum bangga karena anaknya tidak malu meneruskan pekerjaan mengolah tanah dan air laut.
Mengingat kembali perjalanan saya 15 tahun lalu yang cuma bolak balik kayak setrikaan di Kuta dan Seminyak, rasanya saya seperti orang yang datang ke restoran mewah tapi cuma datang buat makan kerupuk.
Bali Utara, khususnya Desa Les, menawarkan sisi unik dari sebuah kemewahan pariwisata Bali. Kemewahan yang saya maksudkan adalah keharmonisan antara manusia, tradisi, dan alam yang dirawat dengan akal sehat.
Bli Nyoman telah membuktikan bahwa untuk menjadi berguna bagi nusa dan bangsa, seseorang tidak perlu menjadi pejabat tinggi atau berjas rapi.
Cukup dengan menolak menjadi penonton di rumah sendiri, mencintai apa yang ada di sekeliling kita, dan memiliki keberanian untuk mengeksekusi ide-ide meski dianggap hanya ide sederhana.
Di tangan orang-orang yang peduli seperti Bli Nyoman, desa tidak lagi menjadi tempat yang selalu ditinggal pergi, melainkan sebuah masa depan yang akan selalu dirindukan.